Gue gak sesabar itu!

14 0 0
                                        

       Kila mendengus sebal. Hari jumat. Hari terakhir masuk sekolah. Karena sabtu dan minggu libur. Kila sama sekali tidak bersemangat. Langkahnya gontai menyusuri koridor. Kila sudah bangun pagi, dandan dan menunggu bis. Tapi Natra tidak terlihat menaiki bis. Kila masih sabar karena mungkin Natra sudah sampai sekolah. Nihil. Sampai pukul 11.00 dan pelajaran selesai. Natra belum juga hadir. Absenkah hari ini.

       Kila benar-benar frustasi. Aneh. Kila memang baru bertemu Natra 3 minggu yang lalu. Tapi dirinya benar-benar menyayangi Natra. Natra seperti orang kesepian yang membutuhkan teman. Caranya menatap bisa membuat Kila jatuh cinta. Bahkan Natra sangat baik. Dia perhatian dan penyayang. Walaupun dirinya dan sikapnya sama-sama dingin.
      
       Sore harinya Kila hanya tiduran dikamar. Dia benar-benar bingung memikirkan Natra. Kemarin saat bertemu dengan Natra, Natra pucat pasi. Kila takut kalau dia tidak masuk karena sakit. Bahkan Kila tidak bisa menghubungi Natra karena Natra tidak memiliki handphone. Kila sangat tidak mood untuk apapun. Ditambah hari ini adalah hari pertama dirinya PMS. Lengkap sudah penderitaannya.

       Kila melangkah bangun dari kasur. Jam diatas meja menunjukkan pukul 15.12. Kila bangkit dan berjalan menuju ruang makan. Dia ingin mengambil cemilan yang ada dikulkas. Hari ini memang sepi, karena mamanya masih mengantar Gilang les, papanya masih di kantor. Kila mengambil kerupuk pedas dari lemari. Oleh-oleh dari bibinya yang ada di Pekalongan. Bibinya juga mengirim banyak kepiting dan ikan asin untuk mamanya. Bibinya sering kerumah, bahkan sebelum mereka pindah ke Bandung. Bibinya sering main berdua dengan anaknya yang dua tahun lebih tua dengan Kila. Namanya Dendi, cowok dengan badan tinggi dan tegap. Dendi adalah seorang Akpol. Kulitnya sawo matang dengan wajah tampan yang dihiasi lesung pipi.

       Kila membawa cemilannya ke ruang keluarga. Menyalakan televisi dan menonton kartun kesukaannya. Spongebob. Kila melahap kerupuk pedasnya satu persatu. Melupakan perasaan khawatirnya kepada orang yang sudah genap satu hari menjadi pacarnya.

Handphone Kila bergetar. Pesan masuk dari Via.

Viacans
"Lu mau ikut nggak? Kalau iya gue jemput ntar malem jam 7"

Kila bingung. Via mau mengajaknya kemana?.

Mikailla
"Kemana?"

Viacans
"Yaelah, lu makanya punya hape jangan buat ganjel ban mobil. Lu galiat grup?".

Via makin bingung. Memang dari pagi moodnya sedang tidak baik. Sehingga dia tidak tertarik untuk melihat grup.

Mikailla
"Galiat gue"

Viacans
"Idih, kita diundang ke ulang tahunnya si Varo Kila cantik, anak baik, anak manis"

Mikilla
"Gue belum beli kado btw"

Viacans
"Kalau gitu beli bareng gue aja gapapa sekalian. Gue juga belom. Nanti gue jemput jam 5 deh. Dandan yang cantik ya"

Mikailla
"Gue takut lo suka kegue"

Viacans
"Ngimpi kelaut aja sana"

Killa hanya meread pesan dari Via. Ya bukan ide buruk kalau Kila datang ke pesta ulang tahun Varo. Dia teman sekelasnya. Dan barangkali pacarnya juga akan datang. Mungkin.

       Pukul 7 Kila dan Via sudah samapi di halaman belakang rumah Vero yang sudah dihiasi perbagai pernak-pernik cantik. Kila berjalan bergandengan dengan Via, bertemu Mimi dan berjalan bersama kearah Vero.

"Ehmm ini kado buat lo" Kila menyerahkan kadonya, diikuti kedua temannya.

"Thanks ya, emmhh lo suka?" Vero terlihat gugup.

"Suka?" Kila bingung

"Garden party, lo suka kan?" Kila hanya terkekeh.

"Iya Vero. Gue suka kok"

"Lo cantik" Vero tersenyum manis. Rambutnya yang biasanya acak-acakan hari ini disisir rapi.

"Biasa aja" Kila memang tidak terlalu bersemangat. Alasannya hanya satu. Natra.

"Yaudah kita mau nyari makan dulu ya, sama gue mau nemuin pacar gue" Via berjalan menjauh.

"Eh Mimi juga, mau nyari makan aja" Mimi berjalan menjauh. Kila malah melongo melihat tingkah norak kedua sahabatnya.

"Kayanya mereka sengaja mau buat kita berduaan ya" Vero nyengir. Nyengir aja ganteng.

"Jangan berduaan nanti yang ketiga setan" Kila kaget. Ternyata ada Jessie. Gadis blasteran cantik yang kelasnya berdampingan dengan kelasnya. Salah satu dewi di SMA Kila.

Jessie menatap Kila sinis. Kila yang dipandang begitu langsung paham.

"Gue mau ke Mimi ah, mau makan" Kila berlalu sebelum Vero sempat memegang tangannya.

       Acara ulang tahun Vero berjalan sangat meriah. Selain pesta yang digelar mewah. Vero juga mengundang DJ ternama untuk tampil diacara spesialnya. Sweet seventeen harus berbeda dan meriah. Mungkin.

       Kila memilih untuk pulang sebelum terlalu malam. Mama nya hanya mengijinkannya pergi sampai pukul 9. Dan sekarang 21.13. Sial. Terlambat. Kila menghampiri Via yang juga sudah bosan dan memutuskan untuk pulang bersama. Dengan Mimi tentunya.

     Sepanjang perjalanan. Mereka membahas apa saja dengan antusias. Kecuali Kila. Dia hanya diam menyimak dan sesekali menanggapi.

"Lo sakit ya?". Via masih fokus dengan kemudi.

" Ha?" Kila menoleh kaget.

"Mimi bingung juga, kayanya dari tadi pagi Kila diem aja deh" Mimi beringsut maju dari jok belakang.

"Gue gak apa-apa" Kila tidak bergeming.

"Gue kenal lo dari kecil, dari dulu gue tinggal se blok sama lo, dari TK, dari lo dalam kandungan gue dah berteman sama lo, gue paham. Lo pasti ada apa-apa" Via melirik sahabat kecilnya. Orang yang selalu ada saat Via butuh.

"Hmmm kayanya gue harus cerita ya, tapi demi apa lo gaboleh bilang kesiapapun" Kila menghela napas. Mimi mengangguk sambil menunjukkan jarinya membentuk lengkungan V. Janji.

"Haah jadi, gue udah punya pacar" Kila terlonjak, Mimi bahkan hampir terpental. Salah siapa tidak memakai sabuk pengaman.

"Sorry, gue kaget Ya Allah". Via menepikan mobilnya di depan Indoapril dodepannya. Barusan Via menginjak rem dengan tiba-tiba.  "Oke, sekarang cerita buruan"

"Oke, gue jadian kemarin. Pas kita di mall. Gue misah karena gue liat dia. Cowok yang memang gue suka. Akhirnya kita jadian". Kila meletakkan tubuhnya disandaran kursi mobil.

" Siapa? Yang pasti bukan Varo ya?" Mimi penasaran.

"Bukan, lo kenal juga anaknya. Tapi gue gaboleh ngomong siapa dia. Nanti ada waktunya kok". Kedua sahabatnya mengangguk paham.

" Apapun yang bikin lo nyaman, tapi kenapa lo sedih. Abis jadian harusnya lo seneng kan?" Via memandang Mimi. Mimi mengangguk.

"Dia ngilang, gue gabisa ngubungin dia. Parah banget kan?" Kila melihat lurus ke depan.

"Sumpah misterius banget ya. Mimi berharap Kila sabar" Mimi menyemangati.

"Gu gak sesabar itu" Kila menghela napas berat.

"Perasaan paling tulus saat saling menyayangi adalah saat kita mampu sabar, apapun itu. Jadi kalau lo sayang, ya lo harus sabar" Via menstater mobil kesayangannya dan mulai menjauh dari parkiran Indoapril.

NATRA (Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang