Ternyata,,, fitur dedikasi hanya bisa diberikan untuk yg udah ngefollow author nya. Tadinya saya mau ngetag someone, tapi gagal karena belum memfollow.
Ini bukan memaksa untuk follow, hanya share info saja. Untuk part ini biar fitur dedikasinya kosong dulu, selanjutnya akan saya kasihkan dedikasi pada pembaca-pembaca setia...
--IMB--
Ara dan Aris telah sampai di rumah mereka, setelah keduanya mengantarkan Dinda sampai kerumah gadis itu terlebih dulu. Kakak beradik tersebut sudah berdamai sejak beberapa jam yang lalu, Ara telah memahami apa yang menjadi pilihan adiknya.
Lagipula, sosok kuntilanak merah penjaga Aris telah membuktikan janjinya. Makhluk gaib itu menolong mereka kala mobil Ara sempat terasa berat ketika dikendarai, rupanya ada sosok jahil penunggu jembatan jalan yang sengaja ikut menumpang bersama mereka.
Untung saja kuntilanak merah tersebut mampu mengusir sosok genderuwo hingga terpental jatuh ke dasar sungai yang terkenal angker, karena dibawah jembatan tersebut lah ada sungai yang menjadi tempat tinggal genderuwo tersebut.
Setelah melakukan tugasnya, kuntilanak merah langsung menghilang disertai kabut merah tipis. Saat itu juga Ara membuka hatinya, ia mulai menerima kehadiran sosok penjaga sang adik.
"Mama sama Papa belum pulang?" Tanya Ara pada adiknya, karena Aris sedang menelusuri rumah melihat kendaraan orangtuanya yang belum bertengger di garasi.
"Belum, mungkin sebentar lagi."
Rumah minimalis berlantai dua itu memang sengaja tidak menggunakan jasa asisten rumah tangga, karena Amina dan Ara lah yang terjun langsung membersihkan kediaman mereka.
Aris menyusul Ara yang tengah bersender pada kepala sofa, tubuh mereka terasa lelah seharian ini.
Seakan teringat oleh sesuatu, Ara segera menegapkan badan hingga membuat Aris sedikit terkejut.
"Ada apa?"
Ara menatap adiknya dengan pandangan menelisik, ia menggigit bibirnya dalam guna menimbang-nimbang suatu hal yang perlu diceritakan.
"Kamu ingat saat hari pertama masa orientasi?" Tanya Ara pada adiknya, fiks ia akan membagi pengalaman mistisnya pada Aris.
Ara tidak ingin menanggung masalahanya sendiri, ia adalah gadis yang mudah curhat pada orang-orang terdekatnya. Namun, Ara cukup membuat jarak pada orang lain, hal ini dibuktikan dengan Ara yang tak memiliki banyak teman ketika di sekolah, bahkan di kampus saat ini Ara hanya dekat dengan satu teman saja.
"Tentu saja ingat, kenapa?" Aris mengangkat kakinya pada meja.
"Saat itu aku melihat penampakan." Gumam Ara, ia mencoba mengingat-ingat kembali kejadian beberapa hari lalu.
Aris terkejut, ia menatap sang kakak dengan pandangan penuh tanda tanya.
"Sosok itu adalah pemuda yang menggunakan seragam khas mahasiswa baru, dia ingin aku memindahkan jasadnya yang entah berada dimana."
Ara menghela napas kasar, lalu meraup wajahnya dengan kesal.
"Kakak berkomunikasi dengan sosok itu?" Tanya Aris, kini ia fokus pada curhatan mistis yang dialami oleh Ara.
"Ya, parahnya dia tidak akan pergi sebelum aku memindahkan jasadnya. Sungguh aku merasa frustasi sekarang, bagaimana bisa aku menemukan jasad itu. Terlebih lagi ketika memindahkannya, apa aku harus menggotong mayat disepanjang jalan, begitu?"
Ara bergidik ngeri, membayangkan dirinya membawa-bawa mayat.
Aris pun merinding disko, Ara adalah yang paling berani menghadapi makhluk gaib diantara mereka. Jika Ara sendiri sudah merinding terlebih dulu, bagaimana dengan mereka?

KAMU SEDANG MEMBACA
INDRA MATA BATIN
HorrorMemiliki masa lalu kelam yang hampir saja merenggut nyawa, membuat muda-mudi itu lebih berhati-hati. Kini ketiga remaja dengan mata batin terbuka mulai berusaha membiasakan diri dengan hal-hal gaib. Ara, Aris, dan juga Dinda. Tiga bersaudara itu be...