Bagian 3

2.3K 134 5
                                        

"Dra, lu kenapa?" Tanya Dito khawatir karena mendengar rintihan Andhra tadi.

Rafa mengusap punggung Andhra pelan. Kemudian mengubah posisi tubuhnya menghadap kearah tubuh Andhra. Ia mengangkat wajah Andhra, sehingga wajah mereka bertemu. Rafa dan lainnya terkejut melihat raut wajah Andhra yang pucat. Sementara itu, Andhra menatap Rafa dengan sayu.

Andhra mensenderkan tubuhnya pada dada Rafa. Sedangkan Rafa menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.

"Obatmu mana?" Bisik Rafa.

Andhra menatap kearah wajah Rafa,"Gak bawa, ketinggalan." Jawabnya dengan pelan.

Rafa mengusap wajahnya frustasi setelah mendengar ucapan Andhra. Fares dan lainnya menatap Abang-Adik itu dengan ekspresi bingung dan khawatir, tidak tahu apa yang terjadi pada Andhra.

"Ke klinik ya Dek." Ajak Rafa.

Anshra mengangguk pelan. Segera saja Rafa membantu Andhra berdiri, kemudian memapah Andhra menuju klinik yang berada disamping tempat TU. Fares,Dito,Alwan dan Dira mengikuti dari belakang.

Seluruh murid yang berada di area kantin menatap kearah Andhra.

Dipertengahan jalan, tubuh Andhra limbung ke depan membuat Fares dan lainnya terpekik. Rafa segera menahan tubuh Andhra.

"Raf, dibopong aja. Kasian gua ngeliatnya." Ujar Alwan memberi usulan.

"Iya Bang dibopong aja. Gak tega gua sama Andhra, keliatannya udah lemes banget." Sahut Fares, menyetujui usulan Alwan.

Mendengar usulan tersebut, segera saja Rafa membopong Andhra tanpa menghiraukan penolakan dari Andhra. Sesampainya disana, Rafa menidurkan Andhra di branka.

Didalam klinik hanya Rafa saja yang menemani, Fares dan lainnya menunggu diluar karena permintaan Andhra yang disampaikan oleh Rafa.

Tidak menunggu lama, dokter datang dan memeriksa Andhra, kemudian memasangkan nasal cannula pada hidung Andhra setelah melihat Andhra kesulitan bernafas.

Setelah memeriksa dan memastika Andhra sudah lebih baik, dokter menatap kearah Rafa, "Tenang, dia sudah baik-baik saja." Sembari menenangkan Rafa yang panik.

Rafa memegang tangan Andhra, "Kok bisa kambuh sih Dek? Perasaan dirumah udah minum obatnya."

Andhra tidak menjawab, Ia masih sangat lemas. Wajahnya mengernyit masih kesakitan.

"Relax, tenangin diri kamu. Jangan panik." Rafa memcoba menenangkan Andhra yang terlihat kesulitan bernafas lagi.

Andhra kembali memegang tangan Rafa dengan erat, "gakk-bii-saa." Ucapnya dengan terbata-bata.

"Gua telepon Ayah ya."

Andhra menggeleng pelan, sama saja Ia ke rumah sakit jika menelepon sang Ayah.

"Makanya relax gak usah panik. Nafasnya yang bener coba." Ujar Rafa, memberi instruksi Andhra agar bernafas dengan benar.

Beberapa menit kemudian, nafas Andhra sudah kembali normal. Rafa menghela nafas lega.

Sunyi, tidak ada diantara mereka yang berbicara, bahkan dentingan jam pun terdengar. Tiba-tiba saja Andhra melepaskan nasal cannula. Rafa menahan tangan Andhra, "Jangan dilepas Dek."

"Gua udah baikan Bang. Juga udah gak sesak." Andhra meyakinkan sang Abang.

Mendengarnya, Rafa membiarkan Andhra melepaskan nasal cannula-nya.

🕳🕳🕳🕳

"Gila! Andhra kenapa? Gua baru pertama kali liat dia begitu." Tutur Fares.

About HimTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang