Garis Takdir | Dua Puluh Tiga

14 4 0
                                        

Bughh..

































"NATHAN!!" Teriak Abrina ketika bola basket mengenai punggug Nathan yang menghalangi tubuh Abrina dengan merangkul tubuh Abrina.

"Nathan, nathan" panggil Abrina lalu mendekap pipi Nathan.

Abrina membantu untuk membaringkan Nathan di tandu bersama anak PMR lainnya.

Sementara Nathan setengah sadar dan memegangi punggungnya yang terasa sakit.

"Ambilin minum tolong" ucap Abrina lalu Cyra segera memberikan air minum kepada Abrina.

"Tahan dulu bentar, minum Nat" ucap Abrina dan membantu Nathan untuk minum.

"Udah ? bawa ke UKS dulu , ntar gue nyusul" ucap Abrina lalu Nathan mengangguk sambil memejamkan matanya.

Sementara Abrina langsung membawa botol minum dan handuk Nathan dan menuju ke kursi Nata dan Aksa untuk memberi tau mereka jika dirinya menemani Nathan di UKS.




"Nata, Aksa nanti kalo udah selese ke UKS. Gue nemenin Nathan disana" ucap Abrina, Nata dan Aksa pun mengangguk lalu Abrina pun berlari menuju uks.

Sementara pertandingan masih dilanjutkan, sudah ada pemain pengganti yang menggantikan Nathan.























Brukk

"Eh yaampun Abrina, gapapa ? Sorry sorry" ucap Cewe berambut pendek lalu menolong Abrina untuk berdiri.

"Gue yang maaf gue lari ga liat ada orang" ucap Abrina lalu menundukkan kepalanya sedikit.

"Gue duluan" ucap Abrina lalu berlari menuju uks.




























































Dug!

"Anjing!" Umpat Devan ketika merasa badannya sakit sehabis terjatuh dari kursi.

"Gue bego banget tidur Ampe jatoh gini"

"Duh mana berdarah lagi siku gue kena paku dari meja, emang sialan" dumel Devan lalu membersihkan kotoran di badannya.

"Ke UKS aja ah" ucap Devan lalu menuju ke UKS.








































"Nah mantap UKS sepi tuh, sekalian mo numpang tidur mumpung yang lain pada heboh tanding" ucap Devan lalu memasuki UKS.

Devan mencari obat merah yang ada di kotak p3k di UKS tetapi tidak menemukannya, ia pun mulai membongkar satu persatu kotak obat yang ada di sana.

Dugg

"Anying liat liat dong kalo jalan sakit nih siku gua" ucap Devan yang sikunya menatap lengan seseorang.

"Sorry" ucap Abrina lalu melangkah pergi untuk mengambil air kompres untuk Nathan.

Devan hanya diam melihat Abrina seperti itu, lalu ia kemudian mencari kembali obat merah, plester dan kapas untuk mengobati lukanya.

"Nah Nemu kan" ucap Devan yang menemukan obat merah di loker meja.

Ia pun duduk di kursi depan meja lalu mencoba mengobati lukanya yang berada di siku.

"Sshh aaahh"

"Anj sakit" ucap Devan yang men tap tap kapas yang di tuangi Betadine ke sikunya.












Abrina yang memasuki UKS pun melihat itu dan menaruh wadah berisi air kompres dan menghampiri Devan.

"Mau gue bantuin ga" tanya Abrina

"Gausah" tanya Devan dingin lalu di angguki oleh Abrina, lalu Abrina menyilangkan tangannya dan menyenderkan tubuhnya di sisi meja.

Devan yang merasa masih ada Abrina di depannya mencoba tidak peduli dan masih melanjutkan aktivitasnya untuk mengobati sikunya.

"Perih sial" ucap Devan pelan lalu Abrina terkekeh pelan.

"Bodoh" ucap Abrina lalu mengambil kapas yang digunakan oleh Devan dan menarik tangan Devan.

"Di bersihin dulu, baru di kasih obat merah" ucap Abrina lalu membersihkan luka di siku Devan.

Setelah itu Abrina mengoleskan obat merah ke siku Devan.

"Aah pelan pelan, perih" ucap Devan lalu Abrina meniup pelan siku Devan.

"Tahan" ucap Abrina lalu mengoleskan lagi dan meniupnya kembali.

Lalu Abrina memplester luka Devan agar tidak terkena bakteri.

"Tuh udah" ucap Abrina lalu Devan hanya mengangguk tetapi tetap melihat sikunya.

"Siku ganteng guaa" ucap Devan pelan sambil memanyunkan bibirnya dan membuat Abrina terkekeh geli.

"Bocah" ucap Abrina lalu menoyor kepala Devan.

"Dih nakal" ucap Devan lalu memiting  leher Abrina dan membuat Abrina merasa geli.

"Ampun ampun geli leher gue" ucap Abrina lalu Devan melepaskan pitingannya.

Abrina membereskan kotak p3k dan mengembalikan nya ke tempat semula.

"Lutut Lo berdarah" ucap Devan lalu Abrina melihat lututnya dan benar saja karena terjatuh tadi lututnya tergores dan menimbulkan luka.

"Iya santai" ucap Abrina lalu tangannya di tarik oleh Devan dan menyuruh Abrina untuk duduk.

"Gausa bandel, buruan gue liatin" ucap Devan lalu Abrina hanya menghela nafas dan mengobati lututnya.










Setelah lima menit Abrina sudah selesai mengobati lukanya.

"Tuh udah" ucap Abrina lalu di angguki Devan.

"Pinter" ucap Devan lalu membuka handphone nya, sementara Abrina menghela nafas panjang dan menghampiri Nathan yang tengah berbaring.



















"Kompres dulu" ucap Abrina lalu mengkompres bahu Nathan.

"Masih nyeri banget ngga ?" Tanya Abrina lalu di gelengi oleh Nathan.

Nathan lalu mengubah posisi tidurannya menjadi posisi duduk, Abrina yang melihat itu membantu Nathan untuk memposisikan tubuhnya.

"Makasih ya" ucap Nathan lalu di gelengi oleh Abrina.

"Gue yang minta maaf, gara gara gue lo jadi celaka" ucap Abrina sambil tersenyum dan Nathan pun mengusap usap kepala Abrina.

"Ada Rajendra disini Lo hati hati" ucap Nathan tiba tiba dan membuat Abrina terkejut.

"L-lo tau darimana ?"

"Gapenting gue tau darimana, yang penting Lo Sekarang harus hati hati. Rajen berbahaya buat Lo apalagi dia udah tau kalo Lo sekolah disini" ucap Nathan lalu di angguki oleh Abrina.

"Makasih" ucap Abrina lalu di angguki oleh Nathan.























TBC.
Jangan lupa votment, love u dear🖤

Garis TakdirTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang