bagian tiga puluh

116 9 2
                                        

Selamat membaca

“assalamualaikum kak.”
Sejak sepuluh menit yang lalu Naysilla tidak bersuara. Cewek itu hanya sibuk dengan pikirannya sendiri. Akhirnya sekarang ia mengeluarkan suaranya untuk menyapa seseorang yang sangat ia rindui.

“kakak gimana kabarnya disana,pasti baik”
Naysilla tersenyum manis.

“Cilla kangen sama kakak. Kehidupan disana pasti enak ya kak. Gak kayak disini,semuanya kejam.” Celoteh Naysilla dengan air mata yang terus bercucuran,lewat air mata ia menceritakan kerasnya kehidupan yang ia jalani sekarang. Seolah kesedihan terus menghampiri dirinya, tanpa memberi kesempatan buat tersenyum bahagia. Sebentar saja.

“kapan kakak bisa peluk cilla lagi? cilla kangen pelukan kakak. Cilla kangen kita dulu yang sering berantem gak jelas. Cilla kangen nasehat kakak. Cilla butuh Kakak sekarang, temani cilla melewati kerasnya dunia ini,rangkul cilla saat cilla rapuh.” Ucap Naysilla begitu memohon.

Namun sayangnya, apa yang ia minta sekarang tak akan bisa terwujud.

Kehidupan ia dan kakaknya sudah berbeda.

“Emm.. Terakhir kali kakak ngomelin pas cilla masih kecil, ingat gak kak?" Naysilla mulai asik bercerita seolah kakaknya sekarang ada di hadapannya.

" Waktu itu cilla rusakin mainan kakak,terus kakak nangis gara-gara mainannya cilla rusak. Kakak omelin cilla sampe cilla ikutan nangis."
Naysilla memaksa bibirnya untuk tersenyum. Ia tak mau terlihat lemah dihadapan kakanya. Namun semakin ia paksa semakin semakin sesak rasanya.

Air matanya tanpa diminta terus membasahi pipinya. Lewat air mata ia mengadu tentang badai yang menghancurkan istana kecil kebahagian yang baru ia bangun.

“sekarang cilla udah gede lho kak. Mungkin kalo kakak gendong cilla gak akan kuat lagi. Hehehe.”

Sebisa mungkin Naysilla menahan isak tangisnya, mulutnya ia bungkam kuat kuat. Setelah sedikit tenang,ia menegakkan tubuhnya. Air mata yang membasahi nisan bertulis nama kakak yang sangat ia sayangi,diseka dengan punggung tangannya. Senyum terbaiknya diusung meskipun air mata tak berhenti mengalir.
Masih banyak yang ia ingin ceritakan disini.

“Tak terasa sudah lama,kakak gak ada disamping cilla. Cilla berharap banget bisa kembali dipertemukan sama kakak. Bismillah ya kak.”

Sudah satu jam Naysilla jongkong dihadapan makan kakaknya. Air matanya tanpa henti membasahi wajahnya. Luka belum mengering semakin menganga lebar setiap kali ia menceritakan tentang bagaimana beratnya kehidupan yang ia jalani. Orang terdekatnya yang justru membawa ia di titik terendah. Hampir tak sanggup ia melanjutkan kehidupannya. Begitu banyak rasa sakit yang menghantam hatinya.

Berat.

Capek.

Ingin menyerah.

Setidaknya itu yang Naysilla rasakan sekarang.

Begitu merindukan peluk hangat penuh ketenangan,Naysilla memeluk erat nisan kakaknya. Perlahan kelopak matanya tertutup bersamaan dengan imajinasinya mulai bekerja. Saat ini ia telah berimajinasi jika nisan yang ia peluk adalah kakaknya. Meskipun  hanya lewat imajinasi,namun cukup memberikan ketenangan buat Naysilla. Sejauh ini imajinasikan yang berperan penting untuk rindu pada sosok kakaknya.

“ ajak cilla ikut kakak,disini cilla sudah capek, gak kuat. Semakin hari semakin berat.” Aduh Naysilla didepan makam kakaknya.

“Andai kakak masih ada disini mungkin kita bisa melalui semuanya bareng, sayangnya hanya cilla yang merasakan. Berat kak rasanya,aku hampir menyerah tapi aku gak mau bikin kakak kecewa. “
Pedih rasanya bercerita dengan seseorang yang sudah tak ada lagi didunia.
Namun mau gimana lagi, itu hanya satu satunya yang bisa membuat Naysilla tenang.

Cerita kepada orang kebanyakan mereka hanya ingin tau tak benar benar peduli. Itu yang membuat Naysilla memilih bercerita dihadapan makam kakanya.  Walaupun dari tadi ia hanya berbicara sendiri, namun ia yakin kakaknya bisa mendengarkan dengan baik dan dapat merasakan apa yang ia rasakan juga.

"Kira kira kalo cilla ikut kakak pasti bahagia ya disana. Cilla rasa kakak sangat bahagia disana,makanya gak mau balik lagi kedunia." celoteh Naysilla yang semakin ngelantur.

Rendy melepas kaca mata hitamnya untuk memudahkannya menyeka air yang jatuh,saat ia mendengar Naysilla berbicara penuh rapuh dihadapan kakaknya. Rendy merasa malu dengan kakaknya Naysilla. Ia merasa gagal tak bisa memberi kebahagiaan kepada Naysilla.

Satu tangan rendy mendarat di punggung Naysilla. Membuat gerakan mengusap untuk memberikan ketenangan. Beberapa detik,Naysilla yang begitu rapuh memeluk erat tubuh Rendy. Seolah rasa benci kecewa yang akhir akhir ini mengendalikan dirinya hilang begitu saja ketika melihat Rendy sekarang dihadapannya.

Cewek  menyembunyikan wajahnya didada bidang Rendy, sebelum menangis histeris untuk melampiaskan kesedihan yang menyesakkan dadanya.

Tidak ada yang bisa Rendy lakukan selain menenangkan Naysilla. Menyatukan kepingan hati Naysilla sampai utuh rasanya sulit. Terlalu banyak luka dihatinya.

“Ren,semuanya sudah hancur,aku gak mau bangkit lagi kalo akhirnya kembali jatuh.” Naysilla mencengkram kemeja putih yang Rendy kenakan.

“kamu masih punya alasan buat bertahan nay,yaitu orang yang benar benar sayang sama kamu.”

“bantu aku ya ren, jangan jauh jauh,aku butuh peran kamu buat nguatin aku.” Pinta Naysilla dengan serius, rendy mengangguk dengan tersenyum.

“pasti sayang,tanpa kamu minta aku akan selalu ada buat kamu. Maafin aku ya.”

Naysilla mengangguk lemah.

“Kunci utama supaya kamu bisa bangkit meskipun dijatuhkan berkali kali adalah Ikhlas dan tetap berprasangka baik sama allah.”

Naysilla kembali mengangguk, sudut bibirnya ikut terangkat ketika sudut bibir Rendy terangkat.

Senyum Rendy yang jarang terlihat mengalirkan energi postif dan ketenangan untuk Naysilla yang begitu menikmati.

“kamu udah selesai ngobrol sama kakak?”

“udah.”

“gimana? Mendingan? “

“mau langsung pulang,apa ada tempat yang mau kamu kunjungi lagi? Aku masih punya waktu buat nemenin kemanapun kamu mau.”

“mau pulang aja,pingin istirahat. “

“kirim doa dulu buat kakak.”

Selesai mengirimkan doa untuk kakak Naysilla. Satu tangan Rendy diulurkan yang langsung disambut oleh Naysilla.

Cowok itu mengirimkan semangat lewat senyuman tipis sebelum membawa Naysilla meninggalkan makan kakaknya.

TBC

Maafin kalo part ini gak jelas banget, feelnya gak dapet,banyak typonya.

Aku ucapin banyak makasih buat yang mau membaca ceritaku yang abstrak ini. Dan love sekarung buat yang selalu nunggu cerita ini update.

Aku ingetin selalu buat vote dan komen. Vote dan komen kalian berharga buat makin semangat update cerita ini.

MY SWEET CAPTAINCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang