Meet Another Soul

476 58 14
                                    

Singto perlahan membuka matanya dan masih merasakan sakit kepala yang luar biasa, penglihatannya masih samar tetapi ia dapat mencium aroma tembakau bercampur dengan sesuatu yang sangat asing dan membuat sekujur tubuhnya meremang seketika. Singto belum berusaha untuk mengingat apapun, ia justru lebih berkonsentrasi agar penglihatannya kembali normal diantara kegelapan yang menyapanya saat ia tersadar.

"Heeuhhhhh...."

Sebuah lenguhan terdengar dari salah satu sudut ruang yang cukup gelap menyapa gendang telinganya, dan Singto masih saja berusaha agar seseorang dalam bentuk sillhoute itu benar-benar terlihat jelas.

"Tuan penulis ini benar-benar memiliki nyali yang luar biasa"

Deg.... Suara itu seketika memberi pengaruh hebat pada detak jantung Singto, meski dalam keadaan gelap gulita sekalipun, Singto terlalu terbiasa dengan suara yang baru saja mengagetkannya.

"Krist..." Ucap Singto dengan nada suara paling lemah.

Saat ini tubuh Singto kaku tak bisa bergerak, bukan karena ia diikat atau semacamnya, kedua tangan dan kakinya dalam kondisi normal tetapi entah kenapa ia hanya bisa membuka mata saja tanpa mampu membuat sebuah pergerakan.

Dari sudut tergelap ruangan, Krist muncul dengan tampilan tak biasa, dan Singto sempat tak percaya jika yang ada dihadapannya adalah pria yang berstatus sebagai kekasihnya.

"Sudah ku peringatkan jika kau pasti akan mengacau, tetapi dia tak percaya"

Kening Singto berkerut dalam, karena tak mengerti maksud dari perkataan kekasinya ini. Krist yang begitu bersinar terang setiap kali mereka bertemu, kini berubah menjadi pria yang penuh dengan aura hitam, tatapan mata Krist begitu membunuh meski tak begitu terlalu jelas, tetapi Singto mampu merasakan jika dirinya sedang dalam bahaya.

"Krist sayang, sebenarnya ada apa ini? Mengapa aku sulit sekali bergerak?"

"Krist? Sayang?" Tawa Krist bergema ke seluruh penjuru ruangan, membuat siapapun yang mendengar itu pasti akan merasa tak nyaman.

"Singto Prachaya si penulis idiot" Krist mendekatkan diri ke arah kursi yang sedang Singto duduki dan kini mereka saling berhadapan satu sama lain "Jangan membuang banyak energi hanya untuk mencari tahu siapa aku, kemampuanmu yang tak seberapa itu tak akan bisa menembus mahluk dengan jiwa iblis seperti diriku" Tangan Krist perlahan membelai rambut Singto dan menjalar ke wajah serta leher pria itu.

"Krist please, sebenarnya apa yang terjadi denganmu sayang, bukankah kita selalu baik-baik saja?" Tanya Singto dengan penuh permohonan.

"Kau dengan Krist mungkin begitu, tetapi denganku..."

"Memang kau siapa jika bukan Kristku?"

"Gunakan kemampuan istimewamu untuk menebak siapa aku, ku beri kesempatan agar kau tahu jati diriku, itupun kalau kau bukan pria payah"

"Kau semakin melantur Krist"

"Perhatikan dengan benar wajahku" Krist mencengkram sisi kanan dan kiri kursi yang Singto duduki, ia membungkukkan tubuhnya agar wajah mereka saling bertatapan "Apa dengan wajah seperti ini, aku masih terlihat seperti Kristmu si manis manja itu?"

Senyum misterius tercetak jelas diwajah Krist dan membuat Singto semakin yakin jika yang berhadapan dengan dirinya bukanlah Sang Kekasih, tetapi ia tak mampu menerawang apapun sama seperti ketika ia berhadapan dengan seseorang jika ia ingin mengetahui tentang orang tersebut. Semakin mencoba kekuatannya pada Krist, yang Singto dapatkan hanya kesakitan luar biasa dan jika dipaksakan hasilnya pasti akan sama seperti beberapa waktu lalu, Singto tak sadarkan diri.

Krist memperhatikan dengan saksama setiap jengkal wajah Singto, pria di hadapannya jujur saja memang mempesona. Dengan gerakan lembut, Krist membelai seluruh permukaan wajah Singto tanpa memutus kontak matanya.

"Kau suka saat bercinta dengan Krist?"

"Tentu saja, dia kekasihku yang paling ku cintai"

"Ushhhhh......" Tangan Krist tiba-tiba membuka satu per satu kancing kemeja Singto tanpa tahu apa alasan ia melakukan itu.

"Krist.. Mungkin mampu membuatmu mabuk kepayang, tetapi aku..." Belaian di dada Singto yang sudah setengah terbuka terus saja dilakukan untuk merangsang pria di bawahnya "Kau pasti menemukan sensasi baru yang tak pernah bisa ia berikan padamu, bagaimana? Ingin mencoba?"

Singto hanya mampu menggelengkan kepalanya berkali-kali, ia berusaha memberontak tapi tak kuasa karena seluruh tubuhnya mati rasa. Entah apa yang terjadi sebelum ia membuka mata, Singto masih percaya diri jika Krist tak akan melukai dirinya meski semakin lama Singto semakin merasakan bahwa pria di hadapannya sekarang ini adalah ancaman besar.

"Auuu... Tidak ingin ya? Apa Si Perawat itu terlalu nikmat sampai mantan bajingan sepertimu bertekuk lutut?"

"Krist... Jika kau bukan dirinya, lalu siapa? Dan untuk apa melakukan ini padaku?"

"Bagaimana kalau kita bercinta dahulu setelah itu aku akan berkata jujur padamu"

"Bukankah kau seorang iblis? Bagaimana bisa aku percaya dengan semua perkataan mahluk mengerikan sepertimu"

Krist tertawa kencang setelah mendengar semua kejujuran si penulis itu. Sungguh menyenangkan mendapat mainan baru apalagi dengan ketampanan yang diluar batas logika. Selama ini ia bosan hanya berurusan dengan mahluk-mahluk sampah masyarakat, sesekali hidupnya mungkin butuh pembaharuan.

"Bercintalah denganku mantan bajingan, bukankah rasanya akan tetap sama karena yang kau masuki tetap tubuh pria yang teramat sangat kau cintai itu"

"Bercinta hanya untuk orang yang saling mencintai, tanpa cinta itu berarti hanya pemuas nafsu, jadi jangan pernah samakan hubunganku dan Krist dengan apapun sialan"

Krist mengigit bibir Singto secara tiba-tiba hingga mengeluarkan darah "Jangan berteriak dan mengumpat, apa kau tidak malu meneriaki seseorang yang level bajingannya sama denganmu?"

"Persetan denganmu, kembalikan Kristku sekarang, atau akau akan..."

"Kau akan apa? Melukaiku? Membunuhku? Atau... Menikmatiku saja?"

Seringai yang selalu Krist perlihatkan sejak Singto membuka mata benar-benar menakutkan. Ia banyak bersentuhan dengan mahluk yang menyeramkan tetapi jiwa di dalam tubuh kekasihnya sungguh membuat kepalanya teramat sakit ketika mencoba menyelami lebih dalam.

"Sudah ku bilang jangan gunakan kekuatanmu yang tak seberapa itu honey.." Krist membungkuk lebih dekat ke arah Singto "Asal kau tahu, seorang iblis saja tunduk dan patuh padaku, bisa kau bayangkan betapa berkuasanya aku bukan? Jadi... Mahluk yang tampan dan aku sukai ini, lebih baik menurut saja, atau aku akan menghancurkan raga Krist beserta jiwanya yang sekarang sedang terpasung"

Singto segera memejamkan mata, ia tak bisa membayangkan saat tak lagi menatap mata dan wajah penuh binar kekasih hatinya, Singto sudah terlanjur memilih jatuh terlalu dalam pada kisah cinta dirinya dan Krist. Mereka baru saja merengkuh romansa yang sudah lama tak pernah ia rasakan kebahagiannya.

"So... Fuck me up or I'll destroy what destroys you" Krist mengepalkan salah satu tangannya, membuat gestur seolah menghancurkan sesuatu terlihat begitu mudah baginya.





Baca aja

Protes boleh

Sebel jangan🤣

Karena teteh terlalu lama mengabaikan cerita ini, and sorry for the inconvenience😁

Masalah di dunia nyata sesungguhnya lebih mengerikan sampai merusak semua bentuk halu, jadi biarkan teteh mulai menyusun lagi khayal babu lewat cerita-cerita yang sudah lama teteh abaikan..

Jadi pelan-pelan ya zheyenk, kita saling menyapa lagi..

Semoga belum lupa rasa

Bye👋

IronyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang