Rekomendasi lagu
Pearly Rain — Extraordinary You
🐨
Aku mau mendampingi dirimu
Aku mau cintai kekuranganmu
Selalu bersedia bahagiakanmu
Apapun terjadi...
Kujanjikan aku ada
Lagu berhenti Dan seorang lelaki turun dari motornya lalu memasuki pekarangan rumahku. Aku menatapnya, laki-laki dengan kemeja kotak-kotak dengan kancing yang terbuka semua, dan dalaman kaos berwarna putih.
"Sheva?"
Dia berjalan santai menghampiriku yang sedang duduk di teras rumah dengan pakaian santai. Sheva berdiri tepat dihadapanku. Aku mendongak ke atas menatapnya sedangkan dia menunduk menatapku.
"Lo sibuk?" tanyanya dengan raut wajah datar.
Aku menggeleng "Kenapa?"
"Ikut gue."
Aku mengernyit "Kemana?"
"Kerumah mama."
Hah?
Aku berusaha mencerna ucapannya. Aku di ajak kerumah mamanya, ngapain?
"Di suruh datang ke rumahnya. Lo mau gak? Kalo gak, ya udah."
Aku menggigit bibir bawahku. Bingung, ini yang kurasakan. Apa aku harus mengiyakan ajakanya? Kan dia bisa datang sendiri ke rumah mamanya. Ngapain ngajak aku segala?. Nolak pun, sungkan. Dia udah datang jauh-jauh cuman buat ngajak ikut dia ke rumah mamanya.
"Kan lo bisa pergi sendiri, ngapain ngajak gue?" tanyaku ragu.
"Kalo Kenan ada ya gue bakal ngajak Kenan, bukan lo." ucapnya ketus.
"Yaudah iya, lo tunggu disini aja."
Emang sih, Kenan gak ada di rumah. Tadi dia pamit mau pergi keluar sama perempuan. Mungkin pacarnya.
Aku berganti pakaian. Hanya menggunakan celana jeans berwarna putih, dan juga hem berwarna biru. Bagian depan baju ku masukkan sedikit dan yang bagian belakang ku biarkan. Aku memoles wajahku dengan bedak bayi dan sedikit liptint di bibir. Rambutku kubiarkan terurai dan aku memakai bando kain yang selaras dengan pakaianku.
Aku hanya membawa tas selempangan kecil yang bisa memuat hp, pb dan uang. Setelah itu, aku buru-buru turun. Takut Sheva kelamaan menungguku ganti baju.
Di teras, aku segera memakai sneakers lalu menatap Sheva yang sedari tadi juga menatapku.
Dia berdiri dari duduknya dan berjalan duluan meninggalkanku. Aku menyusulnya yang sudah masuk ke dalam mobil. Sebelum itu aku mengunci pagar rumah, karena di rumah sudah tidak ada orang selain aku. Masing-masing memegang kunci, jadi ya gak masalah jika aku pulang namun pagar dalam keadaan di gembok.
Aku membuka pintu mobil. Lalu duduk dan memasang seatbelt. Sheva dari tadi diam. Aku memang sedikit memikirkan jika wanita pergi dengan pria, sang pria akan membukakan pintu mobil dan memasangkan seatbelt untuknya. Aku menggelengkan kepala dan mengenyahkan pikiranku. Bagiku itu sangat tidak mungkin.
Di mobil, hanya suara radio yang memecahkan keheningan di antara kami. Aku ingin mengajaknya bicara, namun ku urungkan niatku. Takut jika dia tidak menanggapiku.
Aku mengedarkan pandangan di jalan. Perjalanan ke rumah mamanya lumayan jauh, namun aku juga menikmati karena pemandangan selama perjalanan tidak begitu membosankan.
Tetapi, kenapa ia tidak mengajak Ayahnya saja? Aku masih tidak puas dengan jawabanya. Bahkan dia tidak mengirimkan pesan kepadaku terlebih dahulu.
