27 : Pilu

1K 358 114
                                        

Selamat membaca

.
.
.

Kalau ada salah kata atau typo harap beritahu ya:>

.
.
.
.

👻 [New Version] 👻

.
.
.
.
.

[][][][][][][][][][][][][][][][][][]

Darah mulai membasahi pakaian Pita. Pisau itu berhasil menembus kulit perutnya.

"Lo ... bener-bener ... nggak ada ni-niat, b-buat bunuh... g-gue, kan?" lirik Pita dengan terbata-bata, sebelum akhirnya hilang kesadaran dan ambruk ke aspal dengan setetes air mata yang keluar dari mata kirinya.

Pisau di genggaman lelaki itu terjatuh seketika. Seolah ada sesuatu yang baru saja ditarik dari dalam tubuhnya, kesadaran lelaki itu kembali dan tubuhnya langsung melemas melihat apa yang baru saja ia perbuat.

"Pita?" Lelaki itu menyuarakan nama Pita dengan parau. Cairan bening pun langsung luruh tanpa bisa lagi ditahan.

Lelaki itu—Ali Refaldi, ia menjatuhkan kedua lututnya ke aspal dengan lunglai, menyeretnya secara bergantian dan memangku wajah Pita ke pangkuannya dengan segala macam perasaan yang membuat dadanya terasa sesak dan pilu.

"Pita?" Lagi-lagi Ali memanggil nama gadis itu. Gadis yang kini masih setia memejamkan matanya rapat. "Pita? Pit ... bangun!" teriak Ali sambil terisak pilu.

"Maafin gue... demi apa pun, gue nggak berniat ngelukain lo sedikitpun. Gue nggak tau soal apa yang baru aja gue lakuin. Gue nggak sadar..."

"Gue mohon bertahan sedikit lagi, Pit," pinta Ali, memohon dengan sungguh-sungguh.

Ali mengusap cairan jernih yang membasahi kedua pipinya. Ali menggendong tubuh Pita, kemudian berlari secepat yang ia bisa dan mencoba mencari kendaraan yang bisa membawanya menuju rumah sakit.

Jalanan sepi membuat Ali harus terus berlari agar dapat mempersingkat waktu. Mengabaikan peluh yang mulai membanjiri pelipis hanya untuk menyelamatkan Pita sesegera mungkin. Untunglah tak lama kemudian ia melihat taksi dan segera menghentikannya saat itu juga.

Ali benar-benar gelisah dan takut. Bahkan tanpa perlu diceritakan pun, air mata yang terus mengalir dari kedua matanya sudah dapat memperlihatkan seberapa takutnya Ali saat ini.

Ali tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Pita. Ali takut Pita akan meninggalkannya.

Apabila salah satu dari kedua hal yang ia khawatirkan terjadi,

Ali berjanji akan menghukum dirinya sendiri.

















"Maaf ya, Pit. Lagi pula itu konsekuensinya karena lo udah matahin perasaan Izroil," kata Delima setelah taksi yang Ali dan Pita tumpangi bergerak semakin jauh.

𖣴⵿⃜⃟᭢·· · · · ──────── · · · ·𖣴⵿⃜⃟᭢

Di koridor rumah sakit yang lumayan sepi Farhan berjalan tergesa mencari keberadaan ruang IGD di mana Ali memberitahu bahwa itu merupakan tempat Pita dirawat. Farhan yang tampak panik masih lengkap dengan jas kantornya.

Semakin jauh Farhan melangkah, iris matanya mulai menangkap keberadaan Ali yang tengah duduk di kursi tunggu rumah sakit sambil menangkup wajahnya di kedua telapak tangan yang berlumur darah. Ali terlihat begitu kacau. Wajahnya tak dapat dilihat, tetapi bahunya jelas bergetar menandakan bahwa lelaki itu sedang menangis hebat tanpa suara.

𝗜𝗻𝗱𝗶𝗴𝗼 𝗞𝗲𝗿𝗲𝗻 : 𝗜𝗜 [𝗡𝗲𝘄 𝗩𝗲𝗿𝘀𝗶𝗼𝗻] ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang