Kila turun dari mobil membawa buket bunga mawar besar. Kila sempat terkejut karena mobil mamanya masuk ke pekarangan rumah yang sudah pernah ia datangi.
"Loh mah ini rumahnya Natra" Kila masih berdiri memandangi rumah besar yang kini dihiasi bunga dan lampu-lampu.
"Maksud kamu? Natra kamu? Pacar kamu?" Mamanya masih mengeluarkan buket dari kursi belakang mobil.
"Iya ma, pantes kemaren Natra nanya Kila ada acara nggak. Ternyata mau ngajak ke acara mama papanya" Kila tersenyum. Dia memiliki rencana ingin mengejutkan Natra.
"Yaudah kamu nemuin Natranya nanti ya La, bantu mamah dulu"
"Iya mah" Kila melangkah masuk, dipintu masuk Kila dan mamanya disambut asisten rumah tangga di rumah tersebut. Wanita paruh baya yang ramah. Kila diantar menuju taman belakang. Bawaan Kila cukup banyak. Membuat Kila harus sangat hati-hati.
Waktu sudah menunjukkan pukul 19.00. Segala persiapan sudah Kila lakukan. Kila lumayan menikmati membantu pekerjaan mamanya. Walaupun sesekali Kila celingakcelinguk mencari dimana Natra. Kila sedang mengambil minuman bersama Indah, karyawan mamahnya. Seorang lelaki naik ke atas panggung yang tidak terlalu tinggi dan membuka acara.
Acara berjalan lancar. Prosesi potong kue dan dansa cukup meriah. Tibalah waktu sepasang paruh baya yang bernama Cakra dan Wulan naik ke atas panggung untuk memberikan sepatah dua patah kata. Kila tersenyum. Kila yakin Natra pasti akan keluar.
"Terimakasih kalian semua sudah hadir diacara kami" Cakra membuka percakapan dengan suara baritonnya.
"Hari ini adalah hari kebahagiaan kami. Apalagi untuk istri saya" Cakra meraih pundak istrinya dan mengusapnya pelan. Wanita cantik itu tersenyum. Sebuah air mata lolos dari mata cantiknya.
"Kalian pasti sudah tau, kami menikah sudah 18 tahun yang lalu. Kami bahagia dengan hidup kami. Kami dikaruniai anak yang tampan. Natra" Pembicaraannya terhenti. Cakra mengulas senyum getir. Wulan sudah menangis tanpa suara.
"Kalian juga pasti sudah tau, kalau anak kami Natra, dia sekarang sedang koma karena kecelakaan"
Praaangg.
Suara gelas jatuh yang berasal dari Kila membuat para tamu menatapnya heran. Kila menggelangkan kepalanya perlahan. Kila berlari menuju Cakra dan Wulan. tidak dihiraukannya lagi tatapan bingung dan suara mamahnya yang memanggilnya.
"Maksud om apa? Kapan Natra kecelakaan?" Kila masih menahan tangisnya dan mencoba tenang.
"Kamu siapa?" Cakra bereksperi bingung. Dipandangnya gadis didepannya dengan tatapan menyelidik.
"Om tolong jawab pertanyaan Kila. Kapan Natra kecelakaan" Air mata sudah membasahi pipi chuby Kila. Kila menangis tanpa bersuara.
"Natra sudah lebih dari 3 bulan koma" Wulan mulai angkat bicara. Dia tau kalau gadis didepannya benar-benar ingin tau.
"Nggak, nggak mungkin. Natra gak mungkin koma. Om sama tante pasti bohong. Kila baru ketemu Natra kemaren om" Kila menutup mulutnya. Kila berjongkok dan menangis. Dita yang melihatnya langsung berlari memeluk anaknya.
Wulan menangis, wanita cantik dengan gaun merahnya itu pinsan dan membuat para tamu langsung panik. Kila berusaha bangkit berdiri dan merasakan pening dikepalanya dan tiba-tiba semuanya hitam.
Jam diruangan serba putih itu sudah berputar melewati angka 12 dua kali. Sudah hampir seharian penuh Kila terbaring di ranjang rumah sakit. Didalam ruang rawat Kila hanya terlihat Via menemani. Mamahnya memang pulang untuk menjemput Gilang. Sedangkan papanya keluar untuk makan siang karena sedari pagi belum sarapan.
KAMU SEDANG MEMBACA
NATRA (Complete)
FantasíaAda sesuatu pada diri Natra yang membuat Kila penasaran. "Merelakan apapun takdir Tuhan terhadap ornag yang kita sayang emang susah, tapi itu harus". -Kila "Aku harus tau, dan kamu tidak boleh tau. Cinta kadang rumit"- Natra.
