XX. You're Not Ready

2.7K 319 17
                                        

Tay menunggu New dengan tenang, namun tidak bisa dipungkiri bahwa hati kecilnya sangat mengkhawatirkan New.

Seingin-inginnya Tay untuk menyusul New, dirinya tetap menunggu New dengan sabar. Tay tidak bisa melanggar batas privasi New seenaknya, apapun alasannya. Tay sudah menunggu selama kurang lebih satu jam sambil memakan cemilan yang ia sempat beli sebelum masuk ke dalam penginapan untuk menahan rasa laparnya.

Sebelum melangkah pergi ke penginapan, New tersenyum simpul kepadanya terasa begitu pilu.

Malaikatnya memiliki senyum yang menenangkan badai sekalipun, however

He is wounded.

Terribly.

Tay merasa marah pada dirinya sendiri. Ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk malaikatnya.

Apa hanya berada di sampingnya cukup ? Tay sangat meragukannya.

Tak lama kemudian, ekor mata Tay menangkap sosok New yang sedang berjalan masuk ke lobi penginapan. New berhenti berjalan ketika melihat Tay menghampirinya, kemudian keduanya saling menatap dalam diam.

Tay memutuskan untuk tidak bertanya apapun terlebih dahulu, ia langsung menggenggam tangan New dan menariknya menuju kamar. Tay tidak ingin menjadi bajingan yang tidak bisa melihat situasi dan kondisi orang terkasihnya yang begitu berantakan.

Haruskah aku menepuk bahunya ? Memeluknya ? Atau memberikan kata-kata penghiburan ? Tay takut jika dirinya salah bertindak. 

Pada akhirnya, Tay merengkuh New dari belakang, mengalungkan kedua tangannya pada tubuh New dengan lembut. Tay mencium rambut New yang wangi seperti bayi. New tidak mengelak ataupun membalas afeksi Tay, dirinya hanya berdiam diri seperti benda mati.

"You must be tired," ujar Tay. "Kita istirahat saja, okay ?"

"Tay..." Suara New terdengar begitu lirih.

"Ne—mhhghh," New membalikkan badannya, lalu membungkam mulut Tay dengan sebuah ciuman.

Tay terperangah, tentunya. Ini terlalu tiba-tiba.

Tidak hanya itu, New juga mendorong tubuh ke kasur dan duduk di atas pangkuannya. "Hei, hei—"

"Shut up," potong New pelan. "Diam dan nikmati saja."

"Tidak," Tay berucap dengan nada yang tajam. "Kau melakukannya dengan salah jika ingin memuaskanku." Tay bangkit, kemudian dengan sengaja menyentak New dengan kasar di ranjang.

New terpaku dengan sorot mata Tay yang menatap dirinya dengan tegas. Mata Tay yang berwarna hitam legam seolah-olah merasuki dirinya, membuatnya bergeming.

"Babe," ucap Tay dengan suara berat. "You're not ready for this."

"Anda salah besar, Mr. Vihokratana," desis New. Dirinya menarik tengkuk Tay agar mendekat ke arahnya, kemudian membungkamnya lagi dengan sebuah ciuman. "Jangan remehkan ak—"

"Try kissing me again," potong Tay.

New bergerak untuk melumat bibir Tay kembali. Tay membalasnya—kali ini dirunya yang mengambil kontrol. Tay benar-benar membuatnya tidak bisa berkutik. New akui, Tay memang lihai dalam hal ini—tenaganya terasa terkuras habis hanya dengan sebuah ciuman mematikan dari Tay.

"Begitu caranya," New mendorong dada Tay sedikit kencang agar ciuman mereka terhenti, dan New juga membutuhkan oksigen untuk paru-parunya. Napasnya terengah-engah, bahkan dirinya dapat melihat tautan saliva mereka yang masih terjalin.

coincidental | taynewTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang