Hari telah gelap saat Jungkook sampai. Lelaki itu mendesah pelan sebelum menekan tombol dengan angka lantai tempat tinggalnya. Sesekali, ia memijat leher belakang yang terasa pegal. Mengingat Tzuyu sendirian di rumah, Jungkook melewatkan waktu makan siang agar bisa secepatnya pulang dan menemui wanitanya.
Ting!
Jungkook tidak langsung berjalan setelah keluar dari lift, memilih berhenti sejenak melihat area sekitar. Ini masih pukul tujuh malam dan keadaannya sudah sangat sepi.
Ah, bagaimana aku bisa lupa jika siang hari di akhir pekan apartemen ini juga sepi.
Jungkook menggelengkan kepala sambil melangkah. Ia memang selalu tidak peduli pada keadaan sekitar, termasuk setelah bertahun-tahun memiliki satu unit di gedung ini, ia baru menyadari bahwa area tempat tinggalnya sangat sunyi walau dipenuhi segala kemewahan yang ada.
Langkahnya kembali terhenti saat merasa dingin yang menyapa lehernya. Dengan cepat Jungkook menoleh, tidak ada siapa-siapa tapi ia yakin itu bukan hanya halusinasi, sebab dingin akibatnya masih membekas.
Saat masih berkutat dengan apa yang ada di pikirannya, perhatian Jungkook teralih kala mendengar suara sepatu yang menggema di seluruh lorong. Ia kembali menoleh, tidak mendapati siapa pun di depannya, lalu ke belakang dan mendapati siluet seorang wanita yang perlahan semakin dekat dengan tempatnya berdiri.
Ah, syukurlah. Masih ada orang lain yang keluar.
Jungkook menarik napas dalam dan kembali melanjutkan langkah, tetapi setelah langkah kedua yang diambilnya ia kembali terhenti dengan mata membulat sempurna.
"Tunggu ... bagaimana bisa dia berada di belakang saat tidak terdengar suara lift--"
Jungkook menggantung kalimatnya dan mendadak perasaan gelisah mulai pekat dalam dada. Dengan segenap ketakutan yang semakin kuat dirasakan, Jungkook memberanikan diri untuk menoleh pada pemilik gema sepatu yang menembus kesunyian lorong ini.
Dan senyap!
Tepat saat Jungkook menoleh, bukan hanya suara langkah itu saja yang berhenti, melainkan sosok wanita yang tadi dilihatnya juga tak ada.
Sial! Atau jangan-jangan wanita itu memang tak pernah ada!
Jungkook berlari secepat yang ia bisa untuk segera sampai, entah mengapa kini semua akar ketakutannya mengarah pada Tzuyu.
Kau akan baik-baik saja, Tzuyu ... kau akan baik-baik saja.
Jungkook terlalu tergesa-gesa hingga ia kesulitan untuk memasukkan kode agar bisa segera membuka pintu rumahnya. Ia setengah mendobrak pintu ketika akhirnya berhasil memasukkan angka-angka dengan tepat dan sunyi, tak ada tanda seseorang berada di sana.
"Tzuyu!"
Tak ada jawaban, Jungkook memutar kepala menyapu dari kiri ke kanan, pun sebaliknya.
Gelap. Senyap. Dan Jungkook hanya mampu mendengar deru napasnya yang sudah tak beraturan.
"Tzuyu!" teriaknya lagi dengan langkah lebar menuju rumah, menuju salah satu dinding untuk menyalakan lampu. "Tzuyu!"
Jungkook melempar tas kerjanya begitu saja, menarik kasar dasi dan lengan kemeja sebelum berlari menuju tangga untuk ke kamar. Namun, langkahnya terhenti ketika lampu kembali mati.
"Apa yang--"
"Na..nanana.."
"Tidak ... tidak! Tzuyu!"
Jungkook terkesiap ketika tirai putih yang menjadi pembatas antara ruangan dan juga balkon tersibak, ia menyipitkan mata dan dengan jelas melihat sosok wanita berdiri di sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Portrayal [COMPLETED]
FanfictionAwalnya Tzuyu menganggap semua kehidupannya mulai menapaki kata sempurna. Menikahi pria idaman yang sangat ia cintai, mendapatkan keluarga baru yang menerimanya sangat baik hingga keberhasilan karir yang dicapai sang suami mulai merambah ke titik pu...
![Portrayal [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/199928065-64-k931695.jpg)