Setelah berhasil terlepas, lengan Ardella seketika ditarik oleh temannya yaitu Rio, untuk bersembunyi di belakang tubuhnya.
Pria yang termasuk kakak kelas Ardella itu menatap tajam ke arah Rio. Terlihat sangat jelas dari rahangnya yang mulai mengeras menandakan bahwa pria ini menahan emosi yang kian membara.
Pria ini langsung menarik kerah baju Rio, hingga mereka saling menatap tajam satu sama lain.
"Ada urusan apa lo ikut campur masalah gue?" tanya pria itu menekan setiap kalimatnya.
Rio menepis tangan pria itu dari kerah bajunya. Ia menjentikkan jari telunjuknya di kening pria itu.
"Gue paling tidak suka jika ada pria berani kasar terhadap wanita."
Pria itu tidak terima dengan ucapan Rio.
Brugghh ....
Satu pukulan keras dan terdengar sangat nyaring berhasil mendarat di pipi sebelah kanan Rio hingga dirinya tersungkur ke lantai. Rio merasakan pening di kepalanya pada akhirnya ia tak sadarkan diri. Ardella yang melihat itu segera menghampiri Rio dan duduk bersimpuh membantu Rio. Terlihat suudut bibir temannya ini terluka mengeluarkan cairan berwarna merah.
Ardella menangis melihat Rio. Seketika ia pun beranjak berdiri menghampiri kakak kelasnya itu. Namun, seringai senyum mewarnai wajah pria itu.
Setelah mereka saling berhadapan dengan jarak lumayan dekat. Ardella menatap wajah pria di hadapannya dengan penuh rasa kecewa.
"Aku mohon jangan seperti ini kak ...." lirihnya.
Pria itu tidak menggubris ucapan Ardella, namun ia dengan cepatnya menarik pinggang Ardella hingga posisi mereka saat ini begitu dekat.
Gunung kembar menempel di dada milik pria itu. Ardella memberontak, telaga bening itu seketika mengalir deras di permukaan pipinya. Namun tenaga yang ia miliki tak sebanding dengan cengkaraman kuat di pinggangnya. Seketika pria itu mendaratkan benda kenyal miliknya di bibir Ardella dengan cepat dan kasar.
Ardella menangis, Ia trauma meningat malam itu kembali terngiang di kepalanya. Ia mencoba melepaskan pagutan itu namun tetap tenaganya tak sebanding. Saat ini, dirinya benar-benar sangat malu. Banyak siswa-siswi yang baru datang langsung menonton dan merekam kejadian itu tanpa menolong Ardella sedikit pun.
Rio yang baru sadar, melihat ke arah pria yang tengah melecehkan Ardella. Ia benar-benar dipenuhi api yang membara, berkobar dalam jiwanya. Rio bangkit, mengepalkan kedua tangannya.
Ia mencengkaram kuat tangan pria yang melingkar di pinggang Ardella lalu menepis tangan itu hingga Ardella terlepas kembali. Ardella terduduk lemas, tak berdaya. Ia benar-benar sangat malu, hanya bisa menangis dan terus menangis tak henti.
Rio menarik tangan pria itu menuju sebuah lapangan olahraga. Terjadilah perkelahian di antara keduanya.
Waktu yang masih terlalu pagi, hingga belum ada satu pun guru yang datang ke sekolah. Suasana sekolah yang tidak tampak begitu ramai, hanya ada sebagian siswa-siswi yang baru berdatangan.
Rio benar-benar tidak bisa mengontrol emosi yang kian membara. Ia menatap jijik ke arah pria itu.
"Dasar keparat tidak tahu diri. Lo pecundang."
Bruggh ....
Pukulan demi pukulan terjadi sangat begitu sengit di antara keduanya.
"Lo gak sadar, apa yang barusan lo lakukan?" tanya Rio menatap tajam.
"Hahaha ... memang itu dari dulu yang gue mau."
Brughh ....
Tak berapa lama datang dua orang satpam yang berjaga di sekolah, memisahkan kedua pria yang tengah berkelahi lalu membawanya ke sebuah ruangan.
Ardella hanya berdiam diri dengan tatapan kosong, tubuhnya bergetar hebat.
Tak berapa lama, sahabat Ardella yang bernama Melodi baru sampai di sekolah. Pandangan matanya tertuju pada kerumunan siswa-siswi. Melodi pun berlari mendekati kerumanan itu. Tampak mereka semua sedang membicarakan seseuatu yang terlihat begitu serius. Melodi menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
Ia menepuk bahu seorang siswi lalu bertanya karena kerumunan yang mulai ramai menjadikannya sulit melihat jelas kejadian yang sedang terjadi.
"Sis, itu ada apa?" tanyanya dengan raut wajah kebingungan.
"Melodi, kamu baru datang ya?"
"Iya, cepat katakan di sana ada kejadian apa?"
"Itu temanmu Ardella, ia habis dilecehkan oleh kakak kelas."
"APA?"
Seketika Melodi berlari menerobos kerumunan itu. Benar saja, Ardella ada disana duduk bersimpuh dengan cairan yang terus mengalir.
"DELLA?" teriaknya.
Ardella tidak menggubris teriakan itu, ia hanya menangis ketakutan. Melodi menghampiri sahabatnya lalu memeluknya dan ia ikut menangis.
"Della, kamu tidak apa-apa?"
Namun Ardella tetap tidak menjawab, ia hanya mengeratkan pelukan pada sahabatnya itu.
"Della, ayo berdiri kita ke UKS!" ajaknya.
Melodi pun membantu Ardella berdiri untuk menghindari kerumunan itu. Ia membawa Ardella menuju ruang UKS. Melodi melihat bibir Ardella yang terlihat bengkak dan sedikit mengeluarkan darah. Ia mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi pada sahabatnya ini.
Melodi menangis melihat sahabatnya, ia menyesal telah datang terlambat untuk menyelamatkan Ardella. Mungkin jika ia datang tepat waktu, ia sudah menghajar kakak kelas itu.
"Della, katakan siapa yang melakukan ini?"
Ardella hanya diam dengan tubuh yang bergetar hebat. Mungkin, Melodi tidak seharusnya menanyakan hal itu sekarang. Ia mulai membantu mengobati bibir Ardella.
Sepuluh menit berlalu, datang seorang guru yang tak lain adalah wali kelas Ardella.
Guru itu melihat kondisi Ardella yang tidak memungkinkan untuk mengikuti pelajaran. Wali kelasnya itu berlalu keluar dan seketika menelepon.
***
Perusahaan Neo City
Kelvin tengah sibuk dengan berkas-berkas yang menumpuk di atas mejanya. Setelah satu minggu ia cuti, kini banyak berkas yang harus di tanda tangan.
Tapi perasaannya saat ini benar-benar tidak enak, ia jadi teringat Ardella. Mungkin ini yang dinamakan rindu, selalu datang ketika sedang berjauhan tanpa komunikasi.
Kelvin tersenyum dan kembali fokus membaca berkas lalu menanda tangan.
Tiba-tiba dirinya terkejut saat ponsel di sampingnya berdering, ia sangat senang pikirnya Ardella yang menelepon namun tebakkannya salah.
Nomor telepon asing muncul di layar depan ponselnya. Awalnya, Kelvin tidak mengangkat telepon itu, tapi nomor itu menelepon berulang-ulang akhirnya ia mengangkat telepon itu.
"Hallo pak,"
"Maaf, anda siapa?"
"Ini pak, saya guru sekaligus wali kelasnya Ardella."
"Oh ..."
Apa? hanya kata "oh" apa dia memang seperti ini. Gumam guru itu.
"It-Itu pak, saya mau memberi tahu bahwa di sekolah terjadi pelecehan, korbannya Ardella."
Kelvin terkejut mendengar kabar buruk itu, ia kalang kabut, panik disertai khawatir.
"APA?" bentaknya begitu sangat nyaring.
"Bagaimana keadaan Ardella, apa baik-baik saja?"
Mendengar kepanikan disana, guru itu tersenyum.
"Sebaiknya bapak segera kemari!"
Sambungan telepon terputus, Kelvin berusaha menghubungi Ardella. Namun, tidak ada jawaban sama sekali. Saat ini, ia benar-benar panik lalu meraih kunci mobil berlalu menaiki lift berlalu keluar dari perusahaan itu. Kelvin sudah menyuruh sekretaris pribadinya untuk sementara menggantikan pekerjaannya.
Kelvin melajukan mobilnya diatas rata-rata. Ia ingin segera sampai ke sekolah untuk mengetahui keadaan istri mungilnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Terpaksa Menikah
Teen FictionJangan lupa di follow kakak;) Warning! 18+ Seorang gadis yang masih duduk di bangku sekolah terpaksa harus menikah dengan pria kaya untuk melunasi hutang ayahnya. Kelvin Aditya Pratama seorang pria tampan berkulit putih susu, memiliki tubuh yang kek...
