Pizza Menggerakkan kelopak mata nya dengan perlahan, air mata masih menggenang di bawah mata nya,pipi nya yang lembab akibat kebanyakan menangis pun kembali basah ketika ingatan nya kembali berputar di kepala nya.
Ia ingin bangun dari kasurnya, ia ingin lari sekencang mungkin buat membuktikan apakah perkataan Leo benar, ia ingin marah, ia ingin membuktikan kalau semua ini hanyalah mimpi buruk nya yang masih dalam ke adaan tidur. itu do'a nya, itu harapan nya.
Dengan keadaan lemes ia mencoba bangun dari kasur nya namun ada tangan kokoh yang menahan bahu nya agar tetap berbaring,
"Biar aku aja yang bantu" ucap Leo lalu membangunkan tubuh Pizza dan langsung memeluk nya dengan erat, pelukan itu hangat namun Pizza tidak bisa mengontrol otak nya untuk bekerja, yang ia pikirkan hanyalah bangun dari mimpi buruk nya.
"A a aku habis mimpi buruk kan?" Ucap Pizza dengan gemetar yang sangat hebat.
" Ini rumah kamu kan? Kenapa kamar nya beda? Ini kamar kamu yaaa? Ko mirip kamar aku yang ada di rumah ku? Jadi aku ga lagi mimpi buruk jawab LEO JAWAB! " Ucap Pizza tak karuan, bahkan ia berteriak histeria dengan deraian air mata.
Leo tak menjawab satu pun pertanyaan Pizza, melainkan memandang kosong ke arah Mata Pizza.
Tubuh Pizza kembali lunglai, seakan tak berdaya melihat keadaan Pizza sekarang ini Leo memegang erat tangan mungil itu dengan tangan kekar nya,
"Za gue mohon Lo harus kuat, gue ga bisa liat Lo kek gini" gumam Leo lalu mengecup puncak kepala nya Pizza.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu terdengar dari belakang Leo.
Dengan perlahan Indah membuka pintu kamar Pizza, namun air mata nya tak bisa ia bendung lagi ketika melihat keadaan Pizza sekarang ini.
"Leo kamu keluar aja dulu, mama mau ganti pakaian Pizza" ucap Indah dan di angguki oleh Leo.
****
Di ruang tamu, sudah banyak orang orang tengah melayat dengan membaca surat Yasin, kini Pizza duduk di samping Indah dengan tatapan Kosong, seakan masih tidak percaya Pizza berkali kali menelfon ke nomor bunda nya, namun nihil tak satu pun panggilan Pizza yang terjawab.
"Bunn apa semua ini bener? Anggat telfon Pizza Bun, buktiin ke semua orang kalau ini ga nyata" gumam nya dengan air mata yang menggenang di pipi nya.
Indah tak kuasa menahan untuk tak memeluk Pizza.
"Sayang ini semua sudah ada yang ngatur, kamu yang sabar, kamu masih punya kita, kita bakal jagain kamu" ucap Indah dengan memeluk erat tubuh mungil yang bergetar hebat itu.
" Pizza udah sabar Tan di tinggal bunda sama ayah pergi kerja, Pizza sendiri di rumah, Apa apa Pizza sendiri, mereka sibuk kerja, dan Pizza tau mereka kerja buat Pizza juga kan akhir nya? Maka nya Pizza bisa ngertiin. Tapi kali ini apa tan? Mereka pergi ninggalin Pizza lagi? Apa mereka kembali Tan? " Ucap Nya dengan deraian air mata yang tak pernah berhenti mengalir.
"Seakan terbius dengan kata kata Pizza barusan lantas Indah memeluk erat tubuh mungil itu kembali.
****
Tiga hari telah berlalu, dan kini Pizza masih tidak bisa mengikhlaskan kepergian orang tua nya, tampak nya ia masih tidak percaya akan pergi nya sang bunda dan ayah nya.
Duduk termenung di depan jendela, sambil memegang erat bingkai foto yang sudah lama ada di dalam kamar nya,
"Ayah Bunda, kalian beneran ninggalin Pizza? Kenapa Bun Yah? Kalian pergi tanpa pamit sama Pizza? Kalian ga sayang sama Pizza? Kalian tega ninggalin Pizza sendirian? " Gumam nya sambil memandang foto mereka bertiga, di foto itu Ayah dan bundanya tampak senyum bahagia sambil memeluk putri semata wayangnya.
"Siapa bilang Lo sendiri?" Tiba tiba suara terdengar dari belakang Pizza, dengan senyum manis nya Leo memeluk tubuh mungil itu.
"Belum sarapan kan? Kita sarapan dulu" ucap Leo dengan lembut namun Pizza merespon dengan gelangan sambil melepaskan pelukan Leo.
" Cukup Za, Lo udah 3 hari ga makan? Jaga kesehatan Lo, bokap nyokap Lo disana bakal sedih kalau liat putri nya kek gini." Ucap Leo masih dengan nada lembut nya.
"Gue ga mau!" Ucap Pizza.
"Udah 3 hari Za Lo ga makan, dan udah 3 hari juga gue dan nyokap nginap dirumah Lo buat ngejaga Lo tapi Lo ga ngehargai kita."
" Bukan gitu_
" Makan"
"Ga bisa makan"
"Gue suapin"
"Ga ada nafsu"
" Bentar ya gue ambilin dulu ke bawah" ucap Leo lalu berlari ke bawah mengambil makanan yang di sediakan Indah.
"Makan sekarang atau le tega_
"Tega?"
"Orang tua Lo sedih liat Lo ga mau makan karna nangisin mereka, mereka bakal nyalahin diri mereka kalau liat Lo gini"
Tak terasa suap demi suap bubur itu sirna dari mulut Pizza.
"Nah kan enak kalo udah makan" ucap Leo mengusap bibir Pizza dengan jari nya.
" Tangan nya terulur naik ke pipi yang dulu nya chubby dan kini menirus dengan waktu yang singkat.
" Badan lu makin kurus Za ga mau makan, maka nya makan emang mau tepos?" Ucapan Leo mampu membuat mata Pizza membulat.
"TANTE INDAHHHHHH LEO NGEHINA PIZZA" teriak Pizza dengan begitu nyaring.
"Anjir beranak 5 kuping gue" ucap Leo sambil mengusap usap telinga nya, tak berapa saat Indha membuka kamar Pizza dengan kasar,
"PIZZA KENAPA TERIAK? LEO NGAPAIN KAMU? BILANG SAMA TANTE BIAR TANTE BUAT KE OVEN" Ucap Indah yang mampu membuat Pizza tertawa, seakan keajaiban yang baru muncul, Indah dan Leo bertatapan.
" Seneng gue liat Lo ketawa" ucap Leo lalu dengan tiba tiba ia mengecup sekilas Pipi Pizza.
BRAK
"Dasar anak tiri ga ada akhlak main cium anak orang di depan orang tua" ucap Indah lalu pergi meninggalkan Pizza dan Leo.
" Kenapa diam? Mau lagi?" Ucap Leo lalu mendekatkan wajah nya ke pipi Pizza.
"Cucu Dajjal ga ada akhlak" ucap Pizza lalu mendorong wajah Leo menjauh.
" Gini gini juga ngebuat jantung Lo deg deg kan" ucap Leo lalu kembali mengecup pipi kiri Pizza dan pergi meninggalkan Pizza yang memerah padam. Namun ia tersenyum malu dengan pipi bak tomat.
Part selanjutnya akan Ending?
So ikutin aja alur nya ye😘.
KAMU SEDANG MEMBACA
BECAUSE YOUR NAME [COMPLETED]
Teen FictionMenjahili Pizza adalah suatu kebahagiaan tersendiri bagi seorang Leo Lexiantera Badai. Mengamuk dan menangis. Hal ini lah efek dari kejahilan Leo untuk seorang gadis manis nan cantik. Pizza Sativa Antares. Nama yang aneh kan? Dari nama nya itu lah s...
![BECAUSE YOUR NAME [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/192870540-64-k316374.jpg)