19# Aku dan Dia

675 129 14
                                        

Hujan mulai turun, menderas secara perlahan. Kilat yang disusul suara petir membuat Tzuyu menutup tirai yang menutupi jendela. Helaan napas kasar menjadi hal pertama yang ia lakukan.

Masih berdiri di depan jendela, Tzuyu menatap bagaimana ribuan air menyerbu jalanan di bawah sana. Kini, tatapannya melekat pada satu bulir di kaca jendela, perlahan membesar dan jatuh, tergantikan dengan bulir yang baru.

Ini baru jam sebelas siang dan Tzuyu berencana untuk pergi ke panti setelah tadi pagi meminta izin pada suaminya. Namun, itu semua harus kandas karena hujan besar yang sudah lebih dulu mematahkan acaranya hari ini.

Wanita itu meraih ponsel dari tas selempang yang masih menyampir di salah satu pundak, mengetikkan sesuatu secara cepat.

[Aku tidak jadi berangkat]

Tzuyu menghela lagi napas, setidaknya itu bisa mengurangi kekhawatiran dari suaminya. Sebab Tzuyu yakin bahwa Jungkook pasti sedang merasa gelisah sekarang.

"Satu masalah sudah selesai." Tzuyu berjalan menjauh, mendudukkan dirinya di sofa dengan atensi yang masih melekat pada kaca yang mulai berembun. "Apa yang akan aku lakukan sekarang?"

"Tzuyu..."

Tubuh Tzuyu menegak, seiring dengan kepala yang kini menoleh seolah memutar dengan perlahan, menatap tepat ke arah lukisan yang memantulkan cahaya kilat dari luar ruangan.

"Tzuyu..."

Ia menjatuhkan tali tas dari bahunya, berjalan begitu saja dan berdiri tepat di hadapan lukisan. Tidak ada yang Tzuyu lakukan, selain diam menatapnya, menyusuri setiap inci dan berakhir kembali pada wajah wanita di dalam sana.

Tzuyu tersenyum, kemudian membelai permukaan lukisan tersebut.

"Apakah aku mengunjungimu sekarang saja?" entah menanggapi apa dan siapa, tapi sekarang Tzuyu mengangguk. Berjalan ke arah berlawanan dan menuju ke salah satu pintu di apartemennya. "Baiklah kalau begitu."

Derit pintu mulai terdengar, menampakkan ruangan gelap dengan pengap yang teramat pekat. Mata Tzuyu menyapu ke setiap sisi, lalu terpaku pada kursi kayu yang terlihat memisahkan diri dari barang lain yang ada di sini.

Tzuyu melepas flat shoes yang ia kenakan. Menapaki lantai berdebu menuju kursi yang sekarang mulai bergerak perlahan ke depan dan belakang, seolah baru saja diduduki oleh seseorang.

Ia masih diam, berdiri menatap kursi di depannya yang masih terus bergoyang. Lalu, saat tak ada lagi pergerakan dari kursi tersebut, Tzuyu mengulum senyum sebelum mendaratkan dirinya untuk menempati.

Suara petir terdengar cukup keras saat Tzuyu menyandarkan tubuh dan membuatnya leluasa menatap langit-langit. Gelap, tapi entah mengapa ia terlihat nyaman dengan hal ini.

"Na...nanana..." Tzuyu kembali mulai bersenandung, memejamkan mata merasakan sentuhan lembut di puncak kepalanya. Perlahan, mata Tzuyu mulai basah kala rasa sakit tiba-tiba menyeruak dalam hatinya, lagu yang sejak tadi ia gumamkan kini berganti dengan tangis lirih yang menyakitkan. "Aku membenci semuanya."

Tzuyu kembali menangis. Namun, pergerakan dari kursi goyang yang ia duduki seolah menghipnotisnya. Ia merasa damai. Sama seperti sebelumnya-sebelumnya.

"Aku membenci Ayah yang pergi meninggalkanku dan juga Ibu." Tzuyu kembali berujar lirih dengan mata yang masih terpejam. "Aku juga membenci Ibu yang memilih bahagia dengan keluarga barunya."

Kursi itu masih bergerak pelan dan teratur, mengantar Tzuyu pada titik yang paling nyaman. Seolah ada yang dengan sengaja menggerakkan kursi untuknya.

"Aku benci mereka berhenti membuatku menjadi lengkap ... aku benci ditinggalkan." mata Tzuyu perlahan terbuka, menatap ke arah langit-langit walau tak ada yang bisa dilihat selain warna hitam karena tidak adanya cahaya di ruangan itu kecuali sebuah ventilasi kecil di dinding sebelah kiri, itu pun tertutup oleh kain putih.

"Lalu sekarang semuanya terulang." Tzuyu menghela napas lelah. "Satu-satunya orang yang kupercaya bisa memercayaiku ternyata ikut tidak percaya padaku."

Tzuyu menggigit bibir bagian dalam dan menelan saliva saat satu air mata meluruh dari ujung mata sebelah kanannya. "Aku pikir Jungkook Oppa berbeda, tapi ternyata dia sama saja."

Isakan kembali terdengar, Tzuyu kembali memejamkan mata dengan banyak air mata yang lolos sekarang. "Aku merasa sakit karenanya, aku ingin membencinya ... tapi kenapa tidak bisa?"

Tangis Tzuyu terhenti saat merasakan angin yang berembus lembut. Perlahan, ia membuka kembali matanya, lalu menoleh ke sisi kiri, mendapati satu sosok yang tengah mengusap lembut kepalanya.

"Ini menyakitkan," adu Tzuyu pada wanita di sampingnya dengan satu air mata yang kembali jatuh. "Sekarang hanya kau yang aku miliki ... jangan pergi dan tetap temani aku di sini."

Tak ada suara atau respons yang diberikan wanita itu. Tidak karena hampir sebagian wajahnya tertutupi rambut panjang berwarna legam. Namun, jika diperhatikan dengan saksama, sorot mata yang dapat terlihat dari celah rambut sang wanita tampak kosong dan anggukan yang diberikannya terlalu samar.

Tzuyu mengulum senyum, lalu kembali memejamkan mata. Menikmati usapan lembut yang membuat hatinya merasa lebih lega. Seperti hari-hari sebelumnya.

Lalu, setelah beberapa lama dan wanita itu masih tetap mengelus lembut kepala Tzuyu tanpa beralih sedikit pun dari sana membuat si empunya kembali membuka mata. Menatap lekat ke arah sang wanita.

Ia mengulurkan tangan, mencoba menyentuh sosok di sampingnya. "Kenapa hanya kau yang bisa menyentuhku ... sementara aku tidak bisa menyentuhmu?"

Usapan di kepalanya terhenti, wanita itu menariknya dari atas kepala Tzuyu. Mereka diam, saling menatap walau Tzuyu tak bisa melihat mata sosok di depannya dengan jelas.

"Sera?" tanya Tzuyu karena tak kunjung mendapat respons. Sudah cukup lama mereka bersama tapi Tzuyu masih tak mengetahui apa penyebabnya.

"Berceritalah, aku akan mendengarkan."

Wanita itu akhirnya bersuara, hal yang sangat jarang dilakukan selain senandung yang juga Tzuyu nyanyikan akhir-akhir ini. Suara Sera terdengar lembut, mengalun bahkan hampir hilang terbawa angin, tetapi melekat dalam pendengaran dengan nada sendu yang kental di dalamnya.

"Kau tidak perlu menyentuhku, aku tetap di sini ... bersamamu."







▪️▪️🍃▪️▪️






19 Juli, 2020

Portrayal [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang