XXII: Why You? I Don't Know Too

6.2K 888 52
                                        

Happy reading y'all

☆☆☆

Draco menginjak pedal gas dengan kuat, jalanan sedang lenggang malam ini menguntungkan dirinya untuk lebih cepat sampai rumah.

Di tengah jalan, ponselnya berdering cukup lama. Tak peduli siapapun itu, ia harus cepat sampai rumah. Harus.

Deringnya mati, di susul dentingan tanda pesan masuk. Tak mau menepi untuk membaca pesan, Draco semakin ngebut. Ia tak mau Harry pulang tanpanya, jiwa Alphanya tidak mengijinkan hal itu.

Berjarak 20 meter jauhnya, sekilas ia melihat Harry menaiki taxi. Draco buru-buru mencegat taxinya sebelum menjauh.

Jarum speedometer yang sempat turun kembali melonjak dan dengan timing yang pas mobil mewah yang Draco kendarai memblokir jalan tepat di depan taxi.

Supir taxi membuka jendela mobil dan meneriaki Draco agar memindahkan mobilnya. Draco tak peduli karena di dalam sana ada Harry. Ia keluar dan mengetuk jendela kaca bagian belakang. Nampak siluet Harry yang agak syok dan bingung.

Jendela kaca di turunkan, "apa-apaan Draco?!"

Tanpa kata, Draco menyuruh Harry keluar. Harry tak mau, beralasan kalau ia sudah membayar jasa si sopir lebih awal.

Draco mengeluarkan uang dan tentu saja dengan nominal yang cukup membuat supir itu mengerutkan keningnya, terkejut sekaligus senang. Supir yang tadinya sedikit melongo kembali sadar dan membuka kunci pintu mobil.

Draco membuka pintu, mengulurkan tangannya, cara yang halus untuk memaksa Harry.

Akhirnya Harry mau tapi tidak dengan uluran tangan Draco. Tak apa, Draco tidak apa-apa. Ketika Harry sudah pindah mobil, Draco menyusul. Memindahkan mobilnya agar tidak menghalangi.

"Kau pikir aku tidak punya cukup uang untuk membayar jasa taxi online?" Harry terdengar tersinggung.

"Aku sama sekali tidak sedang merendahkan mu--"

"Kau pikir aku buta? Jelas kau memberikan supirnya tarif lima kali lipat. Apa namanya itu kalau tidak merendahkan?"

Draco menepi, ia berbalik menghadap Harry, "menyogok. Aku menyogok supir itu agar membukakan aku pintu. Sudah jelas? Aku tidak ingin kau salah faham."

Harry mendengus.

"Kau berangkat dengan ku, pulng juga harus dengan ku. Tidak ada debat lagi." Dengan itu, Draco mulai melaju dengan kecepatan rata-rata.

Di tengah jalan raya yang cukup lenggang, Harry sedikit menurunkan kaca jendela, celahnya cukup untuk melambaikan tangan keluar. Namun Harry tak melakukan itu, Harry hanya beberapa kali menghirup nafas dalam-dalam dan menutupnya kembali.

"Aku suka angin malam," katanya, "rasanya sejuk, tidak seperti pedingin ruangan."

Draco tidak tahu harus membalas apa, ia hanya tersenyum dan menurunkan kaca jendela Harry seperti tadi.

Namun Harry menutupnya kembali, "tak boleh lama-lama nanti bisa sakit."

Draco mengangguk mengerti.

"Bagaimana Astoria?"

"Hm?"

Harry mengulang pertanyaanya.

"Dia baik." Draco menjawab.

"Syukurlah, semoga dia cepat menemukan donor jantung."

Draco tercekat, ia belum bercerita apapun tentang Asto pada Harry.

"Maaf, Harry, harusnya aku--"

"Tidak, jangan minta maaf. Aku akan pura-pura tak tahu jika kau mau."

Mereka saling bicara tanpa menatap lawannya. Draco merasa bersalah karena Harry harus tahu dari orang lain.

Di perempatan saat lampu sedang merah, Harry menanyakan sesuatu yang Draco sendiri pun tidak tahu apa jawabannya.

"Bagaimana kalau Astoria tahu? Apa keadaannya akan memburuk? Kalau iya, apa kau akan melepaskan ku demi dia?"

"Aku tidak tahu."

"Kurasa dia orang baik, kau pasti sedang melakukan kesalahan karena mengikatku--"

"Stop saying that!" Draco memukul setir tapi terkena klakson, "aku tidak suka dengan Asto! bagaimanapun caranya atau berapa lama pun aku mengenalnya itu bukan menjadi tolak ukur untuk mencintai seseorang."

"Kita baru saling kenal, aku takut kalau aku sendiri terjebak perasaan padamu. Bisa ..." ada jeda yang cukup panjang sebelum lampu kembali hijau, "bisakah kita hidup biasa saja?" Harry berkata bertepatan dengan bergantinya lampu lalu lintas menjadi hijau.

Draco tak menjawab, sibuk dengan fokus jalanan dan jawaban untuk Harry. Ia yakin seyakin-yakinnya kalau ia memang berniat menjadikan Harry sebagai pasangannya, tapi ribuan kali pun ia mengakui hal itu malah mendapatkan ketidak percayaan Harry.

Mereka saling diam lagi, Draco terus memutar otak agar bisa bicara santai dengan Harry seperti di awal mereka bertemu. Waktu itu, terjadi begitu saja tidak ada unsur yang di buat-buat. Ia ingin seperti itu, namun sebelum itu ia harus meredamkan amarah Harry lebih dulu.

Draco menghindari kontak fisik meski ia membutuhkannya, resiko atas pengikatannya. Draco tidak percaya, ia pernah bertahan tak berkontak fisik selama dua minggu lebih dua hari. Ya, cukup terkejut juga Harry mengajaknya bertemu untuk memberikan kontak fisik waktu lalu.

Kalau di tanya apa yang ia suka dari Harry hingga nekat mengikatnya, jawabannya adalah tidak tahu. Draco suka, entah sejak saat perkemahan atau malam pesta rumah, ia tak tahu.

Canggung dengan keadan yang seperti ini Draco inisiatif membuka suara, "jadi, hal apa lagi yang kau suka?" Draco berkata tanpa melihat Harry, hal yang sangat jarang ia lakukan.

Tidak ada jawaban.

Draco mengganti pertanyaan yang sama saja tidak di jawab. Harry memalingkan wajah ke luar jendela, sepertinya sangat enggan melihat Draco.

"Harry--"

"Bisa tidak jangan berputar-putar! Aku lelah!"

"Baik, aku minta maaf."

Kapan sih, Draco cukup pintar membaca gerak tubuh Harry.

Suasana kembali canggung, pendingin mobil pun sanggup mengalahkan sikap dingin Harry padanya. Hidungnya mencium sesuatu, baunya segar sekali, Draco yakin sekali kalau pengharum mobilnya adalah wangi lavender bukannya teh.

Teh ...

Baca cerita lengkapnya di karyakarsa Vwatson_drarry ya guys, hanya 3.000 rupiah per chapternya

a/n: yg penasaran sama pertanyaan Harry ke Draco, itu ada di judul ya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

a/n: yg penasaran sama pertanyaan Harry ke Draco, itu ada di judul ya. Tinggal di balik aja
H: why me?
D: i dont know

A.B.OTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang