11. Terbakar

7 7 0
                                        

"Rhea?!"

"Fachri?!"

"Lesya?"

"Ngapain di sini?" tanya Rhea dan Fachri bersamaan.

Kemudian, mereka terkekeh bersama. Merasa lucu dengan adegan tersebut.

Rhea melirik ke arah Lesya. Dengan semangat 45 Rhea mengenalkan Fachri pada Lesya. "Lesya, ini Fachri sahabatku,"

Lesya mengangguk pelan. Dia kebingungan. Kenapa jadi Rhea yang mengenalkan Fachri? Harusnya itu yang Lesya lakukan.

Fachri terkekeh pelan. Suaranya itu membuat bulu-bulu di tangan Lesya meremang. Ternyata suara real lebih indah daripada hanya lewat telepon.

"Lesya ini sahabatku, Ri," ujar Rhea mengenalkan Lesya.

"Ternyata dunia itu sempit, ya," tanggap Fachri tersenyum manis.

"Udah berapa lama kita nggak ketemu, ya?" tanya Rhea seperti pada diri sendiri.

"Tahun kemarin aku nggak bisa pulang kampung,"

"Oh, pantesan kerasa udah lama banget nggak ketemu. Sejak kapan kamu tinggal di Jakarta?"

"Ta-"

"Kak, boleh sekarang aja tanda tangan kontraknya? Biar cepet," potong Lesya.

"Oh, ya. Sebentar,"

Fachri membungkuk untuk mengambil tas yang disandarkan ke kaki kursi sebelah kanan kakinya. Fachri kembali menegakkan tubuhnya. Tangannya memegang beberapa lembar kertas yang disatukan oleh staples.

Fachri meletakkan beberapa lembar kertas itu di atas meja, menyodorkannya pada Lesya.

"Ini kamu baca-baca dulu. Kalau ada perjanjian yang mau ditambahkan, dibuang, atau mau diubah, bilang aja. Nanti kita pertimbangkan," tutur Fachri memberi arahan.

Lesya mengangguk, lalu menerima lembaran kertas itu. "Oke, aku baca dulu, ya."

"Mau pesan minum? Makan?" tawar Fachri.

Rhea menyenggol lengan Lesya, meminta pendapat.

"Nggak usah, Kak. Aku tadi baru aja beli air mineral sama makaroni," tolak Lesya dengan alasan polosnya.

Beberapa detik Fachri kicep, berhasil dibuat kaget oleh pengakuan Lesya yang terlalu jujur.

"Aku pesanin ... Kamu suka apa?" tanya Fachri pada Lesya.

"Lemon squas aja," jawab Lesya seadanya.

"Wah, sama kaya kesukaan Rhea ternyata,"

Rhea terkekeh. "Masih ingat ternyata,"

"Ingat, dong."

Bukan sulap, bukan sihir, pmausaji tiba-tiba datang membawa daftar menu. Pramusaji wanita itu mengeluarkan note pesanan, lalu menulis permintaan Fachri.

"Oke, dua lemon squas sama satu kopi affogato." Pramusaji itu mengulangi ucapan Fachri, memastikan catatannya tidak salah.

Fachri mengangguk membenarkan.

Pramusaji itu kembali masuk ke dalam kafe.

Lesya masih fokus membaca isi perjanjiannya dengan penerbitan Start Publisher. Fachri dan Rhea kembali mengobrol sambil menunggu pramusaji membawa pesanan mereka.

"Sejak kapan kamu jadi editor?" tanya Rhea.

"Hampir satu tahun. Awalnya cuma iseng jadi penulis, eh ternyata dunia sastra itu indah. Terus, ada lowongan editor, ikutan, lalu pindahlah aku dari Malang ke Jakarta," jelas Fachri menceritakan kembali alur hidupnya.

GiRLsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang