Sudah sepuluh menit berlalu, tetapi Raga masih saja marah dan mengatakan hal yang sama pada Divya. Jika ditanya, Divya sama sekali tidak ingin menjawab. Hal itulah yang membuat Raga semakin murka, sedangkan Divya tidak peduli. Setelah mandi, ia keluar dari kamar dan meninggalkan suaminya yang masih mengomel.
“Mas lagi ngomong, tolong hargai!” ketus Raga sembari mencegat Divya yang sudah berada di luar kamar. “Kamu dari mana?”
Divya melengos malas, melangkah ke samping untuk menghindari Raga yang berdiri di depannya, tetapi pria itu begitu cepat untuk kembali mencegat.
“Jawab, kamu dari mana?” ulang Raga penuh penekanan.
Wajah suaminya sudah merah, baru kali ini Divya melihat pria itu marah padanya. Ekor mata menangkap kehadiran ayah dan ibu Raga di dekat tangga. Nampaknya pertengkaran ini sudah didengarkan oleh mereka, mungkin mereka sudah memprediksikan akan terjadi hal seperti ini karena Raga sudah marah-marah sebelum Divya pulang.
“Setidaknya kamu jawab!” Suara Raga mengisi keheningan lantai dua.
“Buat apa?” Divya masih saja bersikap tenang.
“Mas ini suamimu, ke mana pun kamu, harusnya izin ke Mas!” Nampaknya pria itu sudah kehilangan kesabaran.
Divya berdecak, sama sekali tidak takut dengan emosi pria itu yang sudah meluap-luap. “Mas aja selingkuh nggak izin ke aku,” timpalnya, “kenapa marah?”
Pria itu mengerang marah. “Kamu nggak apa marah, tapi jangan telantarin anak kayak gitu!”
Divya mengerutkan kening, tuduhan suaminya itu sama sekali tidak masuk akal. “Telantarin gimana? Ada Mbak Nur yang jagain.”
Menghela napas kasar, Divya melanjutkan langkahnya untuk turun ke lantai bawah. Raga hendak mencegat, tetapi Ranto lebih dulu menahan pergerakan pria itu. Divya tidak peduli, sekarang waktunya ia mengisi perut dan memberikan makan pada anak-anaknya. Berurusan dengan Raga hanya akan buang-buang waktu.
“Kakak! Adek! Makan, yuk!” panggilnya pada Kayla dan Raynar yang masih sibuk dengan permainan, “hei, kalian nggak lapar?”
“Ental, Ma,” sahut Raynar.
Jika sudah seperti itu, maka yang dilakukan Divya hanyalah mengambil makanan dan menyuap kedua anaknya sembari mereka asyik bermain.
{{{
“Mbak,” panggil Raira ketika Divya melewati ruang keluarga dan berniat menuju ke kamar.
“Ya?” Divya menoleh.
Sudah ia duga akan jadi seperti ini. Tadi Divya sudah berhasil menghindari makan bersama, tetapi saat ini ia tidak bisa menghindari interogasi dari suami dan mertuanya.
“Ayah sama ibu mau bicara.” Raira berkata dengan ekspresi ngeri.
Ya, tentu saja perempuan itu akan bersikap begitu, karena ini hanya bisa diselesaikan oleh Divya dan Raga, orang luar tidak perlu ikut campur, apalagi sampai memihak sebelah. Divya menarik napas, kemudian dengan percaya diri bergabung bersama Ranto, Mega, dan Raga yang duduk di ruang keluarga.
“Anak-anak biar aku yang jaga.” Raira segera naik ke lantai atas, di mana Raynar dan Kayla bermain di dalam kamar.
Divya tidak protes, tetapi sangat terbantu. Lagi pula, ia tidak ingin Raynar dan Kayla melihat kegagalan orang tuanya dalam menjaga hubungan sakral.
“Duduk, Div,” ucap Ranto, orang pertama yang menyadari kehadirannya di ruangan itu.
Menuruti, Divya duduk di sebelah ayah mertuanya. “Kata Raira, Ayah sama Ibu mau bicara.”
Ranto mengangguk mengiyakan. “Kami udah tanya ke Pak Umas, katanya kamu kerja di toko kue. Itu benar?”
Pria paruh baya itu meminta jawaban jujur dalam tatapan mata. Divya segera mengangguk membenarkan.
“Kenapa nggak bilang sejak awal?” tanya Ranto.
“Yaa ... aku pikir nggak perlu, la—”
“Nggak perlu gimana?” Raga menginterupsi, nada bicaranya masih terdengar tidak santai.
Divya memutar bola mata, malas menanggapi Raga, dan apa yang dilakukannya itu malah membuat Ranto tertawa geli. Beginilah ayah mertuanya, apapun yang terjadi, pasti selalu mengutamakan Divya. Itu mengapa ia sangat menyayangi Ranto, bahkan melebihi sayangnya pada ayah kandung sendiri.
