Arven's Grudge

7.3K 510 34
                                        

Masih ada yang nunggu lanjutannya gak sih? Kalu gak ada mending aku stop sampai sini aja 😚

***

Arven memasuki rumah sakit dengan senyum menghiasi bibirnya. Dia merasa terpuaskan oleh adanya Aletta. Semalam dia menginap di apartemen Aletta dan baru pulang saat hari mulai subuh untuk mandi dan berganti pakaian. Dalam waktu satu malam dia sudah menghabiskan beberapa stock kondom miliknya akibat berkali-kali menjamah tubuh Aletta. Setelah dia pamit pulang pun Aletta kembali melanjutkan tidur karena wanita itu sangat kelelahan akibat dia gagahi terus-menerus.

Baru kali ini Arven merasa benar-benar ketagihan kepada wanita yang pernah menemaninya tidur. Saat Aletta menawarkannya kesepakatan pun, dia dengan mudah langsung menyetujui. Padahal biasanya dia tidak suka terikat. Namun, entah kenapa dengan Aletta semuanya berbeda. Dia sudah bersikap layaknya laki-laki yang sedang dimabuk cinta pada Aletta.

Arven baru teringat pada Naila dan ibunya saat tak sengaja berpapasan dengan dokter yang kemarin menangani proses operasi pencangkokan ginjal ibunya Naila. Dia sampai lupa pada mereka akibat terlena oleh kehadiran Aletta. Dia pun memutuskan untuk mengunjungi ruangan tempat ibu Naila dirawat.

"Dokter Arven," lirih Naila saat dia membuka pintu dan melihat Arven ada di sana. Sampai saat ini dia masih bingung harus bersikap seperti apa pada Arven.

"Ibu kamu sudah lebih baik?" tanya Arven basa-basi. Dia melangkahkan kakinya mendekati ranjang perawatan Sekar saat Naila mempersilahkannya masuk.

"Sudah jauh lebih baik, Dokter."

"Syukurlah. Setelah ibu kamu benar-benar sembuh dan diperbolehkan pulang, baru kita bahas soal pernikahan."

"Iya, Dok. Terima kasih banyak karena Dokter sudah mau menolong kami."

"Hmn."

***

"Masih ingat pulang ke rumah kamu Arven?"

Kedatangan Arven di rumah orang tuanya langsung disambut pertanyaan sinis dari papanya itu. Memang beberapa hari yang lalu dia tidak pulang ke rumah, melainkan pulang ke apartemen Aletta. Ini saja dia baru dari sana. Dia pulang setelah selesai beberapa ronde berhubungan badan dengan Aletta. Aletta sungguh membuatnya lupa diri dan ingin menyentuh wanita itu terus.

"Aku capek, Pa."

Arven berniat untuk tidak meladeni ucapan papanya itu. Jika dia meladeni ucapan papanya, bisa dipastikan kalau mereka akan berdebat lagi. Tapi rupanya papanya sengaja memancingnya.

"Capek? Capek karena habis mendapatkan kenikmatan dari wanita kamu itu? Jangan kamu pikir papa gak tau kamu ke mana Arven!"

"Kalau iya emangnya kenapa, Pa? Bukannya apa yang aku lakuin ini persis sama yang papa lakuin dulu? Bedanya aku free, Pa. Aku gak punya seseorang yang harus aku jaga perasaannya. Sedangkan papa enggak! Papa berhubungan dengan wanita sialan itu padahal papa punya mama!"

PLAKKK

Wajah Arven langsung tertoleh ke samping ketika Damian menamparnya keras. Arven hanya tertawa karena lagi dan lagi papanya menamparnya.

"Jangan sekali-kali kamu sebut mama Indira wanita sialan. Dia mama kamu, Arven!"

"Aku gak sudi ngakuin dia sebagai mama aku, sekalipun hanya mama tiri. Bagi aku, dia gak lebih dari sekedar pelacur rendahan yang beruntung karena papa nikahi."

Arven melangkahkan kakinya untuk menuju kamarnya. Dia ingin mengakhiri perdebatan bodoh ini. Sampai kapanpun papanya tidak akan pernah sadar dan memihaknya. Perempuan sialan itu sudah berhasil mempengaruhi papanya.

Crazy AgreementTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang