"Kenapa mukanya ditekuk gitu, Sel?" tanya Lesya dari seberang sana.
Seperti rencana tempo hari, hari ini Girls akan membuat konten Youtube baru. Mereka akan men-cover lagu Count On Me, Bruno Mars. Lagu yang sering mereka nyanyikan semasa SMA.
Menurut mereka lagu ini bagus. Dari lagu ini mereka tahu apa arti persahabatan yang sesungguhnya. Sahabat adalah mereka yang bisa diandalkan. Selalu ada dalam susah dan senang.
"Ini udah masuk bulan Agustus akhir, 'kan? Bentar lagi London masuk musim gugur. Ditambah pohon mangga di belakang rumah Kak Gea itu beberapa akarnya baru dipotong. Daunnya jadi berguguran terus!" Gisel mulai bercerita.
"Jadi?" Rhea di seberang sana menjadi penasaran.
"Aku disuruh nyapu taman belakang. Kalian bayangin, hampir satu jam aku nyapu! Daunnya jatuh lagi, jatuh lagi. Nggak beres-beres!"
"Hahaha... Sabar, Sel. Mungkin Kak Gea lagi nguji kesabaran kamu,"
Gisel menghela napas pelan. Dia memijit lengan atasnya. "Tau, tuh. Jadi pegel, nih tangan!"
"Eh, aku juga punya cerita, lho!" ujar Lesya. Lesya memang tipe orang yang terbuka. Atau mungkin terlalu terbuka.
Lesya selalu ingin membagi setiap detik yang terjadi dalam hidupnya pada orang lain. Andai saja ada orang yang bersedia mendengar cerita Lesya. Karena tidak ada, Lesya beralih mengalirkan isi pikirannya ke dalam tulisan. Jadilah dia seorang penulis.
"Jangan bilang tempat penjemuran penuh lagi dan kamu jadi nggak nyuci," tebak Gisel menohok.
"Itu cuma alasan malas nyuci. Iya, 'kan, Sya?" tuding Rhea.
"Enggak, lah. Sekarang ceritanya serius, kalian harus tau!"
"Lanjutkan!"
"Aku dapet gebetan baru!"
"Masa? Siapa?"
"Calon editorku. Dia kayaknya anak yang agamais, deh. Makannya aku mau ketemu bapak kamu, Rhe,"
"Hah? Gebetan kamu bapakku?!"
Tawa Gisel langsung meledak melihat ekspresi kaget Rhea. Ke-ambiguan Lesya selalu menjadi hiburan bagi Gisel.
"Ish, bukan! Aku mau belajar ilmu agama sama bapak kamu. Biar gebetan aku itu naksir juga sama aku,"
"Oh... Bilang, dong! Hijrah itu harus karena Allah, jangan karena gebetan!"
"Nah, denger tuh, Sya! Allah juga tau mana yang benar hijrah, mana yang modus doang,"
"Hmm.. Oke, oke. Pokoknya aku gak jadi nitip bule tamvan, ya, Sel. Udah dapat yang lokal,"
"Oke, sip. Udah, ah. Malah bahas gebetan. Langsung aja, yuk!"
Sore itu Gisel menghabiskan sisa hari dengan Rhea dan Lesya. Menikmati sisa hari sebelum kesibukan tiba.
****
Hari pertama menyair ilmu di negeri orang, tidak begitu buruk bagi Gisel. Sifatnya yang ceria membuat Gisel mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.
Hari pertama kuliah sudah usai di jam 2 siang waktu setempat. Gisel menuruni tangga yang membawanya keluar dari gerbang kampus. Sambil berjalan Gisel mulai menyusun rencana untuk mengelilingi kota London.
Gisel memulai perjalanannya menggunakan kereta bawah tanah yang biasa disebut Tube. Alat transportasi utama masyarakat London. Tempat pertama yang ditujunya adalah Istana Buckingham.
Tadinya Gisel ingin mengelilingi kota London bersama Gea dan Erick. Tapi karena sepasang suami istri itu sedang sibuk dengan pekerjaan, alhasil Gisel terpaksa berjalan-jalan sendiri. Tadi Gea sudah meminjamkan kartu berwarna biru untuk membayar transportasi pada Gisel.
Di London ini beberapa alat transportasi tidak menerima pembayaran ongkos menggunakan uang. Jadi kita harus memiliki kartu biru bernama Oyster Card.
Biasanya dalam dua hari sekali akan diadakan pergantian penjaga istana di Buckingham. Sayang sekali hari sudah sangat siang, acara itu pasti sudah selesai. Meski begitu Gisel tetap bersemangat untuk mengunjungi tempat tinggal resmi Ratu Elizabet II itu.
Gisel turun di stasiun Green Park, lalu berjalan kurang lebih 10 menit menyusuri taman Green Park untuk sampai ke taman Istana Buckingham. Saat sudah sampai, disambutlah Gisel dengan bangunan putih menjulang tinggi yang dipuncaknya terdapat patung berlapis emas, Victoria Memorial.
Gisel melompat-lompat kecil kegirangan. Kedua sudut bibir gadis itu terangkat, menghasilkan sebuah senyuman lebar. Dia tidak peduli lagi jika orang-orang di sekitarnya mengira ia sudah gila. Jika saja urat malu Gisel sudah putus, Gisel pasti sudah berteriak-teriak girang.
"Aku beneran ada disini!!!" pekik Gisel ditahan.
Gisel berlari mendekati monumen Victoria Memorial itu. Mengeluarkan kamera SLR dari tas kecilnya, lalu meminta orang untuk memotretnya.
Gea bilang, "Jangan malu meminta bantuan. Meski muka orang eropa itu judes-judes, tetapi sebenarnya mereka itu ramah."
"Take as many photos as possible!" tutur Gisel pada laki-laki bule yang akan memotretnya. Artinya: "Ambil foto sebanyak mungkin!"
Bule itu mengangguk menurut. Benar, 'kan, mereka baik.
Gisel mulai berpose di depan Victoria Memorial. Senyumnya terus mengembang. Hari ini Gisel menggunakan celana jeans dan kemeja putih berbahan katun supaya tidak kegerahan.
Setelah puas mengelilingi istana Buckingham, Gisel melanjutkan perjalanannya menuju halte bus dengan kembali berjalan kaki menembus Green Park yang sejuk. Sekarang Gisel ingin memakai Bus Merah untuk menuju Oxfrod Street, pusat pembelanjaan tersibuk se Eropa dengan 500 lebih toko yang berjejer di sepanjang jalan.
Gisel bernasib baik. Saat pintu bus dibuka, cepat-cepat Gisel masuk ke dalamnya lalu mengambil duduk di lantai atas. Dari bagian sini Gisel dapat melihat keindahan kota London dengan jelas.
Beribu-ribu orang menyambut indra penglihatan Gisel setelah turun dari bus. Tidak salah jalan ini dinobatkan sebagai jalan tersibuk se Eropa.
Mulut Gisel setengah terbuka. Banyaknya orang yang mengunjungi jalanan ini membuat Gisel harus sedikit berdesak-desakan. Tapi berjalan menyusuri jalan ini membuat Gisel nyaman seperti ada sensasi tersendiri.
Hampir semua toko di sini memakai Window Shopping. Gisel jadi dapat melihat-lihat berbagai barang tanpa ada niatan untuk membelinya. Beginilah nasib kalau jalan-jalan dengan bujet terbatas. Hanya bisa melihat tanpa bisa memiliki. Seperti kamu yang cinta dia, hehe.
Gisel sebenarnya ada niat untuk membeli suatu barang, tapi entah apa itu. Dia berjalan tak tentu arah. Semua barang yang terpajang di Display toko membuat Gisel ingin membelinya, tapi uangnya tidak mungkin cukup untuk membeli semua. Karena itu Gisel harus cermat memilih. Banyak sekali di sini barang bermerek dengan harga mengejutkan. Murah!!!
Sebuah Outer panjang berbahan sutra yang dikenakan patung baju itu menarik perhatian Gisel. Gisel sangat menyukai Outer.
Tanpa berpikir panjang Gisel masuk ke dalam toko itu. Dari dalam sini Gisel dapat melihat Outer-nya lebih jelas. Mulut Gisel setengah terbuka. Outer bagus dan harganya juga tidak terlalu menguras isi dompet.
Gisel mengeluarkan benda persegi dan pipih dari saku celananya, lalu mengirim pesan audio pada Rhea dan Lesya.
"Aku jalan-jalan ke Oxfrod Street. Banyak banget barang yang bagus dan murah buat aku galau mau beli yang mana, hehe. Andai kalian di sini kalian pasti bisa bantu aku milih." Gisel mengirim pesan suara singkat itu.
Gisel menyimpan ponselnya kembali ke saku celana kanan. Akhirnya Gisel dapat membawa pulang outer itu hanya dengan harga 5 Poundsterling. Kalau dirupiahkan sekitar 95.000.
Karena malas untuk membuka tas gendongnya, Gisel menyimpan dompet kecilnya di saku celana kanan. Sama seperti ponselnya. Sementara di saku celana kiri ada Oyster Card.
