"ska, lo kecewa sama gue?"
"Gue kecewa..."
___
Dibumi ini kita tidak hanya belajar mencintai, tapi sebaliknya, terkadang kita butuh belajar dicintai. Itu adalah teori sederhana sebagai manusia yang ingin berterimakasih pada diri sendiri.
---
Sepanja...
Kepikiran tentang Ara, jadi mungkin ini gambarannya, tapi gatau mungkin kalian bisa saranin aku yang pas buat tipikal Ara. Cewek persetan yang aneh. Tapi cantik:v.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ara chai
Ara bumi itu bukan tempat yang pas buat lo. Karna lo dan gue punya alam sendiri. Kita disini cuma singgah- Ankara.
🌃🌃🌃
Ara membawa Ankara kesebuah cafe, dimana cafe itu sangat strategis letaknya, disamping kanan ada sebuah taman dan sebelah kiri itu langsung dihadapkan dengan rumah kecil didepan cafe itu ada sebuah butik ternama milik keluarga Alaska.
Sekarang mereka berdua berhadapan, mata kedua nya saling menatap lekat. Ada perasaan rindu disana, sosok yang merepotkan Ankara, meskipun notebenya cuma sahabat tapi nempelnya udah kaya lem rajawali.
Tak ada yang membuka suara, hingga bercampur hening bukan tipikal seorang Ara.
Ara menarik nafas dalam dan tersenyum "Kenapa lo bisa disini? bukannya diangkasa penjagaanya ketat?" Ara melontarkan pertanyaan yang menjadi titik besar kenapa Ankara disini, lebih tepatmya di alam penduduk pribumi.
"Presiden Angkasa, Amabara, sedang sakit, dia kacau saat tau lo ilang." Mata Ankara kini memusat dengan sendu, seolah-olah inilah kesalahan Ara.
DEGH!!!
Ara dibuat bungkam dengan ucapan itu.
" Lo lupa?"
Ara tak bisa berkutip lagi,apalagi memberi alasan, kalau sebenarnya dia memang salah besar, tunggu ini bukan sepenuhnya kesalahn Ara kan?.
Presiden Angkasa, Amabara, dia adalah presiden muda yang berambisius dalam kehidupan Angkasa. Ara sangat tersentak saat mendengar nama Ambara kembali.
Ara mengontrol detak jantungnya, dia menenangkan dirinya sendiri. Wait!! Apa Ara lupa dengan Ambara? Ambara yang telah membuat dirinya bisa melayang, hanya karna cinta.
" Ara? Lo lupa sama Ambara?" Ankara menggulang pertanyaanya, saat ini Ara sedang berfikir keras dengan tatapan yang tidak bisa dia baca sedikitpun.
Ara menggeleng dia tidak lupa, hanya saja hatinya sedang terisi dengan Alaska.
"Gue inget kok ra, tenang aja." Ara terlihat santai namun hatinya bagai tersentum listrik.
"Terus gue mau nanya, apa lo ada hubungan sama manusia pribumi yang tadi manggil lo?"
Ara tertohok dengan pertanyaan itu. Jelas dirinya sangat salah besar, bagai menanam mawar dipadang pasir, yang gak akan tumbuh karna yang nanam pasti rada bego.