“Kamu lihat?” Ranto menoleh pada Raga, “itu akibat kegatelan kamu di luar sana. Jangan harap istri bakalan hormat lagi sama kamu.”
Rahang Raga mengerat. “Aku nggak butuh hormat, Yah, yang aku butuh Divya jujur ke aku, kasih tahu apa yang dia lakukan di luar sana.”
Divya membulatkan bibir, bermaksud untuk meledek. “Kalau gitu aku juga berhak tahu apa yang Mas lakuin sama Aminah,” tersenyum cerah, “bakal seru, nih,” ucapnya, sembari mengubah posisi menghadap Raga dan berekspresi antusias menunggu apa yang akan diceritakan oleh Raga.
“Apa mau kamu?” tanya Raga.
“Cerai.” Divya menjawab lantang.
Raga memejamkan mata sekian detik, kemudian kembali berkata, “Setelah cerai, kamu mau apa? Gimana dengan anak-anak? Tolong, pikir sebelum berkata.”
“Oh, anak-anak udah bisa kamu lihat lagi? Kemarin mereka ke mana? Ketutup sama badannya Aminah yang bohai?” celetuk Divya.
“Divya ....” Pria itu mengerang, kedua tangan terkepal di atas paha.
Ranto dan Mega diam tak menyahuti adu mulut itu. Syukurlah, Divya juga tidak ingin ada campur tangan dari luar.
“Oke, Mas nggak bakalan marah-marah lagi soal kamu yang pulang sore.” Nada suara Raga terdengar sedikit lunak, mungkin sadar bahwa masalah tidak akan selesai jika memakai emosi, dan Divya akan tertawa senang saat Raga malah terpancing.
“Aku mau kerja, dan nggak butuh izin dari kamu,” jawab Divya masih saja terdengar sangat tenang.
“Emangnya uang dari Mas nggak cukup?”
Divya berdecak. “Bukan soal uang, tapi aku mau belajar mandiri, karena bentar lagi kita bakalan cerai dan aku harus mencukupi kehidupanku bersama anak-anak.”
“Astaghfirullah,” sahut Mega yang sedari tadi diam bak patung, “jadi, kamu kerja cuma buat ceraiin Raga?”
“Ibu salah paham,” Ranto menanggapi, “Divya kerja buat belajar mandiri, nggak ada yang tahu nanti Raga selingkuh lagi, terus minta cerai. Kalau sampai kejadian, kan, Divya udah bisa menghasilkan uang sendiri,” bela beliau, yang sebenarnya sedikit melenceng dari maksud Divya.
Eskpresi Mega yang tadinya biasa saja, kini terlihat guratan penuh kemarahan. “Sama aja, Ayah kenapa malah belain Divya? Anak Ayah itu Raga!”
“Kok, kenapa jadi kamu yang marah?” Ranto berdiri, “masuk kamar sekarang, biarkan anak-anak selesaikan masalah mereka sendiri.”
Divya menghela napas kasar, sudah terjawab dengan jelas bahwa Mega membela Raga dan tidak terima pria itu diolok-olok oleh Divya.
“Jangan kayak gini, Div. Suami itu harus kamu hormati, kalau dia bilang udah mau berubah, maka maafkan saja.” Mega memberi nasihat seakan tahu bagaimana perasaan Divya.
“Nggak ada jaminan Mas Raga bakalan berubah. Cuma karena wanita itu udah dibawa suaminya ke Kalimantan, jadinya dia sok perhatian ke aku,” timpal Divya, dengan berani menatap ibu mertuanya.
“Apa?” Raga tampak terkejut. “Kamu tahu dari mana Aminah pindah ke Kalimantan?”
Divya menguap. “Aku udah ngantuk, anak-anak juga pasti nungguin aku,” katanya, menghindar agar tidak menjawab pertanyaan Raga.
“Jawab!” bentak pria itu.
Divya melengos malas, tanpa pikir panjang meninggalkan ruang keluarga, disusul Ranto yang juga masuk ke dalam kamarnya.
{{{
Hello guys, ada yang nungguin? 😁😁
Jangan lupa mampir di cerita baruku. Judulnya, "Kubuat Konten, Suami Kaya Kudapat" 😋😋
Jangan lupa vote dan komeeen
KAMU SEDANG MEMBACA
Lo Selingkuh, Gue Balas! ✓ (END)
RomantikDivya Arsyakayla dua kali dikhianati sang suami, Raga Bamantara. Dipikirnya satu kali ketahuan, suaminya itu akan menyesal dan tidak mengulangi lagi. Namun, nyatanya Raga masih berhubungan dengan wanita yang sama. Pada keputusasaan, menyalahkan diri...
