22. Home, Us

857 167 33
                                        







[Dazel]




Gue kangen melihat Sasa dari jarak ini. Gue kangen dengar suara dia sejelas ini. Gue kangen banget sampai gue justru bingung mesti gimana selain akhirnya kita berjalan sebelahan meninggalkan area perkantoran itu setelah gue cuma bisa bilang, "Mau pulang?" dan Sasa jawab "iya".

Selama beberapa saat kita saling diam sebelum kemudian Sasa bertanya, "Gimana bisa sampai sini tadi?"

"Yasa. Dia baru diterima kerja di sini dan kebetulan gue mau ketemu dia tadi."

"Oh ya?" sahut Sasa pelan, lalu menoleh, "Trus, Yasa mana?"

"Gue suruh dia balik dulu."

"Kenapa?"

"Karena gue pengen nungguin lo, Sa," jawab gue. Sasa cuma mengangguk singkat, mungkin dia mengerti maksud gue cuma pengen ketemu dia tanpa ada orang lain.

Kita lalu berhenti buat menyeberang, dan di situ gue meraih satu tangan Sasa buat gue genggam. Dia melihat gue sekilas dan mengulas senyumnya samar.

"Is everything going well?" tanya dia kemudian.

"Iya."

Lampu pejalan kaki yang berubah hijau membuat gue menarik pelan tangan Sasa dalam genggaman untuk melangkah menyeberangi zebra cross di depan.

"Kecuali," ujar gue di tengah langkah kita, "... gue selalu kangen sama lo, semuanya baik."

Gue nggak berani menoleh ke Sasa setelah itu sampai kita ada di seberang jalan.

"Setahun ini ... ke mana aja?" tanyanya.

"Kebetulan gue ditugasin di kantor cabang di Balikpapan dan belum lama ini balik ke Jakarta."

"Kemaren baru naik gunung?"

"Itu di Taman Nasional Baluran by the way, cuma liburan singkat aja karena belum tau kapan bisa dapet kesempatan buat naik gunung lagi." Gue berpaling ke Sasa, "Mau ikut?"

"Naik gunung? Nggak akan."

Gue ketawa singkat mendengar jawaban Sasa.

"Rumah apa kabar?"

"Baik. Kakung, Yangti, Bu Ira, semua baik. Lo?"

Sasa mengangguk dan menjawab, "Baik kok."

     "Mesti cepet pulang nggak?"

     "Gue? Sekarang?"

"Iya."

"Enggak sih, tapi gue jarang ke mana-mana biasanya sepulang kerja."

     "Mau sekalian makan malem nggak?"

     "Beli minum aja gimana?" tawar Sasa.

     "Lo nggak laper?"

     "Enggak."

     "Ya udah."

     "Di ujung depan sana ada coffee shop, kita beli di sana aja."

     "Oke."




     Akhirnya kita berdua duduk bersisian di salah satu bangku di luar gerai kopi tempat kita berhenti buat membeli dua gelas minuman dingin.

     "Yasa udah lama diterima kerja di tempat dia sekarang?"

     Gue gelengkan kepala singkat setelah meneguk minuman gue. "Baru 3 minggu ini bilangnya."

     "Pantes nggak pernah lihat," gumam Sasa.

     Bisa dimaklumi. Mereka beda kantor meski ada di gedung yang sama, wajar kalau nggak saling ketemu.

"Gue lama sih nggak ketemu anak-anak. Kayaknya cuma sekali ketemu Randy sama Luki ... atau Anya sama Mima. Selain itu," Sasa gerakin pundaknya sekilas, menegaskan kalau dia sama sekali nggak pernah ketemu teman kita yang lain.

     "Ian kantornya sebelahan gedung sama gue sih," lanjut dia kemudian.

     Hardian?

     "Iya?" Gue cukup terkejut soal itu.

     "He em. Dia juga belum lama pindah, tapi kebetulan kita ketemu pas makan siang dulu," jawab Sasa. Dan cara dia ngomongin Hardian yang udah nggak kayak dulu jujur bikin gue ngerasa sedikit ... nggak nyaman.

     Gue lihatin Sasa dan dia ngelihatin gue sedikit bingung. "Kenapa?"

     "Enggak."

     Sasa lalu berpaling kembali ke depan, ke arah lalu lintas padat khas ibukota di kala petang. Gue perhatikan rambut dia yang masih berwarna sama dari terakhir kita ketemu.

     "Rencananya akhir pekan ini gue dateng ke rumah lo, Sa."

     Dia menoleh ke gue langsung. "Iya?"

     "Maaf ... gue nggak langsung nemuin lo sepulang gue dari Balikpapan," kata gue. "Meski ini udah lebih dari setahun kita nggak ketemu, gue tau ... maafin gue, Sa."

     "Kenapa?" Sasa bertanya.

     Gue beranikan diri buat menatap Sasa.

"Kenapa sampai selama ini?" ulang dia.

"... Gue takut lo masih belum bisa buat ketemu gue lagi."

     Dia lalu menunduk dan menganggukkan kepala samar. "I see."

     "Gue ... sama sekali nggak tau kalo apa yang kita lewatin dulu bakal nyakitin lo, Sa. Dan setahun terakhir ini ... gue cuma berharap, apa pun kesempatan yang bakal lo kasih ke gue saat kita akhirnya ketemu, entah sebagai temen atau lebih dari itu, gue nggak akan nyakitin lo lagi."

     Sasa diam dan ngelihatin ujung kakinya sendiri, lalu pelan berkata,"Gue kangen banget sama lo tau, Daz."

"Sa,"

"Gue pikir lo nggak akan muncul ... lebih lama dari ini, nggak tau kapan ..." ujar Sasa, menegakkan wajah dan tiba-tiba segulir bening turun dari sudut mata sebelum dia berpaling ke gue dan tersenyum. "Tapi gue seneng lihat lo tempo hari posting di Twitter. Dan gue lega lihat lo lagi sekarang, knowing that you're fine and doing well ... makasih, ya."

Napas gue tercekat.

Sasa masih sempat meneguk minumannya sendiri sebelum beranjak berdiri, berujar, "Sambil jalan, yuk."

"Sa," Gue ikuti langkah Sasa meninggalkan tempat itu dan gue melihat dia menunduk buat mengusap sekilas pipinya.

Gue susul dia dan gue coba raih tangan Sasa buat menahan langkah cepat dia di depan gue. Dia nggak menghindar, dia biarin gue mengenggam tangannya lagi.

"Sasa,"

Dia memandang gue dengan senyum yang memang kelihatan lega, lebih lebar dari sebelumnya, tapi sekali lagi gulir bening itu jatuh dari sudut mata dia. "I'm fine, it's just me being overwhelmed but I'm happy right now I swear," Sasa menjelaskan.

Tapi apa pun yang dia rasain saat itu, gue nggak bisa lihat dia nangis. Gue tarik Sasa buat gue peluk erat dan yang gue tau, detik berikutnya dia terisak lebih keras di pundak gue.










☆★

Star and SavannahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang