21. One Call Away

798 161 50
                                        








"If you don't heal what hurt you,
you'll bleed on people who didn't cut you."







Ingatan tentang kata-kata Nola serasa seperti sentilan ringan di tengah damai sejenak yang melingkupi dirinya ketika berbaring di bawah rindang pohon sambil menatap langit biru.

Dazel memejamkan mata sejenak sebelum beranjak duduk dan mengarahkan pandangan pada Gunung Baluran yang menjadi latar belakang hamparan rumput setengah kering yang menjadi alas tempatnya berbaring tadi.

"Sasa cuma ngerasa itu konyol buat ngungkapin perasaan dia ke lo waktu lo sendiri masih trauma berat sama hubungan lo yang sebelumnya, Daz," ujar Nola kala itu. "Itu nggak akan bijak buat lo, dan nggak akan adil buat Sasa. Karena lo butuh tempat pelarian dan Sasa layak dapetin lebih dari itu. That's why dia pilih buat keep your relationship as friends sampai selama ini, meski itu artinya dia nyakitin diri sendiri."

Dazel menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskan pelan bersama rindu yang mengendap di hati.

"Sasa pengen lo sembuh dulu dari semua trauma yang lo rasain, dan sekarang giliran dia buat nyembuhin diri dia sendiri dari luka karena nyimpen perasaan buat lo, Daz, nggak peduli lo pun sayang ke dia atau enggak. Sasa butuh waktu buat dia sendiri dulu. Lo bisa ngerti kan?"

Percakapan dengan Nola setelah subuh yang dia lewatkan bersama Savana untuk terakhir kali hari itu selalu berputar kembali dalam benak setiap kali dia memikirkan gadis itu selama setahun belakangan.

"Perasaan itu nggak mesti selalu dua arah. Mungkin sekarang lo ngerasa kehilangan Sasa, tapi jangan lupain bahwa lo juga udah tinggal di hati Sasa selama 4 tahun dia kenal lo, Daz. Dan itu bukan waktu yang sebentar, terlepas lo tau perasaan dia ke elo atau enggak. Yang perlu lo lakuin sekarang, coba buat maafin diri lo sendiri. Baik lo atau Sasa nggak ada niat buat saling nyakitin satu sama lain. Kalian cuma sama-sama perlu kasih waktu sama kesempatan buat diri kalian sendiri. Okay?"

Dari waktu ke waktu dia menjalani kesehariannya setelah itu, Dazel tidak pernah tidak memikirkan Savana hingga tanpa sadar waktu sudah lama terlewat tanpa kehadirannya. Selama setahun lebih Dazel menahan diri untuk tidak menghubungi dan hanya mengirimkan hadiah ketika Savana berulang tahun. Dia lalu mendapat kiriman balasan dari Savana di hari ulang tahunnya sendiri; sebuah kemeja dan topi yang kemudian sering dia pakai ke manapun dia pergi di akhir pekan, serta sebuah buku.

     Selama setahun Dazel ditempatkan di luar pulau adalah salah satu alasan kenapa lebih mudah untuknya mengatasi keinginan untuk menemui Savana pada hari-hari ketika dia sangat merindukannya, mustahil jika Dazel tidak merasakan itu. Sekarang dia telah kembali, tapi 3 bulan ini dia justru diragukan oleh pertanyaan apakah Savana telah siap menerima kehadirannya lagi?

Embusan angin yang menerpa seolah mengingatkan dirinya untuk tidak tenggelam terlalu jauh dalam lamunan. Dazel pun menoleh pada 3 teman kantornya yang lain, yang masing-masing tampak sibuk mengarahkan kamera demi membuat potret terbaik dari hamparan pemandangan menakjubkan di tempat itu.




***



"Tumben sih ngelamun?"

Teguran papanya membuat Savana menarik napas dan mengulas senyumnya cepat. Dia tersadar bahwa mobil yang mereka tumpangi telah sampai di depan gedung kantor tempatnya bekerja.

"Hehe ... udah sampai ya, Pa?"

"Ngelamunin apa?" tanya papanya lagi ketika Savana hendak melepas sabuk pengaman.

Star and SavannahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang