مرحبا شهر رمضان
اللهم صل على سيدنا محمد
JADIKAN ALQURAN SEBAGAI BACAAN YANG PALING UTAMA
****
Marhaban ya Ramadhan, Alhamdulillah bulan suci datang lagi. Ditengah pandemic Ini, semoga kita tetap mampu beribadah dengan sebaik mungkin... Aamiin ya robbal aalamin😊
______________________
Suara ketukan membuatku menatap pintu kayu. Aku berjalan menuju pintu, membukanya perlahan dan mendapati Mas Kamal telah berdiri dengan penampilan rapi di depanku.
Matanya menatapku dengan tatapan yang entah, aku sendiri tidak tahu. Kali pertama dia menatapku seperti itu. Berusaha menyelami manik hitam itu untuk mencari jawaban, namun dengan cepat Mas Kamal membuang muka. Aku tertunduk lesu.
"Kamu temani Ayu. Aku harus bekerja. Jangan pernah tinggalkan rumah sebelum aku pulang." Aku mengangguk. Mencoba meraih tangannya untuk mengecup, tapi lagi-lagi diabaikan. Berjalan meninggalkanku yang masih setia berdiri di ambang pintu kamar.
Setelah Mas Kamal meninggalkan kamarku, kulihat dari jauh dia berjalan mendekati Mbak Ayu, mencium keningnya cukup lama yang saat itu berada di sebuah ruang yang menjadi sekat antara kamar dengan ruang tengah. Meraih tangan kanannya dan juga mengecup jemarinya lalu disambung dengan senyum tulus. Hatiku kembali diremas, berusaha tidak membayangkan pada posisi itu karena akan sangat mengganggu kondisi hatiku yang sudah kupaksa terbiasa dengan keadaan.
Suara mobil Mas Kamal sudah tidak terdengar lagi, tandanya Mas Kamal sudah pergi. Aku berjalan perlahan, mendekati Mbak Ayu yang ternyata tengah melamun. Kuusap punggungnya pelan. "Mbak, sarapan. Aku tadi jam tiga sudah ungkep ayam, tinggal digoreng aja kok." Kataku, membuyarkan lamunannya.
"Eh, iya Mbak juga sudah lapar." Kudorong kursi rodanya menuju meja makan. Sesekali bersenda gurau dengannya. Karena aku tahu, kehilangan nyawa yang disayang itu sangat menyakitkan apalagi nyawa yang telah hadir pada rahim.
Sekitar sepuluh menit ayam goreng sudah siap beserta sayur sup yang kubuat. Meletakkan pada meja makan yang sudah ada Mbak Ayu disana.
"Ra, apakah kamu mencintai Mas Kamal?"
Gerakanku menyiapkan piring untuknya terhenti. Menatap wajah Mbak Ayu yang seolah sangat ingin tahu bagaimana jawabanku. Seperti memastikan sesuatu yang aku sendiri tidak mengerti.
"Aku mulai mencintai Mas Kamal, ketika dia mengucapkan ijab qobul dengan menjabat tangan Mas Faruq serta menjadikan Allah saksi." Balasku apa adanya. Kuberikan senyum pada Mbak Ayu.
Mbak Ayu kembali menatapku dalam, mengusap punggung tanganku. "Jangan menyerah membuat Mas Kamal jatuh cinta padamu, Ra. Aku harap kamu masih terus bertahan hingga cintanya bisa kau dapatkan."
Aku mengangguk, tersenyum simpul. "Aku akan berusaha terus, Mbak."
'Sebelum ada kata talak'
Batinku tidak bisa berbohong jika takut suatu saat kata cerai Mas Kamal jatuhkan padaku.
"Berjanjilah untuk tidak meninggalkannya."
Aku terpaku, akhirnya hanya seutas senyum menenangkan yang bisa kuberi pada Mbak Ayu. Bukan tidak ingin bertahan, hanya takut suatu saat janji itu kuingkari meski dalam hatiku tidak ingin ada kata perpisahan dalam rumah tangga yang baru saja kujalani. Sungguh, sebuah janji baru saja telah kupenuhi dan sekarang menempatkanku pada posisi ini.
****
"Cak, Ira tidak datang bimbingan skripsi." Ucap Radit melapor, duduk berhadapan dengan Pak Hafidz di ruangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dua Akad [On Going]
SpiritualFollow sebelum baca Sebuah keadaan membuatku terjerat ikatan pernikahan yang tak kuinginkan. Ketika perlahan hati mulai ikhlas dengan takdir, dia tega menyisihkanku. Membangun kebahagiaan sendiri dengan wanitanya tanpa peduli lukaku. Haruskah aku...
![Dua Akad [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/211322993-64-k334262.jpg)