Suara di sekeliling terlalu sunyi, bau segar yang menenangkan dari aroma terapi mengental di udara. Ia harus mengeratkan genggaman tangan agar tidak terlampau masuk pada ruang kesendirian yang semakin dalam.
Ini terlalu luar biasa. Kemarin malam ia dibawa dengan penuh tekad hanya karena sang suami tak bisa menerima saran dari ibu dan kakaknya, melalui malam penuh rasa bersalah dan usaha untuk terbiasa dengan rumah yang akan ditempati untuk waktu lebih lama, mungkin. Sebelum semua bertambah buruk karena ternyata justru Jungkooklah yang akhirnya membawa Tzuyu ke tempat ini.
Tzuyu masih diam, setengah menunduk menatap kaktus kecil yang ada di atas meja kerja berwarna hitam milik seseorang yang baru ditemuinya. Berada di dalam ruangan konsultasi dengan seorang ahli jiwa bukanlah hal mudah. Tzuyu tidak membencinya, tetapi fakta bahwa keberadaannya sekarang adalah bukti tak ada satu pun orang yang percaya menjadi pukulan paling keras yang ia dapatkan sekarang.
Suara helaan napas pelan membuatnya mengedipkan mata, memberi pelumas bagi kedua manik cantik yang sejak tadi dipaksa untuk bersama merasakan perih di hatinya. Sekali lagi Tzuyu menatap sebuah papan nama yang ada di atas meja, membuat sekali lagi ia disadarkan bahwa ini bukan hanya mimpi belaka.
"Tzuyu-Ssi?"
Tzuyu sangat ingin mendongak, atau bahkan menangis dan mengatakan bahwa keberadaannya di sini bukan hal yang ia inginkan--tidak, lebih tepatnya hal yang tidak ia harapkan. Kepalanya terangkat, menemukan sebuah wajah yang sama sekali tak mengeluarkan ekspresi lebih selain senyum profesionalisme yang ditunjukan.
"Suamimu pasti telah menunggu dengan penuh rasa cemas, apa kau ingin mengatakan sesuatu?" tanyanya lagi membuat mata Tzuyu dengan cepat memanas. Gadis itu menelan salivanya berusaha mencari kata yang tak kunjung ia temukan.
Lelaki asing yang berada di depan Tzuyu kini mengarahkan pandangan pada kedua tangan gadis yang masih betah diam. Melihat bagaimana ia meremat kuat kedua jemarinya membuat lelaki itu kembali menatap wajah Tzuyu.
"Aku akan mendengarkan," ucapnya lagi menyingkirkan beberapa berkas yang sejak tadi berada di bawah tumpukan tangannya. Tzuyu melihat itu, melihat lagi senyuman yang seolah meyakinkan bahwa semua rahasianya akan aman. "Katakanlah apa yang ingin kau katakan."
Tzuyu memejamkan mata, berusaha mengingat lagi semua yang ia lihat dan alami sebelum akhirnya menatap lekat pada sang ahli yang menganggukkan kepalanya pasti.
"Menurutmu, apakah makhluk halus benar-benar ada?"
Samar, terjadi perubahan mikroekspresi dari wajah lelaki tersebut, senyuman yang berganti menjadi tarikan garis lurus, kedua alis yang sedikit ke atas dan pupil mata yang mengecil. Ah, jangan lupakan bahwa pandangannya menjadi lebih tajam.
Tzuyu mungkin tidak tahu lebih banyak, tapi ia bukan orang bodoh. Bolehkah ia katakan sesuai tanda yang dilihatnya bahwa orang ini tidak suka?
"Sebelumnya, orang-orang bertanya padaku tentang pendapat atau solusi, tapi kau bertanya sedikit lebih--tapi tidak masalah, akan aku jawab," lelaki itu sedikit berbasa-basi membuat Tzuyu semakin diam, "Sebelumnya, aku harus tau, kau bertanya secara pribadi atau profesi?"
Kembali, Tzuyu memejamkan matanya, menekan semua rasa yang berkecamuk dalam dada.
"Yang aku tau, profesi kalian tidak bisa memercayai hal itu sebagai salah satu penyebab atau pendukung, tetapi suatu tanda dan gejala yang mungkin dialami oleh orang-orang yang datang untuk meminta bantuan kalian."
"Dan kau mengalaminya?"
"Aku tidak akan datang jika hal itu tak terjadi."
Suara tawa hambar terdengar, entah sadar atau tidak lelaki itu menilai bahwa pembicaraannya dengan Tzuyu mulai menarik.
KAMU SEDANG MEMBACA
Portrayal [COMPLETED]
FanfictionAwalnya Tzuyu menganggap semua kehidupannya mulai menapaki kata sempurna. Menikahi pria idaman yang sangat ia cintai, mendapatkan keluarga baru yang menerimanya sangat baik hingga keberhasilan karir yang dicapai sang suami mulai merambah ke titik pu...
![Portrayal [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/199928065-64-k931695.jpg)