Gisel keluar dari toko itu dengan senyuman yang semakin melebar. Dia mulai menjelajahi kembali jalanan London ini sambil bersenandung kecil.
Gisel menyeberangi Zebra cross untuk mengunjungi toko berikutnya, toko kosmetik. Banyak barang yang dibeli Gisel di situ. Contohnya beberapa parfum. Gisel juga melihat-lihat cendera mata. Sebagai referensi jika nanti dia ingin membawa oleh-oleh saat pulang ke Indonesia.
Keluar dari toko Gisel bertemu dengan dua tunawisma berpakaian serba hitam meminta-minta padanya. Mereka mengimpit Gisel di sisi kanan dan kiri.
Gisel malas membuka dompet. Dia mengangguk sopan sambil mengucap, "Sory."
Dua tunawisma itu kemudian pergi ke arah berlawanan dengan Gisel.
Karena sudah lelah Gisel mengistirahatkan kakinya di bangku depan kedai kopi. Gisel merogoh saku kanannya mencari dompet hendak menghitung sisa uangnya.
Mata Gisel membulat. Dia tidak menemukan apa pun di saku kanan.
Gisel bangkit dari duduknya mencoba merogoh saku celananya yang dangkal itu. Hasilnya tetap sama, tidak ditemukan apa pun. Hanya ada Oyster card di saku kiri.
"Astaga!" Gisel meremas tangannya.
Belum menyerah, Gisel membanting tas punggungnya. Membuka semua resleting.
"Nggak ada!"
Gisel membanting tubuh. Pandangannya kosong. Sekujur tubuhnya tiba-tiba terasa sangat lemas.
Gisel meremas jari-jari tangannya. Dadanya sesak, rasanya dia ingin menangis. Napasnya jadi pendek-pendek.
Kepala tangan Gisel menempel di jidat. Kepalanya tertunduk dalam dengan mata terpejam. Menangis di tempat seramai ini pasti sangat memalukan.
"Hello, miss. What do you want to order?" tanya seorang pramusaji berdiri di pinggir Gisel.
Kepala Gisel mendongak. Area sekitar matanya mulai basah. Memalukan.
"No, i have to go." Gisel menyambar tasnya.
Dia mulai melangkah lunglai. "Gimana aku bisa pulang?" lirih Gisel kebingungan.
Gisel menjadi seperti seorang anak yang kehilangan jejak ibunya di mal. Bingung dan sedih.
Langkah Gisel terhenti. Dia berada di pinggir trotoar. Gisel meremas rambutnya frustrasi. Dia sangat kebingungan dan takut.
Bukkk!
Tubuh Gisel yang lemas langsung terbanting saat seseorang menubruknya. Orang itu berbalik melihat keadaan Gisel.
"Hey, are you okay?" tanya pria berambut keriting pirang itu menjulurkan tangan untuk membantu Gisel berdiri.
Gisel tidak menerima uluran tangannya. Akibat kejadian kecopetan ini Gisel menjadi waspada.
Pria itu tersenyum ramah. "I'm not a bad person. Here I help stand," artinya: "Aku bukan orang jahat. Sini aku bantu berdiri,"
Gisel mengangguk ragu-ragu. Dengan masih waspada Gisel menerima uluran tangan pria itu. Gisel menepuk-nepuk bokongnya yang sedikit kotor.
"What happened? Why do you look panic?" tanya pria itu yang artinya: "Apa yang terjadi? Kenapa kamu terlihat panik?"
"Aku kecopetan. Eh mmm... A- I mean-"
"Who is it, dear?"
Gisel menoleh kaget pada gadis yang baru saja menghampirinya. Pria di sebelah Gisel juga tidak kalah kaget.
🎤🎤🎤
Jeng! Jeng! Jeng!
Hey, hey, siapa diaaa????
Sory kemaren gak sempat up huhuuu. Kalau bisa sekarang doble up, kalau enggak ya satu aja hehe^^
Vote dan komennya selalu ku tunggu^^
Jangan lupa ajak teman-teman kalian, tetangga, keluarga, mantan, dan gebetan untuk baca cerita ini^^
Seperti biasa, thanks for reading and see you in the next part^^
Salam,
Lutfyyunita.
KAMU SEDANG MEMBACA
GiRLs
Ficção Adolescente[PROSES REVISI] GiRLs adalah vokal grup yang beranggotakan 3 siswi SMA. Nama GiRLs diambil dari singkatan nama mereka yaitu Gisella Anatasya, Rhea Asyifa Umaira, dan Lesya Mikovia. Grup vokal ini tidak sekeren JKT 48, juga tidak se-famous BlackPink...
