Dazel hanya tidak pernah membayangkan bahwa pertemanannya dengan Savana akan berakhir seperti ini. Dalam angannya mereka akan tetap berteman baik sampai setelah mereka lulus dan sama-sama menjalani hidup sebagai dua orang yang bergelut dengan keseharian melelahkan para dewasa. Bekerja, mencari uang, menata masa depan. Mungkin juga menemukan pasangan. Meski hal itu masih belum terlintas sama sekali di benak Dazel semenjak perpisahannya dengan Tara.
Dia setakut itu untuk membuka dirinya kembali, dan hanya pada Savana dia mempercayakan banyak hal; keluh kesah dan semua kekhawatiran.
Terkadang, dia sendiri bertanya-tanya, apakah Savana pernah bosan menjadi pendengarnya? Apakah dia pernah merasa jenuh ketika menerima Dazel datang ke tempatnya untuk sejenak lari dari kesakitan yang dia rasakan saat bersama Tara? Bagaimana dia terlihat sebagai laki-laki di mata Savana? Apakah dia tampak menyedihkan?
Gadis itu selalu begitu sabar meladeni dirinya. Seringkali menenangkannya ketika rasa khawatir karena trauma yang masih terbawa. Tapi mengingat itu semua, Dazel pun merasakan pukulan tentang bagaimana perasaan Savana saat itu.
Dazel tidak pernah tahu. Dia tidak pernah mengerti bagaimana rasanya menyimpan perasaan pada seseorang. Dia tidak akan kesulitan mendekati gadis yang dia sukai. Benar, dia tidak akan mengerti dan tidak bisa membayangkan perasaan Savana menghadapinya selama ini.
"Lo tuh demen ama Sasa ya, Daz?" celetuk Randy suatu ketika dulu.
"Enggak lah. Gila lo."
"Emang Sasa ada cowok?" tanya Luki.
"Nggak ada sih."
"Trus? Bukan tipe lo?" tanya Randy lagi.
Dazel tidak pernah merasa Savana bukan tipenya. Dia tidak menetapkan ideal apa pun tentang gadis yang dia sukai.
"Ini jangan-jangan kalian ada yang demen sama Sasa ya?" Dazel memutar pertanyaan itu.
Luki berdecak pelan. "Si kampret ditanyain beneran malah nanya balik. Gue sih suka sama Sasa tapi sebagai temen aja. Jujur dia tuh cantik. Dia keren gitu meski physically rada chubby, ya nggak sih? Nggak penting juga sebenernya dia mau kurus apa enggak, kalo buat gue pribadi sih. Masalahnya dia bener-bener nice gitu loh, sementara gue amburadul gini."
"Maksudnya otak lo yang amburadul?" sahut Randy.
"Nah, boleh dibilang kayak gitu. Jadi ya, Sasa deserve better lah."
Percakapan itu terjadi, seingatnya, setelah Savana menolak Hardian. Dan Dazel pikir kata-kata Luki cukup masuk akal. Savana terlalu baik. Bahkan Dazel merasa dirinya tidak cukup pantas untuk mendekatinya lebih dari sekedar teman.
Pada waktu-waktu tertentu, dalam benaknya terlintas pertanyaan tentang bagaimana kira-kira laki-laki yang akan menjadi pacar Savana nantinya. Yang akan dengan beruntung bisa menikmati masakan-masakan lezatnya, memilikinya sebagai teman bicara, mendengarkan omelannya, dan entah bagaimana ada gejolak aneh yang dirasakan Dazel saat memikirkan itu.
Jika boleh jujur, kadang Dazel terpikir untuk menciumnya. Untuk semua yang telah dilakukan gadis itu untuknya, Dazel ingin menciumnya. Sebagai terima kasih yang rasanya tidak cukup dia ucapkan, dan karena bibir Savana saat tersenyum terlihat manis.
Tapi hari itu ... sigh! Reaksi Savana saat Dazel mengecupnya sedikit banyak meretakkan perasaan, selain karena kata-kata penolakan yang telah diucapkan gadis itu.
"Eh, kemaren gue ketemu Sasa pas beli kopi." Luki memberitahu ketika Dazel mampir ke rumahnya sepulang kerja hari itu.
"Iya? Sendiri?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Star and Savannah
General Fiction"Dia suka savana. Denotatively, haha...bukan gue," monolog si gadis, Savana, yang selalu menyukai bintang dalam gelap langit malam dan si pemilik nama dengan makna yang sama: Alterio Dazel Wirendra. Empat tahun pertemanannya dengan Dazel, Savana ham...
