22

2.4K 254 42
                                        

Author pov

Seminggu berlalu......

Yeri sedang duduk ditepi ranjang-nya, entah sudah berapa banyak ia menghela nafasnya Kasar. Air mata tak kunjung kering, selalu saja membasahi kedua pipi bersihnya.

Matanya sangat sembab ditambah badanya yang Kurus mampu membuat seisi rumah merasa kasihan pada Nyonya-nya itu. Jika saja Yeri bisa memilih antara hidup bersama dengan Jungkook atau mati dengan wajar, maka tentu saja Wanit itu akan memilih Mati dengan wajar.

Karena Yeri tidak bisa melakukan Keinginan pikiranya yang terus menginginkan ia untuk mati, Yaitu bunuh diri, Namun Bagi Yeri Bunuh diri bukanlah Hal yang baik, bukanya Semakin Membaik malah Menyebabkan ia Sedih dialam sana.

Tidak Yeri Tak akan melakukan itu.

Brak.

"Sudah sedihnya?." Jungkook mendekat pada Yeri, lelaki itu mengangkat satu alisnya saat melihat istrinya Itu Sangat menyedihkan, ditambah tatapan kosongnya yang mengarah ke-pepohonan lewat jendela kamarnya.

"Kemana saja Kau? Saat aku membutuhkanmu kau tidak ada?." Yeri Masih menatap Lurus, namun bibirnya Mengarah pada Jungkook. Bertanya dengan suara yang sangat lemah.

Jungkook mengerucutkan bibirnya, pikirnya ia gemas dengan perkataan Yeri.

"Aku Memberimu kesempatam untuk sendiri, memangnya kau tak Bisa tahu?." Jawab Lelaki itu, lalu Ia duduk disamping Yeri, memegang tangan kurusnya.

Jungkook menghela nafasnya.
"sayang, makan-lah. Kau jangan menyiksa diri sendiri." Ucapnya dengan halus.

"Aku memang berada disini, namun Nyawaku tidak ada disini Jeon." Entah kenapa Mendengar itu Jungkook merasa sangat kasihan pada Istrinya itu, ini semua karena perbuatannya Yang keji jika saja Jungkook tak melakukan hal yang tak waras Mungkin bayi itu akan segera lahir beberapa Hari lagi.

Tapi Sudahlah, ini terlanjur lagian Jungkook juga tidak menyesal. Malahan ia sangat puas setelah apa yang ia lakukan terhadap Yeri.

"Aku tidak salah memilih kau menjadi wanitaku Yerim, kau gadis yang baik dan cantik." Perkataan Jungkook entah kenapa menjerumus ke-Hal yang lain.

Jungkook menarik nafasnya.
"Kau tahu, saat kau masih kuliah dulu. Aku Sudah mengincarmu."

Yeri menoleh.
"apa kau ingin Memberitahu masalalu padaku?." Kata Yeri dengan Suara yang masih sama, yaitu Lembut.

"Jika kau mau mendengarnya." ucap Jungkook terlewat santainya. Lelaki itu tersenyum menyeringai saat Yeri membalikan badanya menghadapnya, Tangan wanita itu menyentuh tangan Jungkook yang berada dipaha, meremasnya pelan.

"ceritakan, aku ingin tahu alasan mengapa kau membawaku bersamamu." kata Yeri dengan nada harap sekaligus penasaran.

Tanpa kata-kata lagi Jungkook menganggukan kepalanya, ia menyingkirkan anak rambut Yeri yang menganggu pengliatan wanita itu, disingkirkan kebelakang telinga.

"Kau korban bully di-kampusmu."

"Yah, kau pasti sudah tau tentang diriku." Jungkook tersenyum senang saat mendengar Istrinya itu berkata seperti itu.

Memang benar jika sembilan puluh persen Jungkook tahu semua Tentang Yeri.

"kau menangis ditaman kan?." tanya Jungkook.

"Yah, aku sedih saat itu. Kau tahu aku menangis ditaman? Apa jangan-jangan selama ini kau menguntit aku?." Yeri memicingkan kedua alisnya, Jungkook harus di waspadai. Lelaki itu benar-benar tidak bisa Diremehkan, Yeri tidak tahu kalau selama ini Jungkook Mengenal dirinya.

Man Is Not HeartlessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang