Without Tactics

831 163 35
                                    

"Mama"

"Ya Tuhan Kit, kau mengagetkan mama, untung saja padthai ini tidak sampai mampir ke wajahmu"

Krist mempoutkan bibirnya kesal. Bisa-bisa wajahnya jadi berbumbu kalau sampai terkena lemparan padthai buatan sang ibu. Tanpa bumbu saja ia sudah terlihat sangat yummy apalagi jika ditambahkan sesuatu yang enak, si surga dunia pasti bisa langsung melahapnya. Ok, lupakan pemikiran absurd ini, kita kembali saja ke rumah keluarga ajaibnya.

"Dimana suami mama? Biasanya dia akan menempeli tubuh mama terus jika mama sedang memasak?" Tanya Krist, karena sejak ia turun dari kamarnya, ia tak melihat keberadaan sang ayah.

"Itulah yang dinamakan kekuatan cinta, kau ingin terus selalu bersama pasanganmu"

Krist berpikir sejenak. Dia dan si surga dunia sepertinya belum sampai ke tahap itu, ia sering rindu tetapi jika mereka tak bisa bertemu baginya tak masalah, sampai sejauh ini rindunya pada sang kekasih masih bisa ia tahan meski kadang harus membuatnya uring-uringan, apalagi Singto sering mengiriminya foto dengan berbagai pose tampan, Krist yang memang sudah lama menjadi single terpuji, tiba-tiba berubah menjadi setan mesum karena otaknya langsung mengembara ke adegan video xhamster.

"Kau pulang ke rumah hanya untuk melamun saja?"

Suara bariton menginterupsi khayal mesumnya seketika. Padahal otaknya baru saja merangkai adegan saling melepas apa yang harus dilepas bersama si surga dunia. Tetapi Tuan Besar mengganggu saja kesenangannya, dasar menyebalkan memang orang tua satu itu.

"Kenapa kau melihat papa sangat serius? Apa ketampananku naik levelnya terlalu tinggi sampai kau terpesona?"

"Kekasihku lebih tampan"

"Jangan berhalusinasi, jika anak itu belum menginjakkan kaki ke rumah ini, aku anggap kau masih menjadi sad boy"

"Ma...."

Sang mama yang mendapat protes dari Krist hanya mengangkat kedua bahunya tak acuh, dari dulu ia memang tak pernah merasa mendapat pembelaan jika lawannya adalah suami wanita itu. Kalimat anak adalah segalanya mungkin hanya berlaku pada keluarga normal lain, berbeda dengan keluarganya yang memang aneh sejak zaman batu.

"Jadi kapan orang yang kau anggap kekasihmu itu akan menghadapku?" Tanya sang papa lagi.

"Secepatnya, tetapi kita harus membuat kesepakatan terlebih dahulu"

Krist berlari kecil ke arah sang ayah dan mengambil tempat yang kosong tepat di depan pria itu.

"Begini, jika kekasihku datang jangan mempersulitnya sedikitpun, jangan membuatnya berpikir dua kali untuk bersamaku, jangan bertindak seperti papa antagonis didrama-drama yang tidak merestui hubungan sang anak, jangan mengancam akan memisahkan kami jika ia tak sesuai dengan ekspektasi kalian, karena siapapun yang ku pilih, aku sudah mempertimbangkan jika orang itu akan cocok dengan keluarga kita, yes or yes?"

"Yes or no sayang, jika kau memberi pilihan yes juga, itu bukan sebuah kesepakatan tetapi perintah" Protes sang mama.

"Ya inti dari percakapan kita adalah mama dan papa harus setuju dengan permintaanku, yang kali ini aku yakin tidak salah tempat"

Marvin masih terlihat berpikir untuk setuju atau tidak pada perintah sang anak. Sesantai apapun sikapnya pada si anak satu-satunya itu, nalurinya tetaplah seorang ayah yang harus selalu menjaga kebahagiaan Kristnya. Ia tentu tak rela jika pilihan anaknya itu suatu hari nanti akan menyakiti putera tersayang satu-satunya yang ia besarkan dengan penuh keistimewaan.

"Kita lihat saja dulu wujud dari kekasihmu, aku tidak akan semudah itu bisa diintervensi walau kau anakku satu-satunya, jika orang itu baik maka restu akan dengan mudah mengalir untuk kalian" Ucap final sang papa.

IronyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang