5. 30 Menit

25 11 4
                                        

"Aku kecopetan. Eh mmm... A- I mean-"

"Who is it, dear?"

Gisel menoleh kaget pada gadis yang baru saja menghampirinya. Pria di sebelah Gisel juga tidak kalah kaget.

"Are you from Indonesia?" tanya gadis itu pada Gisel.
Gisel mengangguk kecil.

Gadis itu tersenyum ramah. Dia mengulurkan tangan pada Gisel. "Namaku Caitline Kanaya. You can call me Cait. I'm from Indonesia, to,"

Gisel sedikit terkejut. Dengan hidung yang mancung dan rambut pirang tergerai, gadis yang mengaku bernama Caitline itu tidak terlihat seperti berdarah Asia.

Gisel membalas uluran tangan Caitline sambil tersenyum kaku. Kejadian kecopetan yang menimpanya membuat keceriaan Gisel hilang.

"Gisel.”

Jabatan tangan mereka diakhiri. Caitline mengalihkan pandangan kepada laki-laki yang tadi menubruk Gisel.

"You've been waiting for your friend, right? I will accompany him. You just go," ucapnya yang berarti: "Kamu sudah ditunggu temanmu, kan? aku akan menemaninya. Kamu pergi saja,"

"Are you sure?"

"Yes.”

Dia mendekatkan kepalanya ke telinga pria itu, hendak berbisik. "Looks like he's my friend," (Sepertinya dia temanku)

Pria itu mengangguk menurut, lalu mengacak-acak puncak kepala Caitline. "Take care of yourself well!"
Sebelum benar-benar pergi, pria itu mencium pipi Caitline agak lama.

Gisel yang melihat jelas adegan itu mengibas-ngibaskan tangannya, kegerahan. Suhu London di musim panas memang cukup tinggi. Apalagi ditambah pemandangan seperti ini.

"Bye!" Caitline melambai-lambaikan tangannya.

Caitline kembali tersenyum merekah pada Gisel. "So, your name is Gisel, right? Aku lihat kamu di kampus pagi ini,"

"Oh, hm, maybe we are in the same campus," (mungkin kita satu kampus)

"Ngomong denganku pakai bahasa Indonesia aja. Aku masih lancar berbahasa Indonesia, kok,"

Gisel kembali mengangguk kaku.

"So, kamu baru aja kecopetan? Apa aja yang hilang?"

"Dompet dan ponselku. Aku jadi bingung bagaimana caraku untuk bisa pulang," jujur Gisel dengan muka memelas.

Caitline mengangkat sebelah alisnya, lalu terkekeh kecil. Dengan berani Caitline merogoh saku kiri celana Gisel. Menyodorkan Oyters card ke depan muka Gisel membuat Gisel refleks memundurkan tubuhnya.

"What is this thing?" tanyanya dengan nada meledek. "Kamu bisa membayar bus dengan Oyster card," lanjutnya sambil melempar kartu itu kembali ke tangan Gisel.

Gisel menepuk jidat, merutuki dirinya sendiri. "Oh my god! Aku benar-benar panik sampai melupakan benda ini,"

"Terus nasib uangku gimana?" tanya Gisel terdengar putus asa.

"Itu udah nasib kamu yang lalai. Think smart and alert everywhere!"

Gisel menggigit bibir dalamnya. Sepertinya Caitline ini tipe orang yang blak-blakan.

Caitline tertawa lepas melihat ekspresi Gisel. "Come on, i'm just kidding!"

Gisel tau itu, tapi candaan Caitline sangat menohok.

"Langkah pertama setelah kamu menyadari kamu dicopet yaitu, melapor ke Kantor Pusat Informasi terdekat," tutur Caitline kembali serius.

"Jadi semuanya bisa kembali?" antusias Gisel.

"Nggak, lah! Kamu pikir buat apa mereka mencuri kalau ujung-ujungnya semua kembali ke tangan kamu?"

"Terus ngapain kita ke Kantor Pusat Informasi kalau barangku nggak bisa kembali?"

"Dompet, kartu-kartu penting, dan uang rupiahmu bisa kembali. But, your dollar bill, mereka mengambil uang dolarmu saja. They're smart, you know?"

Gisel mengangguk-agukkan kepalanya, mengerti.

"Thank you for your help," Gisel tersenyum tipis.

"It's noting. So, come on, aku antar ke Kantor Pusat Informasi.”

Gisel mengangguk. Dia berjalan membuntuti Caitline mencari Kantor Pusat Informasi terdekat.

***

Gisel dan Caitline keluar dari Kantor Pusat Informasi. Petugas bilang akan menelepon pada nomor yang tadi Gisel berikan jika dompet Gisel ketemu.

Meski beberapa uangnya hilang, Gisel tetap akan sangat bersyukur jika dompetnya kembali. Setidaknya dia tidak usah susah-susah mengurus kartu-kartu penting yang hilang itu.

"Setelah ini kamu mau ke mana?" tanya Gisel basa-basi.

"Rencananya aku mau keliling London dengan temanku yang laki-laki tadi. Tapi, karena dia ada urusan dengan temannya, aku jadi bingung harus berjalan-jalan dengan siapa," jawab Caitline jujur. "Kamu sendiri?"

Gisel menghembuskan napas kasar. "Sepertinya aku harus pulang. Tidak mungkin, ‘kan, aku berjalan-jalan tanpa memegang uang sepeser pun,"

"Want to accompany me on a walk?" (Mau menemaniku jalan-jalan?)

"Hah?"

Caitline menyenggol lengan kanan Gisel, menggodanya. "Calm down, aku yang bayarin,"

"But-"

"What? Santai, kita teman, kan?" Caitline menyodorkan tangannya ke hadapan Gisel.

Gisel terkekeh pelan. Beruntung sekali dia bertemu dengan orang super baik seperti Caitline ini. Mood-nya sedikit membaik.

Gisel memberikan tos pada tangan Caitline. Dia setuju untuk menemani Caitline jalan-jalan.

Mereka kembali berjalan menuju halte bus. Mereka menggunakan Double Decker selama kurang lebih 16 menit untuk sampai ke Istana Westminster. Lagi-lagi Gisel beruntung kebagian bangku di bagian atas.

Semilir angin musim panas menerpa wajah Gisel, menyebabkan beberapa helai rambutnya beterbangan. Gisel sengaja membuka jendela bus karena kegerahan.

"Tadi petugas Pusat Informasi bilang kasus pencurian seperti ini sering terjadi. Emang benar?" tanya Gisel pada Caitline.

Caitline mengangguk. "Kata orang-orang di sini, 4,5 menit sekali pasti ada kasus orang kecopetan. Terutama di tempat padat manusia seperti Oxfrod Street,"

"Kamu tahu banyak tentang London. Sudah tinggal di sini berapa lama?"

Kulit di antara kedua alis Caitline mengerut. Dalam otaknya dia menghitung berapa lama tinggal di London.

"Seven," jawabnya.
"Realy?"
"Yes. Aku lahir di Indonesia. Dibesarkan di sana sampai berusia 12 tahun. Lalu, papa dan mama cerai. Aku pindah ke London mengikuti papa,"

"Oh, begitu,"

"Kakakku tinggal di Jakarta. Kamu dari mana?"

"Jakarta,"

"Wah, kebetulan sekali. Nanti kalau kamu pulang aku ingin ikut, dong. Aku kangen kakakku,"

"Boleh,"

Obrolan Gisel dan Caitline terus berlanjut. Walau baru bertemu beberapa menit lalu Gisel merasa sudah sangat akrab dengan Caitline. Mungkin karena sikap ceria Caitline yang mengingatkannya pada Lesya. Bedanya, Caitline lebih ceplas-ceplos dari Lesya.

Bus berhenti membuat obrolan Gisel dan Caitline terpaksa ikut berhenti. Mereka keluar dari bus.
Mata Gisel membulat melihat pemandangan di depannya. Sebuah bangunan tua di tepi sungai Thames. Tidak lupa menara tinggi kebanggaan masyarakat London, Big Ben sang jam raksasa. Jam paling akurat di dunia. Indah sekali.

"Cait, may i scream?" pekik Gisel ditahan, yang artinya: "Cait, bolehkah aku berteriak?"

"No, jangan norak!" tolak Caitline.

Gisel tidak peduli. Jika saat di Istana Buckingham Gisel hanya melompat-lompat kecil, sekarang lebih parah. Dia melompat-lompat sambil berteriak-teriak heboh. Seperti anak kecil yang mendapat boneka dari permainan mesin capit di mal. Kejadian kecopetan tadi seketika terhapus dari ingatannya.

"Aaa!!! Senang banget!!!"

"Astaga aku benar-benar ke sini!!!"

"Siapa yang waktu itu bilang mimpiku ketinggian?!!"

"YOU ARE WRONG, MISS!"

"ITS MY DREAM!"

Caitline tertawa renyah melihat tingkah Gisel. "Aku menyesal ngajak dia," lirihnya bercanda.

Gisel berlari ke arah Caitline. Dia membuka tasnya mengeluarkan kamera SLR, lalu memberikannya pada Caitline.

"Fotoin aku! Yang banyakkkkk ...!"

Gisel berdiri di pinggir trotoar seberang Istana Westminster. Ini angel yang cukup bagus.

Gisel mencoba berbagai gaya dalam fotonya. Gaya elegan dengan memasukkan tangan ke saku celana. Gaya manis dengan kedua tangan menyentuh pipi dan mata terpejam. Hingga gaya alay dengan membuat mulek alias muka jelek.

Caitline membuka ponselnya, lalu mengajak Gisel untuk berfoto wevie.

Setelah puas bersua foto di sekitar Big Ben, sekarang mereka tengah berjalan menyelusuri Jembatan Westminster menuju London Eye. Letaknya tidak jauh. Bahkan dari tempat tadi Gisel berfoto, London Eye sudah bisa terlihat dengan jelas.

Sesudah memesan tiket, Gisel dan Caitline masuk ke dalam kapsul raksasa itu. Mereka jadi tidak perlu mengantre lama untuk bisa menaiki wahana bianglala raksasa ini karena ini bukan akhir pekan, juga hari sudah pukul setengah 5 sore GMT, pengunjung yang datang tidak terlalu ramai.

Di ketinggian 442 kaki dari permukaan bumi ini Gisel dapat memandang keindahan kota London sampai sejauh 40km. Beberapa tempat ikonik London yang lain seperti Big Ben dan Buckingham Palace dapat terlihat dari sini.

Gisel dan Caitline berdiri di dekat jendela menghadap arah utara untuk mendapat pemandangan lebih indah.

Mentari yang mulai mendekati cakrawala barat membuat gedung-gedung tinggi menjatuhkan bayangannya. Lampu jalan dan gedung-gedung dinyalakan. Langit Eropa mulai memancarkan semburat warna keemasan. Langit memamerkan keindahan yang dimilikinya dengan memantulkan warnanya pada permukaan Sungai Thames. Semua keindahan itu menyatu dalam pandangan Gisel.

Mata Gisel berkaca-kaca. Mulutnya tak bisa diam, terus-menerus mengucap rasa syukur dan kagum pada sang pencipta alam.
"Indah banget. Subhanallah. Thanks, Cait,"

"Hm, sama-sama.”

"Foto lagi, yuk," ajak Gisel mengangkat kamera SLR-nya.

Caitline mengangguk setuju. Mereka kembali berfoto, memanfaatkan waktu 30 menit di atas London Eye dengan baik.

Tiga puluh menit paling indah dalam hidup Gisel. Menaiki London Eye adalah pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan. London benar-benar berhasil membuat Gisel terpukau.

****

Gisel menempelkan telinganya pada daun pintu masuk rumah Gea. Dia tidak berniat untuk masuk rumah. Instingnya menyuruh dia untuk menguping.

"Udah aku bilang, temenin Gisel! Kalau dia diculik gimana, hah?!" itu suara Gea yang bercampur dengan suara isak tangis.

"He must be fine, Gea. Pasti cuma dompetnya yang dicuri,"

"Sekarang dia gak megang uang sepeser pun. Gimana cara dia pulang? Gimana kalau dia nyasar?"

"Kamu sudah pinjamkan Oyster card kamu, kan?"

"Ah, that's right. But ... aku masih khawatir. Ayo cari Gisel!"

"Okay,” serah Erick diakhiri helaan napas kasar. Selanjutnya terdengar langkah kaki mendekati pintu.

Cklk!

Bukk!

Pintu tiba-tiba dibuka membuat Gisel yang sedang menyender jatuh ke lantai. Gisel meringis.

"Gisel!"

Gisel mendongak sambil menyengir kuda. Mata sembab Gea menatap tajam ke arahnya. Mengerikan sekali.


🎤🎤🎤

Jeng! Jeng! Jeng!

Kira-kira Gea bakal marah atau nangis bawang kesenengan adiknya pulang dengan selamat?

Terimakacii yang sudah mau mampir. Vote dan komennya okay.

Share cerita ini ke temen-temen kalian, tetangga, dan keluarga.

Thanks for reading and see you in the next part.

Salam,

Lutfyyunita.

GiRLsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang