(23) Tuduhan Palsu

28 7 9
                                        

Hari telah menunjukan pukul 13:00 yang artinya masih ada jam pelajaran satu jam lagi, namun berbeda dengan kelas X IPA 4, kebetulan kelas mereka kedapatan jam kosong sekarang. Dan kesempatan itu banyak dimanfaatkan oleh siswa siswi didalam kelas, khususnya para siswi yang sudah heboh sendiri dengan gosipan-gosipan yang mereka bicarakan seraya membentuk satu kumpulan dipojokan sana.

Berbeda dengan Dara, sedaritadi ia hanya melamun melihat keluar jendela sambil sesekali tersenyum penuh arti. Sela dan Tania yang melihatnya pun saling pandang dan berbicara lewat raut wajah masing-masing.

"Lo...gak kesambet kan, Ra?" Tanya Tania serius seraya memegang pundak Dara.

"Yaps" Sahut Dara tanpa berpaling sedikitpun dari jendela itu lengkap dengan senyuman yang masih setia menghiasi wajah Dara.

"Lo aneh serius. Gue yakin ada apa-apa nih sama lo waktu kekoperasi tadi, iya kan?!" Tebak Sela sambil memincingkan kedua matanya menatap tajam Dara.

Dara hanya berdecak pelan, "Apaan sih? gak ada kok."

"Yakin? bukannya lo gugup setengah mati waktu natap kak Reza dengan jarak yang amat teramat dekat itu?" Telak Tania sambil menatap tajam Dara.

Dara secara reflek langsung membulatkan kedua matanya penuh, "Kok lo tau soal itu?"

Tania memutar kedua bola matanya malas, "Gue lagi ada dikls X IPA 1, tau sendiri itu kelas deket sama koperasi. Beruntungnya lagi pas gue lagi diteras kelas."

Aluna menggaruk belakang kepalanya, "O-oh gitu,"

Tania kembali bersuara, "Lo suka dia kan? kalau lo suka bilang aja kali, Ra."

Dara terdiam, ucapan Tania barusan benar-benar mempengaruhinya saat ini. Katakan lah Dara munafik soal perasaannya. Ya, itu benar. Dara mengaku kalau ia sangat menyukai Reza, namun kembali ia sadar kalau ia bukan siapa-siapa dan sangat jauh jika disandingkan dengan Reza. Terlebih lagi, ia tau kalau sahabatnya juga menyimpan rasa terhadap Reza tanpa sahabatnya itu katakan secara terang-terangan oleh nya. Siapa lagi jika bukan Tania? Ia hanya tidak ingin persahabatannya rusak hanya karena perasaan masing-masing.

Dara tersenyum sendu, "Gak, gue cuma kagum aja sama dia. Lagian rumor yang beredar juga bilang kalau dia lagi dekat sama seseorang."

Dara beranjak dari tempat duduknya, entah lah, ia hanya mengikuti kemana kakinya ingin pergi saja. Ia beralasan ingin ketoilet sebentar agar kedua temannya tidak mengikutinya.

Sesampainya ia ditoilet wanita, ia segera mencuci wajahnya berkali-kali diwastafel. Ia menatap wajahnya sendiri lewat cermin besar yang ada didepannya. Lagi-lagi ia disadarkan oleh cermin tentang siapa dirinya yang sebenarnya. Bisa diibaratkan ia hanya daun kering disekolah ini. Ia tau diri, ia bukan siapa-siapa. Hanya murid teladan dikelas saja sudah membuatnya bersyukur.

"Sadar, Adara! lo itu terlalu astaghfirullah buat kak Reza yang terlalu subhanallah!" Ia menepuk pipinya berkali-kali. Kesal sendiri rasanya.

Setelah dirasa sudah lega,Dara pun kembali kekelasnya. Namun sepanjang jalan menyusuri koridor, banyak murid-murid yang menatapnya aneh dengan tatapan yang beragam, walaupun rata-rata tatapan tidak suka.

"Oh jadi ini yang namanya dara dara itu? cantikan juga tania!"

"Jadi ini yang suka sama kak reza terang-terangan?"

"Gak banget deh!"

Kedua telinga Dara mulai panas, ia lalu mempercepat langkahnya tak tahan mendengar ucapan demi ucapan tajam tentang dirinya. Ada satu ucapan yang menyangkut diotak dara.

"Jadi ini yang suka sama kak reza terang terangan?"

"Sejak kapan gue terang-terangan bilang suka ke kak Reza? dasar lambe turah!" Decaknya kesal sambil menghentakkan kakinya kesal.

Love in Silence[REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang