"Tampil jam berapa?"
"Jam sepuluh,kalau urutannya nggak geser lagi."
"Oke deh,nanti aku nonton."
Ardan memerhatikan Wicak yang sedang di make up di ruang seni. Mereka yang berlomba akan berangkat bersama sebagai dua kontingen menggunakan dua bis sekolah. Lokasi lomba mereka di SMP 5,sekolah Heru kalau kalian lupa.
"Tama."
"Hm?"
"Aku akan sangat marah kalau kau nggak menonton aku tampil nanti." ucapnya sambil berdiri,make up nya telah selesai.
"Aku juga akan marah pada diri ku sendiri kalau sampai itu terjadi."
Mereka berjabat,mengingatkan soal janji mereka yang akan berjuang pada bidang masing-masing.
"Aku duluan,harus gladi sedikit dulu." Wicak menepuk bahu temannya itu,Ardan cuma bisa tersenyum mengangguk.
Ardan tahu sekali,ini adalah momen yang paling ditunggu Wicak sedari dulu. Tampil dengan gagah dan bergerak penuh arti selaras dengan musik. Mulutnya tidak bicara,tapi gerakan lihai tubuhnya sudah bercerita dengan lugas apa makna yang tersirat.
Lagi,Ardan tahu sekali bagaimana perjuangan temannya itu. Mulai dari seleksi yang nyaris mematahkan lengan Wicak,hingga latihan ketat sampai petang. Bahkan Ardan bersumpah melihat Wicak terkadang muntah di toilet sekolah. Juga melihat beberapa memar biru yang ada di tubuhnya.
Tapi Ardan bisa apa selain mendukung temannya?. Meski begitu banyak keringat yang mengalir,tak pernah sedikitpun Ardan mendengar Wicak mengeluh. Justru ia bisa melihat betapa senangnya temannya itu bisa melakukan hal apa yang dia sukai.
Kadang dia jadi berpikir,apa hal yang sebenarnya dia sukai?
Apakah matematika?mungkin tari juga? Atau hal yang lain? Entahlah,masih abu-abu. Ardan jujur saja kalau olimpiade ini bukan goals nya. Dia ingin seperti Wicak,melakukan apa yang disukai bukan apa yang ia bisa. Pun dia terpilih karena gurunya menganggap dia mampu,dan itu memang benar. Seratus soal olimpiade tahun kemarin saja bisa diselesaikannya,tanpa cacat.
Namun,beda. Ia tidak tahu persis segimana bahagianya Wicak bisa membawa nama sekolah dengan hal yang memang dia suka,tapi Ardan tahu kalau rasanya pasti beda dengan yang dia rasa sekarang. Ada hal semacam kosong? Atau hampa? Yang dia rasa,meski tidak pasti.
Satu hal yang jelas,Ardan belum menemukan hal yang ia sukai. Hal yang bisa dengan rela dia lakukan, bukan karena suruhan.
Ardan menghela napas,dia keluar dari ruang seni menuju ruang OSIS. Bukan,ia tidak dalam kegiatan OSIS,sungguh dia hanya menitipkan tasnya di sana karena dirasa aman.
Dia mengambil ranselnya,berjalan menuju lorong masuk sekolah. Di sana lumayan ramai,karena yang berlomba tidak hanya dari tari juga matematika,juga ada sains,bahasa inggris,dan sastra indonesia. Mereka sibuk dengan persiapan,ada yang menghapal materi,menghapal naskah,juga rumus. Sedang dirinya hanya berjalan-jalan,melihat-lihat piala yang dipamerkan di sana. Tidak ada niatan untuk belajar lebih atau usaha untuk mengingat-ingat rumus.
Ada satu piala,besar juga tinggi. Tertulis 'juara 1 Olimpiade Matematika Nasional'.
Apakah ini tujuannya?.
Ardan kembali memerhatikan teman-teman yang sibuk belajar.
Apakah mereka semua melakukan hal ini karena memang menyukai?
Ardan melihat ke lemari kaca itu,melihat sedikit pantulan dirinya.
Atau seperti aku yang ikut hanya karena suruhan juga dianggap mampu?
KAMU SEDANG MEMBACA
MAGIC √ [SUDAH TERBIT]
Fanfic[Tersedia di Shopee] [ Namseok Local AU ] [COMPLETE] . . . "Kak." "Ya?" "Wicak itu penyihir ya?" Karena Ardan selalu berpikir bahwa semua penyihir akan memakai sebuah tongkat atau topi lancipnya, tetapi setelah melihat Wicak, rasanya dua benda itu t...
![MAGIC √ [SUDAH TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/227061594-64-k567287.jpg)