13

280 31 4
                                    

Baru bisa update, kemarin-kemarin ada kesibukan mendadak, selamat membaca

--IMB--

Sepulang dari kuliahnya, Dinda langsung pulang menuju rumahnya. Ia dan Aris memang berboncengan menggunakan motor, itu karena Ara memiliki jadwal yang berbeda darinya.

Jam dinding menunjukkan pukul empat sore, Dinda telah menggunakan baju rumahannya yang terlihat santai. Sepulangnya dari kampus ia mendapati rumahnya yang dihias sedemikian rupa, apa lagi kalau bukan acara sosialita sang Mama.

Dinda menghembuskan napas lelah, ia hanya bisa berdiam diri dikamar tanpa mau keluar sama sekali. Zinta sudah sering merayu putrinya untuk sekedar memunculkan wajah dihadapan teman-temannya, tapi Dinda bersikeras menolak.

Terdengar ketukan pelan pintu kamar, Dinda bangkit dengan malas-malasan. Disana sudah berdiri pelayan yang sedang berharap-harap cemas menunggu sang empunya keluar, syukur lah Dinda mau membukakan pintu kamarnya.

"Non Dinda, Nyonya meminta anda untuk ke bawah menemui teman-teman beliau."

See, lagi-lagi Zinta meminta Dinda ikut nimbrung.

Ini bukanlah ajakan yang menyenangkan, Zinta hanya akan berlaku baik jika ada maunya saja. Kalau pun tidak ada acara seperti ini, mana mungkin perempuan paruh baya itu susah-susah membujuk Dinda yang berkarakter kaku dan sangat berbeda jauh dengan dirinya.

"Aku tidak mau!" Ujar Dinda enteng, ia akan menutup pintu sebelum sebuah suara menginterupsi dirinya.

"Mama tidak menerima penolakan kali ini." Zinta melangkah dengan anggun, tapi tatapannya tajam dan menusuk Dinda.

Dinda menatap balik Mamanya. "Cih! Kenapa susah-susah mengajakku? Bukankah selama ini Mama memang tidak pernah mempedulikan aku."

Zinta memelototkan matanya, ia sungguh kesal melihat Dinda yang semakin bertindak semaunya.

"Sekali saja menurut omongan orangtua apa susahnya?! Turun."

Dinda sudah berapi-api, ia segera mendinginkan pikirannya.

"Baik, hanya kali ini aku menurut." Dinda ingin segera menyelesaikan pertemuan sosialita yang sangat menjijikkan ini, semuanya yang hanya membahas uang, perhiasan, dan juga jabatan. Dinda ingin sekali menendang orang-orang itu dari rumah ini.

Zinta tersenyum kemenangan. Namun, kala ia menatap pakaian Dinda seketika itu Zinta mendengus tak suka.

"Baju murahan, cepat ganti! Membuat malu saja."

"Aku tidak mau! Ya, atau tidak sama sekali." Balas Dinda sengit.

Yang ada dipikiran Zinta hanyalah kemewahan, kemewahan dan kemewahan. Dinda lahir atas ketidaksengajaan, dulunya Zinta ingin menikmati hidupnya dengan bebas tanpa bersusah payah memikirkan anak. Tapi, Tuhan berkehendak lain.

Usia pernikahan Zinta dan Troyandi menginjak tiga bulan, Zinta yang merasa mual-mual pun langsung memeriksakan dirinya ke klinik. Hal yang selama ini tidak Zinta inginkan pun terjadi, Zinta dipastikan positif hamil dan kandungannya baru berusia dua minggu. Hal ini membuat Zinta amat kesal, tubuh idealnya akan membengkak kala hamil, apalagi wajahnya juga akan kusam karena lemas seharian.

Namun berbeda dengan Troyandi, pria itu bahagia dengan kabar baik ini. Dengan setengah hati akhirnya Zinta mau menerima kehamilannya, apalagi sang suami sedang mendambakan buah hati.

Benar saja, aktivitas Zinta menjadi terganggu selama kehamilan. Ia sering mual muntah tanpa sebab, perut rampingnya mulai bergelambir lemak karena ia mengidam banyak sekali makanan. Zinta berusaha menekan keinginan ngidamnya, tapi berakhir dengan dirinya yang tersiksa sendiri.

Puncaknya adalah ketika Zinta telah melahirkan, ia langsung menyerahkan perawatan Dinda pada baby sitter. Lebih baik ia mengeluarkan banyak uang untuk membayar pelayan, daripada harus turun tangan merawat anaknya sendiri, Zinta kembali pada pekerjaannya sebagai pemilik butik fashion.

Benar-benar seorang ibu yang buruk.

"Ya, ayo cepat turun." Ujar Zinta dongkol, ia harus menyiapkan kalimat-kalimat yang tepat ketika teman-temannya bertanya mengenai fashion yang Dinda gunakan.

Dinda menuruni anak tangga dengan tatapan datarnya, disana sudah ada lima orang perempuan seumuran Mamanya sedang riangnya bergosip. Dinda mengumpat dalam hati, bisa-bisanya ia harus bertemu dengan mereka.

Orang-orang disana menatap ke arah tangga yang mana Zinta dan Dinda berjalan berdampingan, Zinta sudah mengeluarkan senyuman termanisnya, berbeda dengan Dinda yang kini berekspresi judes.

Ibu dan anak itu sudah duduk disofa panjang, orang-orang disana mulai meneliti Dinda dari atas hingga bawah.

Rambut yang dicepol asal, mata yang menyorot tajam, dan jangan lupa pakaian tidur yang terlihat pudar warnanya.

Mereka semua menatap Dinda dengan mengernyit.

'Apa ini anak dari owner butik terkenal?'

Sedangkan Zinta sudah panas dingin, ia sangat mengerti arti tatapan ke lima orang temannya. Sungguh, Dinda membuatnya malu.

"Ekhemm! Dia adalah anakku satu-satunya, Dinda." Zinta berdehem pelan untuk mengurangi kecanggungan.

"Senang bertemu kalian, saya Dinda." Ujar Dinda memperkenalkan diri.

"Kamu cantik jika mendapat polesan sedikit pada bagian rahang dan dagu, sedikit concealer tak masalah untuk memperlihatkan wajah sempurnamu." Celetuk perempuan yang berprofesi sebagai pemilik salon.

Dinda memaksakan senyumnya. "Terimakasih atas sarannya."

Meskipun dengan penampilan yang apa adanya, Dinda tetap terlihat cantik. Mereka bahkan mulai menjilat dengan kalimat-kalimat busuknya.

Seorang perempuan berambut kemerahan mendekati Zinta, sangat terlihat basa-basinya.

"Jeng, anak kamu cantik. Bolehlah kita besanan? Apalagi sama-sama anak tunggal, anakku tampan kok." Ia mengedipkan sebelah matanya.

Mendengar itu membuat Dinda menatap tajam asal suara, bahkan kali ini ia terang-terangan menampakkan aura permusuhan.

Zinta tersenyum hambar. "Ehh emm.. Boleh, jeng. Kalau anak-anak suka, kenapa tidak?"

Sejujurnya Zinta ingin mengelak, bagaimanapun juga ia tahu betul sifat dan watak Dinda. Mana mungkin anak itu mau menurut begitu saja, tapi sekali lagi ini demi gengsi dan harga diri.

"Maaf tante, saya tidak suka perjodohan. Apalagi jika perjodohan itu didasari oleh harta dan jabatan." Sela Dinda yang sudah muak dengan mereka semua.

Zinta dan orang-orang disana terkejut mendengar nada ketus Dinda. Mereka mulai memasang ekspresi mencela, ini membuat amarah Zinta bangkit ke ubun-ubun.

"Bukan begitu maksud Dinda, anak ini memang suka ceplas-ceplos kalau bicara. Maksudnya adalah, coba saja saling pendekatan terlebih dulu, siapa tahu mereka akan cocok." Zinta menengahi suasana canggung ini.

Dinda memutar bola matanya jengah, jelas sekali bahwa Zinta sedang berusaha menjaga harga dirinya dan mengumpankan sang anak.

"Saya rasa kalian sudah melihat dan mengetahui nama saya, saya pamit undur diri." Dinda berucap dengan dingin, lalu melenggang begitu saja dari ruang tamu.

Ke enam orang yang sedang duduk disana pun tercengang melihat perilaku Dinda yang tidak sopan sama sekali, sedangkan Zinta wajahnya mulai memerah menahan amarah dan malu. Tidak bisakah anak itu menyenangkan dirinya walau hanya sekali saja?

"Jeng Zinta, apa perilaku seperti itu yang kamu ajarkan kepada anakmu?" Sebuah suara menginterupsi, membuat yang lainnya pun ikut menatap Zinta dengan mencela.

Zinta menggertakkan gigi-giginya.

'Awas kamu, Din. Anak tidak tahu diuntung, hanya membuat malu saja!"

(Bersambung)
Pembaca yang baik hati, tolong tekan bintang dan beri komentar membangunnya ya. Terimakasih..

INDRA MATA BATINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang