Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

11. Out Of

795 166 33
                                        








Mamanya mengernyit menatapnya ketika Savana berkata dia akan ikut camping akhir pekan ini.

"Serius?"

"Iya, Ma," jawab Savana, pelan mendorong troli menyusuri rak berisi deretan rempah di supermarket itu.

"Sama siapa aja?"

"Sama Nola kok. Sama Dazel sama anak-anak lain di kelas."

"Oh," Mamanya bergumam pelan. "Perlu bawa apa aja?"

"Sasa belum tanya sih, Ma. Jadi nggak tau anak-anak rencananya mau bawa apa aja."

"Beliin daging aja, kan bisa disimpen dulu di freezer. Kalo cuma camping sih lebih bisa masak-masak. Beli marshmallow juga, sama beberapa cemilan gitu."

"Boleh, boleh."

"Nola udah jadi balik ke Bandung ya? Trus kamu mau mulai pindah balik ke rumah kapan?"

"Setelah camping aja kali ya, Ma?"

"Iya terserah kamu. Tapi hati-hati lho ya di rumah sendirian."

"Tenang aja."

     Savana mengambil beberapa bungkus snack rumput laut, mengingat itu adalah kesukaan Dazel, juga beberapa makanan yang dia harap bisa menjadi pengganjal perut nanti.

Sigh—pada akhirnya, meski semalam sempat menangis tak karuan, dia tidak bisa tidak mengacuhkan Dazel yang mengetuk kotak pesannya lewat Whatsapp pagi tadi. Savana sendiri merasa konyol untuk mendiamkan Dazel lebih lama, jika itu hanya karena pemuda itu datang terlambat. Karena Dazel juga pasti tidak akan mengerti bahwa itu lebih dari hanya sekedar dia datang terlambat.

Dazel bahkan mungkin tidak mengerti bahwa baik Savana ataupun Luki, atau mungkin juga teman-teman dekatnya yang lain selama ini diam-diam harus memahami dirinya setelah Tara pergi. Sampai detik ini pun, Dazel masih akan refleks meringkuk dan melindungi kepalanya dengan lengan jika sedang bercanda dengan teman-temannya dan salah satu dari mereka mengangkat tangan seolah akan memukul.

"Jangan pukul gue, Ren!" atau "Jangan pukul gue, Ki!"

     Itu sudah lebih baik daripada sebelumnya, di mana Savana bergurau hendak memukulnya dan Dazel memekik, "Jangan pukul gue, Tar!"

     Savana tertegun mendengarnya, untuk sesaat melihat raut takut di wajah Dazel yang tertunduk, sebelum akhirnya dia pun meraih satu lengan Dazel dan menariknya turun. "Becanda, Daz. Ini bukan Tara."

    Tidak perlu ditanya bagaimana perasaannya saat itu. Savana merasakan berat memenuhi hela napas menyadari bahwa Dazel masih menyimpan trauma besar dalam dirinya.

    Dia juga benci pada kenyataan bahwa dia justru semakin peduli pada pemuda itu. Dia membiarkan dirinya sendiri tenggelam dalam melankoli friendzone dan bahkan dengan entengnya menjawab, "It's just platonic thing? Biasa juga dia suka dateng buat makan," saat Yasa menggoda Dazel tentang apa sebenarnya hubungan mereka setelah dengan tidak tahu malu Dazel berkata semalam dia menginap di tempat Savana untuk mengerjakan tugas.

    Savana tahu bahwa melabeli hubungan laki-laki dan perempuan yang berteman dekat dengan istilah 'platonic relationship' itu sebenarnya hanya dalih. Sebuah omong kosong.

     Tiga hal yang dia tahu pasti terjadi antara laki-laki dan perempuan berteman dekat sebelum memasang label 'platonic relationship' untuk hubungan mereka adalah; pertama, mereka tahu bahwa berdua saling menyimpan rasa tapi memilih untuk tetap berada dalam batas yang membuat mereka tidak akan menyakiti satu sama lain; kedua, ada salah satu dari mereka jatuh dan diam-diam patah dan menyimpan semuanya untuk diri sendiri; dan terakhir, pernah mengungkapkan tapi pada akhirnya saling menerima kenyataan bahwa rasa itu memang hanya bertepuk sebelah tangan.

Star and SavannahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang