Effort Reflects Interest

966 167 34
                                    

Krist terlalu bersinar dan itulah yang sedang dilihat kedua orang tuanya. Sejak datang ke rumah mereka sampai sekarang mereka sedang duduk dengan tenang dimeja makan. Anak satu-satunya itu tak pernah berhenti mengumbar senyum dan candaan. Berbeda sekali dari sebelum-sebelumnya yang selalu bertampang masam jika kedua orang tuanya meminta datang. Kali ini pemandangan seindah Gunung Fujiyama tercetak jelas diwajah sang anak entah karena apa.

Sementara yang sedang dibatin justru tak sadar jika diperhatikan terlalu intens oleh dua pasang mata. Ia benar-benar tak bisa secepat itu move on dari kencan pertamanya dengan si Surga Dunia. Jangan berpikir yang aneh-aneh dulu kawan, karena kencan versi dua mahluk dewasa dengan kebutuhan seksual yang tinggi belum terjadi malam tadi. Masih terlalu dini untuk melangkah ke arah pergumulan panas karena mereka masih saling menilai satu sama lain.

"Bawa saja kekasihmu, aku pasti akan langsung merestui" Ucap sang ayah yang langsung membuat Krist tersadar dari khayalan tingkat dewanya.

"Tuan besar jangan pernah menarik kesimpulan tanpa adanya bukti" Krist berusaha bersikap tenang agar tak terlalu mencolok jika pernyataan ayahnya memang benar.

"Bukti sudah jelas di depan mata, kau tersenyum sepanjang hari tanpa berniat untuk berhenti, dan selama aku menjadi ibumu, yang aku tahu hanya dua hal yang dapat membuat kedua sudut bibirmu terangkat" Kini giliran sang mama mencecarnya "Hal pertama adalah saat kau berhasil menyelesaikan pekerjaanmu dengan sempurna tanpa cacat sedikitpun dan hal kedua adalah saat kau sedang membayangkan seseorang yang kau sukai, koreksi mama jika itu salah"

"My Lady" Tunjuk sang papa pada wanita disampingnya dengan gestur penuh keangkuhan.

Krist hanya mampu menghela nafas berat "Ok, you win mama"

Kedua orang tua Krist refleks melakukan high five saat berhasil menang dari sang anak. Kepekaan orang tua terhadap anak jangan pernah diremehkan, tak perlu banyak mengeluarkan kalimat panjang untuk membaca situasi dan kondisi anak mereka, hanya dengan melihat dari perilaku terkadang semua sudah terjawab.

"Jadi kapan?"

"Kapan apa?"

"Launching kekasih barumu lah sayang, untuk apa ditutupi lagi, kami harus tahu kau berkencan dengan yang seperti apa"

"Seperti manusia pada umumnya saja"

Marvin memberi isyarat pada Krist dengan telunjuknya agar sang anak mendekat padanya. Dan tanpa berpikir panjang Krist melakukan apa yang diinstruksikan oleh sang ayah. Setelah tubuh Krist condong ke arah Marvin, pria paruh baya tersebut langsung saja memberi sebuah sentilan dikening sang anak yang membuat Krist refleks mundur dan duduk lagi dikursi makannya sembari mengusap keningnya yang sakit.

"Aku juga tahu kau berkencan dengan manusia, tetapi bukan seperti itu maksudku" Geram Marvin.

"Aku tahu pa, papa tenang saja karena anak papa yang wonderful ini sudah memilih pasangan yang sepertinya cocok"

"Apa pekerjaannya?" Tanya sang mama.

"Memangnya itu penting ma?"

"Tentu saja penting anak bodoh, mama tidak ingin memiliki menantu yang profesinya adalah ketua sekte aliran sesat"

Krist segera mengelus dada saat mendengar ucapan sang mama. Mana mungkin pria setampan malaikat adalah pemimpin sekte sesat, ia tidak bisa membayangkan jika kelak suatu saat dirinya yang dijadikan persembahan untuk membuat Singto lebih berkuasa.

"Mama tenang saja, kekasihku seorang penulis novel best seller, dia sangat tampan dan..."

"Apa!"

Ucapan Krist terhenti karena teriakan sang mama.

"Jadi kau memutuskan bersama seorang pria?" Tanya mamanya dengan wajah pernuh keterkejutan.

IronyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang