"Sejak rumah ini jadi, Bapak sama Ibu gak pernah lihat atau dengar yang aneh-aneh kok."
Ibu menaikan nada bicaranya ketika aku mencoba untuk curhat masalah beberapa hari lalu. Saat setiap kali masuk rumah selalu saja ada suara aneh. Entah menjawab salam atau sekedar berdehem. Sebatas itu yang kuceritakan. Tak kuceritakan tentang Genderuwo yang juga muncul saat itu. Kusudahi pembicaraan kami karena nada bicara ibu sudah mulai meninggi.
"Daripada bahas yang aneh-aneh, ini uangnya. Beli keperluanmu buat acara pembekalan nanti!" Ibu pun pergi setelah meletakkan uang dua puluh ribu di atas pahaku.
Setelah mendaftar di universitas dekat sini, aku sudah mendapat jadwal untuk pembekalan awal. Biasanya sih orang-orang menyebutnya dengan 'Ospek'. Nah, kalau di kampusku disebut sebagai pembekalan mahasiswa baru. Acaranya ada beberapa kegiatan pengenalan kampus dan menginap satu malam.
"Odol, sabun, sampo ... apa lagi, ya?" tanyaku sendiri. Mengingat apa lagi yang harus kubeli.
Setelah tiga minggu di kota, baru kali ini aku keluar rumah. Biasanya Udin yang disuruh ibu beli sesuatu ke warung. Warung yang tak terlalu jauh dari rumah. Melewati lapangan yang biasanya digunakan remaja lelaki untuk main bola, lalu belok ke kanan lima puluh meter.
"Permisi! Beli!" seruku sesampainya di warung.
Datanglah seorang lelaki. Tinggi, gagah, berkulit bersih dan memiliki lesung pipi. Detik itu juga aku sadar, bahwa lelaki ini adalah orang yang mengamatiku saat dia dan teman-temannya bermain bola sore itu.
"Beli apa?" jawabnya datar.
"Odol, sabun mandi, sampo, sama kertas folio." Aku menjawabnya juga dengan datar.
Dia mengambilkan pesananku satu per satu. Lalu memasukkannya ke kantong plastik. Kalkulator yang kini ada di tangannya siap untuk menghitung jumlah uang yang harus kubayar.
"Berapa, semua?" tanyaku.
"Nomor hapemu, berapa?"
Deg! Dia malah menanyakan nomor Hp. Alamak, seolah tau saja kalau aku baru dibelikan Hp oleh bapak. Demi kelancaran kuliah, aku memang harus memiliki ponsel. Karena semua komunikasi jaman sekarang sudah lebih praktis menggunakan benda pipih berlayar terang itu.
Entah apa yang merasuki pikiranku. Dengan cuma-cuma kuberikan nomor Hp-ku padanya. Dia catat di kalkulatornya dan menghitung total belanjaanku justru dengan manual.
"Semua lima belas ribu," tuturnya setelah selesai menghitung dengan jari-jemarinya.
Kuberikan dia uang dua puluh ribu dari ibu tadi. Tak lama dia memberikan kembalian bersama secarik kertas.
"Namaku, Rey. Simpan, ini nomorku!" Selesai sudah kueja tulisan darinya. Caranya yang unik untuk mengajak berkenalan membuatku senyum-senyum sendiri sepanjang jalan.
"Kamu kenapa, Nit? Senyum-senyum sendiri kayak gitu," tanya ibu.
"Gapapa, Bu. Ini kembaliannya." Kuletakkan uang kembalian di atas meja dan bergegas masuk kamar.
Seperti gadis yang lama tak mengisi hatinya dengan cinta, aku merasa sedang berbunga-bunga. Langsung kusimpan nomor lelaki itu di ponsel pemberian bapak. Kunamai dia Rey, seperti yang dia bilang tadi.
Asyik mengutak-atik ponsel baru, tiba-tiba ada sesuatu nampak di layarnya. Seperti ada bayangan hitam menjuntai di belakangku. Bayangan itu terlihat jelas pada layar ponsel. Kuamati lagi dan lagi, justru semakin nyata.
"Allahu Akbar!" Kulempar ponsel ke kasur dan langsung menutup wajah dengan kedua telapak tangan.
Bukan ponselnya, tapi penampakan di belakangku yang membuatku lagi-lagi harus senam jantung. Sudah beberapa kali mata ini harus menyaksikan pemandangan di luar logika itu. Aku jenuh, lelah, takut. Semua perasaan itu membaur menjadi satu.
KAMU SEDANG MEMBACA
PATI GENI
HorrorSebuah kisah yang dihiasi pemandangan menakutkan telah terjadi hanya karena sebuah ritual yang tak disadari. Sebuah tirakat yang harusnya bertujuan untuk kelulusan justru menjadi awal mula kisah hidup seorang Arnita Dinata seperti di neraka. Bak kut...
