"Ini kembalian anda, terima kasih Tuan"
Singto yang sejak beberapa menit berdiri didekat meja kasir, terus saja memperhatikan seseorang yang sedang membantu transaksi pembayarannya untuk memastikan sesuatu, jika ia benar-benar tak salah mengenali orang "Kau Ron kan? Dari fakultas bahasa?" Tanya Singto langsung karena ia sudah penasaran sedari pertama ia sampai di kedai ini.
"Kau mengenalku?" Tanya Ron tak percaya sembari menunjuk wajahnya.
Singto hanya mengangguk sebagai jawaban, meski ia terkesan cuek selama masa perkuliahan kecuali dengan siapapun yang menjadi incarannya dulu, bukan berarti ia tak bisa mengingat seseorang yang sudah jelas pernah menaruh perhatian pada sahabatnya. Singto tersenyum penuh misteri saat semua rasa penasarannya sudah terjawab, tak lama ia memajukan tubuhnya untuk sedikit berdekatan dengan pria yang sedang memperhatikannya dengan kening berkerut.
"Apa kau masih menaruh rasa pada wanita itu?" Tanya Singto penuh godaan.
"Waa.. Wanita siapa Khun?" Jawab Ron sedikit gugup.
"Haiyaa... Jangan menyangkal, sejak dulu setiap kita tak sengaja berpapasan, matamu selalu saja tertuju pada satu orang kan? Wanita itu, Meredith si barbarian, bukan begitu Khun Ron?" Alis Singto bergerak naik turun.
"Ah.. Itu.. Aku hanya.. Ehm.."
"Hahahaha....." Tawa Singto lepas juga, untung saja Mer sedang menerima telepon diluar Kedai, kalau tidak sudah bisa ia pastikan kalau Mer akan memukulnya karena membuat gaduh ditempat umum "Tak perlu malu Khun, kau bisa mengejarnya lagi jika kau mau, si wanita aneh itu sampai sekarang masih betah hidup sendiri, mungkin ia memang sedang menunggu pria sepertimu" Jelas Singto.
"Kau pasti salah or..."
"Jadi begitu Ron?" Sela Krist yang muncul dari arah belakang sepupunya "Pantas saja kau tahu jika Khun ini dan wanita yang datang bersamanya bukan sepasang kekasih, ternyata kau menaruh perhatian lebih pada wanita itu"
"Kit... Bukan begitu"
"Eleuhhh...." Tangan Krist mengibas di depan wajah Ron "Kau sudah tertangkap basah masih ingin menyangkal?"
Ron hanya mencebikkan bibirnya karena kesal, kali ini ia tak bisa memberikan alasan apapun karena semua yang dikatakan Singto memang benar. Saat Mer masuk ke dalam kedai, sesungguhnya ia merasa seketika semua berhenti bergerak, suasana tiba-tiba saja berubah layaknya beberapa tahun silam saat ia sering memperhatikan Mer yang sedang berlatih rock climbing dari jarak yang cukup dekat.
"Hei Khun" Jentikan jari Krist menyadarkan lamunan Singto seketika dan membuat Ron juga secepatnya fokus kembali pada kondisinya saat ini.
Singto hanya mengerjapkan mata berkali-kali karena masih terpana. Sejak pria itu keluar dan menyela pembicaraannya dengan Ron, tatapan Singto seolah terpatri pada satu titik dan tak bergerak sedikitpun.
"How sweet" Ucap Singto tanpa sadar.
"Siapa?"
"Kau lah"
Krist hanya tersenyum dan sejurus kemudian ia memajukan tubuhnya agar lebih bedekatan dengan pria itu "Kau juga tampan, tipeku sekali" Ucap Krist dengan satu kedipan mata sebelum kembali ke dalam ruang kerja pribadinya.
"Bye sweety" Singto melambaikan tangan pada Krist sebelum pria itu benar-benar menghilang dibalik pintu dan dibalas dengan sebuah flying kiss. Kejadian tersebut seketika membuat hati Singto seperti dipenuhi oleh orang-orang yang sedang turun ke lantai dansa, sangat ramai dan tentu saja memabukkan.
"Jam berapa kedai ini tutup?" Tanya Singto kemudian setelah kesadarannya kembali pulih, ia ingin bertemu lagi dengan si manis manja tetapi tak boleh mengganggu jam kerja mereka berdua.
"Sesuka hati pemiliknya" Jawab Ron asal, ia sudah muak dengan adegan receh yang tersaji didepannya.
"Memang kedai ini milik siapa?"
"Pria tadi"
"Wahh... Kalau begitu kedai ini dan diriku punya satu kesamaan"
"Maksudmu?"
"Sama-sama dimiliki oleh si manis manja.. Bye Ron"
Tanpa peduli apa yang dipikirkan oleh Ron setelah kalimat absurd keluar dari mulutnya, Singto segera keluar dari kedai itu untuk melanjutkan pekerjaannya. Hari ini ia harus cepat menyelesaikan semua urusan untuk bertandang lagi ke Takohachi. Jika kemarin alasan ia berkunjung hanya untuk si bulat montok, kali ini akan bertambah satu karena pria pemilik kedai itu juga sama menggiurkannya dengan takoyaki.
"Kenapa kau tersenyum seperti itu?" Mer sudah siap menjalankan mobilnya tetapi merasa sedikit terganggu karena partner idiotnya ini tak berhenti tersenyum dan benar-benar sangat menakutkan "Seperti paman-paman mesum yang sedang melihat remaja ranum" Lanjut Mer tanpa harus sibuk memfilter kata-katanya.
"Untuk hari ini kau bebas berkata apapun padaku karena omonganmu tak akan membuat moodku jelek seperti biasanya" Singto hanya melirik sekilas pada Mer dan tentu saja dengan senyum yang tak pernah luntur.
Mer mengerutkan keningnya sangat dalam, karena kebingungan dengan perubahan sikap Singto. Perlu diingat bahwa pria disampingnya ini baru saja membuat kepalanya hampir meledak akibat permintaan tak masuk akal yang membuatnya harus diceramahi panjang lebar oleh penerbit, tetapi lihatlah sekarang, si idiot ini bahkan memasang wajah seperti mahluk paling bahagia dimuka bumi.
"Serius Prach, kau membuatku bergidik ngeri dengan senyum anehmu itu, kau ini sebenarnya kenapa?"
"Aku baru saja melihat aurora"
"Hah...!" Fix sahabatnya butuh psikiater "Ehm.. Prach.. Jika kau lupa aku akan mengingatkan lagi kalau kita sedang berada di Bangkok yang mana pelangi saja muncul hanya sekali-sekali, dan bagaimana bisa kau melihat aurora kecuali kau baru saja membuka youtube dan melihatnya lewat video" Jelas Mer tegas.
Singto menghembuskan nafasnya kasar dan menghadap sang sahabat "Aku benar-benar melihat aurora, ia bahkan hidup dan baru saja membalas sapaanku padanya"
Mer buru-buru memegang kening Singto dan tak merasakan jika sahabatnya ini mengalami demam tinggi sampai membuatnya mengigau.
"Aku tidak sakit barbarian" Tangan Singto menepis kasar tangan Mer yang sedang memegang keningnya "Maksud perkataanku tadi adalah, aku baru saja melihat seseorang yang keindahannya bisa disamakan seperti saat kau memandang aurora"
"Kau sedang jatuh cinta?"
"Ishh... Belum sampai ke tahap itu, aku hanya kagum dan berdegup, tetapi tidak tahu juga kalau besok atau lusa, siapa tahu pertemuan selanjutnya dari sekedar kagum bisa jadi cinta... Hahaha..."
Mer tak menanggapi lagi keanehan sahabatnya yang absurd itu, sebagai penulis mungkin saja Singto sedang berimprovisasi dengan menciptakan khayalan baru, Mer tak mempedulikannya sama sekali yang paling penting adalah Singto bisa menulis dengan lancar dan penerbitan buku terbarunya tak tertunda lagi. Mer harus mendengarkan saja kegilaan pria itu tentang si Aurora khayalannya, demi pekerjaan yang akan cepat selesai, Mer harus bertahan untuk tidak memukul kepala Singto meski hasratnya sudah membumbung tinggi.
Jumpa lagi
Long weekend zheyenk....😱 Yah... Tapi jomblo😁
Gak apa sih, kan teteh update tuh sana sini, jadi kalean bisa baca untuk hiburan, ehm.. Yang gak jomblo juga boleh baca kok, tapi ngedate dulu gih sana mumpung liburnya banyak😊
Supaya ff ini rame, kalean bisa vote dan komen loh😁
Kita ketemu lagi nanti ya, dilapak yang mana? Tungguin aja kejutannya dan jangan sampe dihilangkan semua ff teteh yang sudah tersimpan
*Sayang Peraya Banyak Banyak*

KAMU SEDANG MEMBACA
Irony
Fanfiction"You deserve a relationship that enables you to sleep peacefully at night"