16 - Hutan Angker

317 36 8
                                    

Double up sekalian yang tadi :))
Itung-itung buat ganti kemaren yg lama update, ada yg rindu?

--IMB--

Malam telah berlalu, pagi datang kian merekah. Mentari pagi menyilaukan cahaya meski sapuan kehangatan tak dapat menembus kulit, karena hawa dingin yang terus melanda.

Seorang gadis tengah meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kebas, ia meliuk-liukkan badannya untuk berolahraga kecil. Matanya memandang alam sekitarnya, sangat indah seperti senyuman menawannya.

"Non Dinda ternyata sudah siap-siap." Seru sebuah suara.

Pipin berjalan menuju Dinda yang tengah berdiri menatap hamparan kebun. Rencananya mereka akan berkebun bersama, karena saat ini yang sedang panen adalah buah jeruk, maka dengan senang hati Dinda akan memetiknya.

Kebun ini dibagi menjadi empat bagian. Bagian barat berisi sayuran kol dan wortel, lalu yang berada ditimur ada kebun jeruk dan semangka. Dinda semakin semangat kala Pipin membawa keranjang besar yang akan digunakan sebagai wadah jeruk, mereka menggendong benda itu dipunggungnya.

Mula-mula Dinda berjalan mengikuti Pipin yang sedang memeriksa pohon mana yang pantas untuk dipanen, setelahnya mereka mulai memetic tanaman itu.

"Non, lihat cara saya memetik buahnya."

Dinda memperhatikan cara memetik buah jeruk dengan benar, walau lebih tepatnya adalah memotong. Memotong jeruk dari dahannya lebih baik menggunakan gunting agar potongannya rapi dan tak merusak tanamannya.

Gadis itu mengangguk mengerti setelah Pipin berhasil memetik jeruk dengan rapi dan sempurna, Dinda mulai mengambil alih gunting dari tangan pelayannya, ia mendekati pohon yang telah berbuah dan melakukan hal sama seperti yang telah Pipin contohkan.

"Ya tuhan! Ini benar-benar asyik, andai saja ada Kak Ara dan Aris." Gumam Dinda pelan, sembari tangannya sibuk menggunting dahan buah jeruk yang siap panen.

Dinda meletakkan buah-buah jeruk itu pada keranjang gendongnya, bibirnya tak berhenti untuk mengulas senyuman. Keranjangnya bahkan sudah penuh sebagian, hal ini membuat Dinda semakin semangat agar keranjangnya terisi full.

Angin berhembus pelan menerpa, rambutnya berterbangan hingga memperlihatkan wajah cantiknya. Dinda semakin menikmati aktivitasnya, ia bahkan tidak sadar bahwa Pipin telah pergi entah kemana.

Jeruk berwarna oranye sangat menggugah selera siapapun, tentu saja rasanya manis.

Saat sedang asyik mengupas jeruk hasil jerih payah panennya, Dinda dikejutkan dengan kedatangan Pipin yang tergesa-gesa. Perempuan usia lima puluh tahunan itu bahkan sudah menitikkan peluh keringat, Dinda menatapnya bingung.

"Ada apa, Bi?" Sangat kentara dimata Dinda bahwa Pipin tengah menahan ketakutan.

Tanpa diduga Pipin menggenggam erat tangan Dinda, meski ia ketar-ketir jika Dinda akan memarahinya yang telah lancang.

"Non, ayo masuk ke dalam. Cuaca sedang tidak bersahabat." Pipin merancau tidak jelas.

Setahu Dinda cuaca sedang baik-baik saja tadi, ia langsung mengadah menatap awan hitam.

'Cepat sekali cuacanya berubah.' - Dinda mengernyitkan dahinya.

Kala melihat-lihat hawa sekitar yang sangat tidak enak, matanya tertuju jauh ke dalam hutan. Hutan yang dianggap mistis oleh warga sekitar puncak, entahlah seperti ada sebuah tarikan tersendiri dimata Dinda kala menatap hutan yang gelap karena tertutup rimbunan pepohonan.

Langkah kakinya kian menjauh dari tempat dimana ia memetik buah, dan Dinda masih saja menatap hutan itu. Seperti ada sepasang mata yang juga tengah menatapnya saat ini, tapi tarikan Pipin semakin keras hingga membuat Dinda mau tak mau mengalihkan pandangannya.

INDRA MATA BATINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang