Mitos Pernikahan

680 32 0
                                        

By adiblatahzan

***

Andika, itulah namamu. Kamu merupakan suami dari sosok wanita cantik yang bernama Ayu. Pernikahan kalian sudah berjalan selama lima tahun, kata orang usia pernikahan lima tahun merupakan usia yang pasti ada ujian berat ke sebuah pernikahan, kamu tahu hal itu, rasa takut menyelimuti hari-harimu. Kamu mencoba menepis omongan orang itu, tetapi hal itu ternyata bukan hal mudah.

Pagi itu kamu bangun seperti biasa. Namun, ada yang berbeda di pagi ini. Hari-hari lalu Ayu selalu menyiapkan secangkir kopi hangat di meja kamar kalian, kini tak ada lagi.

Kamu pun memanggil istrimu, "Ma, kopi mana?"

"Maaf, Pa. Mama lupa."

Kamu mulai gelisah, karena selama ini Ayu tidak pernah lupa akan hal itu, kecuali memang dia sakit atau tidak sempat. Namun kini? Dia hanya di dapur, tetapi dia lupa. Kamu mencoba berpikir positif dan menunggu secangkir kopi hangat yang biasanya dibuat dengan penuh cinta. Tidak lama kemudian, Ayu pun datang dengan membawa secangkir kopi hangat, kamu pun menyambutnya dengan senyuman, Ayu juga tersenyum. Namun entah mengapa, kamu merasa senyum Ayu pagi ini berbeda, tetapi kamu kembali berpikir positif atas istrimu yang cantik jelita ini.

Kamu minum kopi hangat tersebut, kamu merasakan rasa yang sama seperti hari-hari sebelumnya, hal itu membuatmu sedikit tenang. Ayu pun pamit untuk melanjutkan pekerjaan di dapur, kamu pun mengangguk diiringi dengan senyuman di wajahmu.

Kamu pun selesai minum kopi, kemudian kamu mandi seperti biasa, selesai mandi, kamu langsung menuju ruang makan untuk sarapan.

"Pa, andai kita punya anak. Pasti tak sesepi ini," keluh Ayu yang membuat jantungmu seakan berhenti berdetak.

"Sabar, Ma. Nanti pasti ada saatnya."

Saat mendengar jawabanmu, Ayu hanya tersenyum tipis. Kamu tahu senyum itu bukan senyum yang ikhlas. Namun, kamu tetap balas dengan senyuman.

Tidak lama kemudian kalian sudah selesai sarapan. Ini hari Rabu, kamu berangkat ke kantor seperti biasa, begitu juga Ayu, dia seorang guru di sebuah TK dekat rumah kalian.

Sesampainya di kantor, kamu langsung menuju ruanganmu. Kamu kemudian bekerja seperti biasa, tak berapa lama kemudian pintu diketuk.

"Masuk!" katamu.

"Permisi, Pak. Saya mau minta tanda tangan Bapak untuk beberapa berkas yang harus Bapak tanda tangani," kata Anggi.

"Sini."

Di luar dugaan, ternyata Anggi mendekatimu yang masih fokus menatap laptop. Kamu tentu kaget. "Kenapa kamu sedekat ini?"

"Kata Bapak tadi 'sini', ya saya mendekat dong, Pak."

"Bu-bukan kamu yang ke sini," katamu agak tergagap. Kamu bisa melihat dengan jelas belahan dada Anggi yang aduhai.

"Kenapa, Pak? Saya salah?"

Anggi mundur, tetapi dia seakan tahu kalau kamu tertarik dengan buah dadanya, dia sengaja tidak menutup celah-celah kancing bajunya.

"Bapak lihat apa?" lanjut Anggi.

"O, enggak kok. Enggak apa-apa," jawabmu dengan gugup.

"Apa Anggi salah, Pak?"

"Ti-tidak, kamu tidak salah."

"Kalau begitu, saya permisi dulu ya, Pak."

"Jangan dulu, tunggu di sini saja," katamu sedikit menggoda.

Anggi hanya tersenyum dan duduk di depanmu. Anggi mungkin karyawan lama, tetapi selama ini kamu tidak pernah memedulikan dia, karena kamu tahu kalau kamu punya istri di rumah yang sangat cantik. Namun kali ini berbeda, kamu merasa tertarik dengan Anggi setelah dia mendekatimu tadi.

AFFAIRTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang