Pagi itu Wang Yibo tampak sudah rapi dan bersiap-siap hendak pergi ke kantor. Sambil menenteng tas kerjanya dia melangkah keluar kamar. Indera penciumannya langsung disambut oleh harumnya aroma makanan.
Dengan langkah lebar Wang Yibo bergegas menuruni anak tangga dan langsung menuju ruang makan yang menjadi satu dengan dapur. Dilihatnya Xiao Zhan sedang sibuk menyiapkan sarapan.
"Sudah mau berangkat kerja?" tanya Xiao Zhan saat melihat Wang Yibo yang sudah rapi. "Ayo sarapan dulu. Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu."
Wang Yibo tersenyum senang. Dia pun duduk di depan meja makan sambil memperhatikan Xiao Zhan yang sedang menyiapkan piring-piring.
"Makanlah," ujar Xiao Zhan sembari meletakkan piring berisi nasi goreng seafood dan omelet.
"Terima kasih, sayang." Wang Yibo tersenyum lalu mulai melahap makanannya.
Xiao Zhan melepaskan apronnya lalu duduk berhadapan dengan Wang Yibo. Baru saat itu Wang Yibo sadar ternyata Xiao Zhan tampak begitu rapi seolah hendak bepergian.
"Kau mau pergi?"
"Sudah dua minggu aku istirahat di rumah. Gara-gara aku sakit jadwal syuting jadi terganggu. Jadi mulai hari ini aku akan mulai syuting lagi."
"Apa?!" seru Wang Yibo terkejut. "T-Tapi apa kau yakin tidak apa-apa? Ingat kata dokter, kau tidak boleh terlalu lelah."
"Tenang saja. Aku akan baik-baik saja," ujar Xiao Zhan sembari melahap nasi gorengnya. "Lagipula ditempat syuting kan aku tidak sendiri. Banyak orang di sana."
"Baiklah. Aku akan mengantarmu sebelum berangkat ke kantor. Dokter juga bilangkan kalau kau tidak boleh menyetir sendirian selama masa pemulihan."
"Aku tahu. Oleh sebab itu aku sudah meminta Lu Han untuk menjemput dan mengantarku selama syuting."
Deg. Jantung Wang Yibo bagaikan diremas-remas mendengar perkataan istrinya. Hatinya panas mengetahui orang lain yang akan mengantar jemput istrinya syuting. Tiba-tiba dia merasa tidak dibutuhkan oleh Xiao Zhan.
"Kenapa harus minta Lu Han yang mengantar jemputmu?" ada nada cemburu di suara Wang Yibo. "Aku kan bisa."
"Aku dan Lu Han kan main dalam satu film. Setiap hari kami akan selalu bertemu dan syuting di lokasi yang sama. Jadi apa salahnya aku minta tolong padanya," jawab Xiao Zhan menjelaskan. "Lagi pula kau kan harus berangkat kerja. Tidak mungkin aku membiarkanmu setiap hari harus repot mengantarku ke tempat syuting setiap hari."
"Aku tidak merasa direpotkan," sahut Wang Yibo cepat. "Kau kan istriku. Sudah sewajarnya aku mengantarkanmu dan menemanimu kemana pun kau pergi."
"Terima kasih sayang untuk tawarannya. Tapi saat ini biar Lu Han yang menjemput dan mengantarku."
Xiao Zhan melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul tujuh pagi. Xiao Zhan bergegas menyelesaikan sarapannya, lalu mencuci piring bekas makannya. Tak lama kemudian terdengar suara pintu utama di ketuk dari luar.
"Itu pasti Lu Han datang menjemput," ujar Xiao Zhan seraya melangkah menuju pintu utama.
Wang Yibo dengan wajah cemberut memandang Xiao Zhan yang melangkah pergi meninggalkan ruang makan. Lalu dia mendengar suara Xiao Zhan sedang berbicara dengan seseorang yang Wang Yibo yakin itu adalah suara Lu Han.
Wang Yibo membanting sendok dan garpunya ke piring. Nafsu makannya sekarang hilang berganti dengan perasaan cemburu. Dengan perasaan kesal dia meraih tas kerjanya lalu melangkah menuju mobilnya yang terparkir di halaman depan rumah.

KAMU SEDANG MEMBACA
Benci Jadi Cinta (END)
RomanceXiao Zhan menikah karena dijodohkan oleh orang tuanya yang merupakan sahabat dari orang tua suaminya. Xiao Zhan menerima perjodohan itu dan berusaha mencintai suaminya dengan tulus. Namun Wang Yibo sama sekali tidak mencintai Xiao Zhan dan tidak men...