0:1

67 6 1
                                    


Masih dengan sisa-sisa terik matahari sore, juga terpaan angin yang membuat rambut hitam Suga terkikis kebelakang. Ah benar deh, Suga kesal dengan sinar matahari. Mangkanya karena hal itu kulit Suga bisa seputih sekarang.

Bunyi mesin suara selamat datang otomatis dari atas pintu masuk minimarket berbunyi, bersamaan Suga sedikit membungkukan badan kearah petugas kasir disana. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya sebentar, sembari sebelah tangan mengacak-acak rambutnya. Mungkin membenarkan rambutnya sedikit lantaran terkena angin sore saat perjalanan ke minimarket.

Kaki panjang itu berjalan menyusuri lorong bagian pembalut untuk mencari pesanan dari Yuri tadi. Lagi-lagi Suga mengusap tengkuk canggung, menatap satu persatu pembalut yang memiliki berbagai macam merk itu. Bahkan Suga sedikit bingung ketika melihat perbedaan ukurannya, dan juga jenis-jenisnya.

"Untuk kekasihmu?" tanya salah satu petugas wanita paruh baya minimarket sana.

Suga diam sebentar menatap petugas itu. Jujur, Ia bingung harus menjawab apa. Sebelum pada akhirnya Ia menggeleng sedikit, lalu memberi tatapan canggung pada wanita itu.

"Emm.. Bukan. Untuk nenekku," Enteng Suga membuat petugas wanita itu terkekeh kecil.

"Nenekmu? Kalau untuk lansia Kau bisa membeli pempers khusus lansia." Ujar wanita itu sembari sebelah tangan mengarahkan pada deretan pempers untuk orang-orang lanjut usia.

Kali ini muka Suga memerah. Benar. Ia tidak pandai membuat alasan, sungguh. Ia bahkan bingung harus bicara apalagi setelahnya. Memang ya, Suga benar-benar hanya mencintai musik sampai melupakan pelajaran biologi yang menjelaskan bahwa seorang perempuan akan mengalami masa menopause di usia yang sudah lanjut.

"Ah, maaf. Aku lupa Nenekku ternyata berada di Daegu. Apa Ahjuma tau biasanya perempuan usia dua puluh tahunan menggunakan yang mana?"

Lantas wanita paruh baya itu tersenyum manis, lalu mengangguk kecil sebelum menunjukannya pada Suga. Benar, Suga tidak bisa mengalihkan tangannya dari belakang lehernya itu. Ia terlalu malu.

-

-

-

"Lain kali bawa sendiri." Ujar Suga seraya sebelah tangannya menyodorkan satu pack pembalut kepada Yuri.

Lantas melihat hal itu membuat Yuri tersenyum manis, bersamaan kedua tangannya mengambil pembalut yang diberikan Suga.

"Terimakasih! apakah Kau malu?" Tanya Yuri dengan tatapan polosnya menatap Suga berharap Suga menceritakan pengalamannya membeli pembalut panjang dikali lebar.

"hm. sangat." Santai Suga kembali memalingkan wajah lalu membenarkan posisi tas ransel hitamnya itu.

Singkat, padat, dan jelas. Mungkin memang Yuri tidak bisa berharap Suga akan menceritakan segala sesuatu dengan panjang dan rinci. Karena menurutnya, pasti isi otak seorang Suga adalah, kalau ada yang mudah kenapa harus yang susah.

Seperti kutipan kalimat mengatakan 'hidup itu sudah sulit. Jangan dibuat tambah sulit'. Yuri sangat yakin kata-kata itulah yang Suga pakai sebagai motto hidupnya.

"Kau mau pulang?" tanya Suga sedikit menoleh kearah Yuri yang mungkin dapat dibilang tengah memajukan sedikit bibirnya--tampak berpikir jawaban yang pas untuk dilontarkan.

"Sebenarnya Aku masih kurang paham dengan kunci nada lagu yang akan ditampilkan untuk ujian tengah semester nanti.. Bisa tolong ajarkan?"

"hm. Mau belajar dimana?" Suara berat itu mengalun lirih dengan kepala masih setia menoleh kearah Yuri.

"Bagaimana kalau di apartementmu?" Tanya Yuri lagi yang lantas membuat Suga sedikit membolakan mata, terkejut dengan saran gadis mungil itu.

Yuri masih setia menatap Suga penuh harap. Entahlah, tetapi Yuri itu tipe wanita yang mungkin dapat dibilang perempuan yang blak-blakan juga. Jadi apa yang ada dipikirannya, langsung saja dikatakan tanpa disaring terlebih dahulu. Atau sekedar berpikir dahulu apakah saran yang Ia berikan merupakan saran paling aman.

DependencyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang