Chapter 1

190 37 0
                                        

Tidak seperti biasanya, jam istirahat kali ini aku segan untuk keluar kelas. Di depan pintu, mataku menangkap sosok yang familiar. Itu Anita-sahabatku-dan dia sedang berbincang dengan seseorang. Entah siapa. Rasa ingin tahuku mendorong langkahku untuk menghampirinya.

"Nit..." panggilku pelan.

"Eh, kamu Ra. Lagi ngapain?" tanyanya sambil tersenyum kecil.

"Iseng aja lihat murid-murid yang seliweran, terus... nyari kamu. Dari tadi nggak kelihatan, aku kira kamu nggak masuk."

"Oh, tentu saja aku masuk. Kamu maunya aku nggak masuk gitu?" balas Anita dengan nada bercanda, seolah ingin mengalihkan topik. "Yuk, kita ke kelas."

"Yuk," jawabku singkat.

Kami pun menelusuri lorong demi lorong menuju kelas. Sesampainya di depan kelas Anita, aku melambaikan tangan.

"Dah, Nita."

"Dah, Ra."

Aku melanjutkan langkah menuju kelasku sendiri. Baru beberapa meter berjalan, brak!-seseorang menabrakku hingga hampir membuatku jatuh.

"Eh, maaf ya..." ucapku buru-buru.

"Nggak papa kok," jawabnya singkat.

Aku mendongak, memperhatikan postur tubuhnya dari kepala hingga kaki. Ada rasa familiar. "Loh... kayak kenal?" tanyaku kaku.

Dia terkekeh kecil. "Ya iyalah kamu kenal. Kita dulu satu kelas pas kelas 11. Aku Bono, temannya Budi. Kamu lupa, Ra?"

"Oh, ya ampun, Bono... iya, iya. Kok kamu belum masuk kelas? Mau bareng sama aku?"

"Boleh banget, Ra. Kebetulan searah."

Kami berjalan beriringan sampai di depan kelasnya. Ia melambaikan tangan. "Udah ya, aku duluan. Bye."

"Dah..." balasku sambil tersenyum.

---

Perkenalkan, namaku Aura Cinta. Teman-temanku biasa memanggilku Aura. Aku anak kedua dari tiga bersaudara. Ayahku bekerja di sebuah stasiun televisi swasta, sementara ibuku seorang ibu rumah tangga. Kakakku, Dimas Wicaksana, kini kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta. Sedangkan adikku, Dinda Kasih, masih duduk di bangku sekolah dasar.

Aku bersekolah di SMA Tunas Bangsa. Di sinilah aku mengenal Bagus. Dia siswa kelas 12, seangkatan denganku. Hampir semua siswi di sekolah menjadikannya idola. Jurusan IPS, jago basket, pintar matematika, dan paham komputer. Sayangnya, dia agak congkak.

Tapi entah mengapa, aku tetap salah satu pengagumnya. Jantungku selalu berdegup kencang setiap kali berpapasan dengannya.

Saat kelas 10 dulu, Bagus menjadi ketua kelas sementara aku sekretarisnya. Diam-diam aku sering mencuri-curi perhatian, berharap ia juga memperhatikanku. Tapi kurasa aku bukan tipenya. Aku bukan murid yang populer. Aku jarang ikut kegiatan sekolah. Baru belakangan ini aku bergabung di ekskul menggambar. Sedikit demi sedikit, rasa percaya diriku tumbuh.

Tetap saja, aku pemalu. Sekedar menyapanya dengan "hai" pun butuh keberanian luar biasa, apalagi mengajaknya ke kantin.

Sahabatku, Anita, selalu menasihatiku agar jangan terlalu berharap. Katanya, Bagus adalah pujaan para gadis. Tapi hati ini keras kepala. Ada sesuatu dari dirinya yang membuatku sulit melupakan sosoknya. Aku tahu aku harus berani. Aku tidak boleh terus-terusan terjebak dalam rasa malu. Aku harus berjuang untuk meraih simpatinya.

Karena aku, Aura, sudah terlanjur jatuh pada pesonanya.

Secret AdmirerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang