𝐒𝐞𝐛𝐚𝐠𝐢𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐫𝐭 𝐝𝐢𝐩𝐫𝐢𝐯𝐚𝐭, 𝐟𝐨𝐥𝐥𝐨𝐰 𝐝𝐮𝐥𝐮 𝐬𝐞𝐛𝐞𝐥𝐮𝐦 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐚𝐜𝐚.
[Cerita ini adalah cerita Indigo Keren dengan versi baru. Yang artinya cerita ini bisa berdiri sendiri tanpa dikaitkan dengan cerita Indigo Keren yang p...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ayo-ayo nonton album barunya Ikon yang berjudul 'Why Why Why'! Biar bisa liat abang jago:*
. . . .
Kemarin lagi mabok gaes... Delima banyak yang keganti jadi Dilema masa:(
Mendadak Dilema hati ini jadinya🤣
. . . .
👻[New Version]👻
. . . .
[][][][][][][][][][][][][][][][][][]
"PITAAAA! BURUANNNN!" Ali berteriak dari luar kelas. Pita yang tengah duduk di atas bangku meja paling depan itu hanya diam, tak mengindahkan teriakan Ali yang sedari tadi mengajaknya keluar untuk bermain dengan murid kelas sebelah.
"PITAAAAA!" Kali ini Ali semakin mengencangkan teriakannya.
Evan yang rupanya sudah tak tahan itu pun menjejalkan mulut Ali dengan sisa cimol yang baru saja ingin ia habiskan. Lebih baik kehilangan sisa cimol daripada telinga rusak akibat suara Ali yang tak henti-hentinya berteriak.
Evan melongokkan kepalanya ke dalam kelas, mengintip Pita yang rupanya masih anteng-antengnya duduk di atas meja, sambil mengamati beberapa hantu perempuan yang sedang reuni di dalam kelasnya.
"Galau mulu lo, Pit. Padahal nggak punya pacar," celetuk Evan. Evan mengira jika Pita sedang melamuni sesuatu sampai bola matanya tak beralih sedikitpun menatap bangku depan yang letaknya paling pojok.
"Iri bilang, Pan," jawab Pita masih dengan tatapannya yang belum beralih.
"Idih, idih. Mana ada gue iri." Evan melengos tak terima. Tetapi belum lama kemudian, ia kembali merekah dan menatap Pita kembali. "Btw gue masih sendiri lo, Pit. Lo mendingan—"
"Jadi pembantu dia aja," timbrung Ali.
"Nggak masalah, sih. Selama gaji sebulannya mampu buat beli rumah," kata Pita yang langsung dibanjiri gelak tawa Ali yang kini mulai meledek Evan.
"Cakep banget ya dia."
Suara ghibahan para hantu reuni itu mulai terdengar di telinga Pita. Ali yang semula belum menyadarinya pun jadi melongok ke dalam kelas dan refleks menutup wajah Evan dengan selembar kertas yang habis diinjak-injak oleh banyak siswa.
"Gue tutup biar nggak cakep," kata Ali yang selepasnya langsung diberi jitakan keras oleh Evan.
Suara teriakan yang cetar membahana kembali terdengar. Kini suara itu menyapa nama Pita, Ali, dan Evan dengan tak tahu malunya. Padahal lelaki yang berteriak itu masih sangatlah jauh dari kelas mereka berada. Siapa lagi jika bukan Izroil.