Happy Reading.
Jessica masuk ke rumahnya setelah selesai mengunjungi Revan. Baru satu langkah Diva sudah tersenyum melihat kedatangan putri tirinya itu. "Jessica? sini duduk, Tante pengen liat muka kamu biar dede bayinya cantik kaya kamu," katanya
Jessica tersenyum, berjalan ke arah Diva. "Kalo dede nya cowok gimana?"
"Nggak apa-apa dong, malahan bagus kamu punya adik cowok. Iya, 'kan?"
Jessica mengangguk, entah ada angin apa dia ingin berada dekat Ibu tirinya.
"Kamu habis dari Rumah Sakit jenguk Revan ya?" Tanya Diva.
"Iya, kok Tante tau?"
"Mella, tadi dia sempet pulang marah-marah. Katanya dia liat kamu di sana dan juga temen kamu katanya bentak dia," ujar Diva, sedikit ragu mengatakannya.
Jessica canggung sendiri, Mella tadi ternyata mengadu pada ibunya. "Maafin temen Jessica soal itu-"
"Nggak apa-apa kok, Tante denger dari Papah kamu ... dulu katanya kamu pacar Revan kan? Dan putus karena Mella?"
"Eh, enggak kok. Bukan karena Mella, tapi emang kita sepakat buat putus ..."
❀❀❀
"Kamu kenapa sih Mel?" Tanya Revan.
Mella makin cemberut, "kamu tuh yang kenapa, ngapain kamu pegang pegang tangan Jessica, jangan jangan kamu selingkuh?"
"Buset, ngeri." Devon bergidik ngeri dengan sifat Mella yang posesif dan pikirannya selalu dipenuhi kecurigaan.
"Kok si Revan tahan digituin," bisik Panji pada Devon.
Devon terkekeh, menendang kaki Panji yang suaranya agak keras. "Sst, Pacar gue aja nggak segitunya."
"Nah iya, tapi cewek lo serem pas marah anjir," kata Panji lagi dan hanya dibalas anggukan oleh Devon.
Revan menatap tajam teman-temannya yang berisik. "Enggak, muka kamu kenapa tadi pas masuk pertama kok masam gitu."
Mella mengambil posisi yang enak untuk duduk, dia langsung menggenggam tangan Revan. "Mamah aku kayaknya lebih sayang sama Jessie deh Van, bahkan pas dia hamil pengennya ketemu Jessie mulu."
"Kamu nggak boleh gitu, siapa tahu mamah kamu emang lagi pengen liat wajah cantiknya Jessica."
Mella langsung mendongak menatap tajam Revan. "Jadi maksud kamu aku enggak cantik gitu?" Tanya Mella.
"E-eh enggak gitu maksudnya, kamu cantik kok, lebih cantik dari Jessica malahan." Revan mencoba memberi kode untuk teman-temannya agar mengalihkan topik, tetapi malah keduanya hanya cengengesan.
Revan berdehem sedikit keras, "Aku ngantuk Mel, mau tidur. Kamu disini aja kalo mau, tapi kalo mau pulang juga nggak apa-apa kok."
❀❀❀
Malam telah tiba, rembulan bersinar terang kali ini. Revan masih berada di ruang rawatnya, ia berdiri di depan jendela, memandang ke arah luar. Pikirannya masih tentang seputar Jessica, seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Mella, Nayla dan Ayahnya sudah pulang, hanya ada ibunya di sini yang menjaganya.
"Apa keputusan gue buat tunangan sama Mella itu udah benar?" Gumam Revan.
Flashback on
Revan bangun dari tidurnya ketika di rasa cukup istirahat. "Loh? Mella? Kamu masih disini?" Tanya Revan.
Mella yang tadi fokus dengan ponselnya kini mendongak dan tersenyum. "Iya, aku nungguin kamu bangun."
"Nggak capek? nggak pulang aja?"
"Enggak Van, aku takut kalo aku pulang- Jessica bakal kesini lagi."
Revan menghela napas pasrah, "Mel, kamu nggak perlu se-khawatir itu. Misal kalo Jessica datang kesini palingan cuma ngasih buah doang."
"Ya tapi aku takut kalo kamu jatuh cinta lagi sama Jessica, Rev."
Ya kan emang masih cinta kok.
"Apa yang harus aku lakuin biar kamu ga khawatir aku selingkuh atau apapun itu?" Tanya Revan, terlihat Mella sedang memikirkan sesuatu setelah dia mengatakan hal itu.
"Kamu harus janji dulu," kata Mella.
"Iya, sayang."
"Kita tunangan."
"HAH?!" Revan sedikit berteriak saat Mella mengatakan hal tersebut.
"Iya, aku maunya kita tunangan kalo udah lulus. Cuma cara itu yang bikin aku percaya kalo kamu nggak bakal pergi ataupun selingkuh dari aku," ujar Mella, perempuan itu tersenyum menunggu jawaban Revan.
"Kalo itu mau kamu ... aku setuju. Kita tunangan setelah lulus."
YESSS!
"Makasih," kata Mella, mengecup pipi Revan. Hatinya berbunga-bunga sekarang.
Revan termenung sebentar, ia tadi berjanji, apalagi berjanji soal pertunangan. Dia takut suatu saat akan mengingkari janji itu.
Flashback off.
"ALAH SIAL! KENAPA SIH GUE!"
Revan memukul tembok disampingnya, membuat Ibunya terbangun dari mimpi indahnya. "Van? Kenapa? Kamu butuh apa sayang?" Tanya Ibunya yang sudah khawatir.
"Eh-enggak kok Mah, Revan tadi cuma kesel gara-gara ada kecoa lewat."
Mata Lia memicing ketika ia merasa anaknya berbohong. "Bener?"
"Iya Mah, oh iya Mah aku mau minta sesuatu dari Mamah." Revan berkata dan langsung berjalan ke arah sofa tempat ibunya tidur.
"Apa?" Katanya mengelus rambut putranya yang sudah dewasa sekarang, dulu Revan lebih pendek darinya dan sekarang dia sudah lebih tinggi darinya.
"Revan pengen tunangan sama Mella," Kata Revan.
"APA?!"
❀
Halo preen, maaf ya preen agak freak di part ini.
Vote komen jangan lupa
Tbc.
KAMU SEDANG MEMBACA
AN INCIDENT [END]
Teen Fiction[LENGKAP] Hanya sepenggal kisah cinta antara Jessica, Revan dan Mella. cerita ini aneh, jangan di baca, apalagi di plagiatin. End: 20 Oktober 2021
![AN INCIDENT [END]](https://img.wattpad.com/cover/230238035-64-k827650.jpg)