New tersentak bangun dari tidurnya. Napasnya memburu.
Ia berada di mobil dan badannya tertutup oleh selimut. Pakaiannya lengkap.
New terbangun dari posisinya dan mulai duduk di sudut mobil. Ia melihat Tay yang tertidur dengan keadaan tangan terlipat serta kepalanya yang bersandar pada kaca mobil. New langsung mengambil selimutnya dan meletakkannya di tubuh Tay.
Hari masih gelap gulita. Tidak ada satu pun bintang yang meneranginya dalam kegelapan malam. New melihat ponselnya—jam 2.19 dini hari.
New mengangkat kakinya dan menaruhnya di atas jok mobil dan memeluknya erat.
New menarik napas panjang. Ia memegang kepalanya. Yang tadi cuman mimpi ?
It feels too real to be a dream.
New berusaha mengingat-ingat kejadian semalam. Kepalanya terasa sangat pusing. Ia berusaha melakukan kilas balik pada memorinya, tanpa sengaja menyenggol sesuatu yang ia harap tidak pernah terjadi.
New melihat tangannya yang bergetar.
Tidak.
Napasnya perlahan-lahan tidak stabil. New mengepalkan tangannya dengan keras, tanpa menyadari kuku jarinya yang sudah menancap ke dalam kulit dan berdarah.
Kumohon jangan sekarang. Tidak di depan Tay.
Jangan. Jangan. JANGAN.
HENTIKAN KUMO—
"NEW !" New mendengar seseorang berteriak memanggil namanya. Matanya langsung membelalak. Yang tadi juga mimpi ?
Tay melihatnya dengan tatapan khawatir. Matanya menyorotkan kebingungan yang amat besar. Tangannya mengenggam tangan New dengan erat, seolah-olah berusaha menenangkannya.
New kehilangan kontrol akan ekspresinya untuk sesaat.
Tay diam tidak berkutik. Walaupun hanya sekilas, Tay dapat melihat sorot mata New yang penuh keputusasaan dan ketakutan.
Tay mulai mengusap tangan New dengan jarinya. New masih melihat sekitarnya dengan tatapan kosong. Tak kuasa melihatnya, Tay langsung memeluknya dan mengusap punggungnya erat.
"A-aku..." New berusaha mengeluarkan suaranya walaupun terbata-bata. "T-Tay ak-aku—"
Tay dapat merasakan tubuh New yang berguncang hebat. "Calm down. I'm here." Kemudian Tay mengangkat tangannya untuk mengusap rambut New dengan lembut.
New berusaha untuk menguasai kembali dirinya, dan ia berhasil. Ia mendorong badan Tay pelan supaya ia melepas pelukannya.
Tay masih memandangnya dengan khawatir. New menyandarkan kepalanya ke jok mobil dan memejamkan mata. "It's alright. I'm fine."
"Kepalamu pusing ?" Tay bertanya sambil melihat sekitarnya. Mobil mereka terparkir di ujung jalan dekat jalan utama. "Aku ingin membeli sesuatu. Kamu tidak apa-apa jika aku tinggal sebentar ?"
New menganggukkan kepalanya pelan. Tay meninggalkan mobil menuju supermarket dua puluh empat jam di seberang jalan.
Matahari masih belum menampakkan diri. New melihat jam di layar ponselnya-jam 05.18 pagi. Ia menarik napas panjang.
Jalanan masih sepi. Tidak banyak lampu jalan yang menyala, padahal posisi mereka dekat sekali dengan jalan raya. New membuka kunci sandi ponselnya dan memeriksa jika ada pesan untuknya.
Kepalanya terasa berdenyut. Ia tidak tahu jika ini penyebabnya merupakan dirinya yang terlalu mabuk semalam atau mimpi yang didatangkan kepadanya. New mengingat bahwa ia hanya minum segelas gin, kemudian—
KAMU SEDANG MEMBACA
coincidental | taynew
Romance𝖈𝖔·𝖎𝖓·𝖈𝖎·𝖉𝖊𝖓𝖈𝖊 /𝖐ōˈ𝖎𝖓𝖘ə𝖉ə𝖓𝖘/ 𝕬 𝖗𝖊𝖒𝖆𝖗𝖐𝖆𝖇𝖑𝖊 𝖈𝖔𝖓𝖈𝖚𝖗𝖗𝖊𝖓𝖈𝖊 𝖔𝖋 𝖊𝖛𝖊𝖓𝖙𝖘 𝖔𝖗 𝖈𝖎𝖗𝖈𝖚𝖒𝖘𝖙𝖆𝖓𝖈𝖊𝖘 𝖜𝖎𝖙𝖍𝖔𝖚𝖙 𝖆𝖕𝖕𝖆𝖗𝖊𝖓𝖙 𝖈𝖆𝖚𝖘𝖆𝖑 𝖈𝖔𝖓𝖓𝖊𝖈𝖙𝖎𝖔𝖓. . WARNING ! There will be some mature...
