"Apa masih lama? Leherku bisa patah jika begini terus," keluh Da In sambil berdecak. Tangannya masih setia menahan tangga dengan kepala mendongak mengawasi Taehyung selagi tetangganya itu memperbaiki lampu dapurnya. Beberapa saat lalu Taehyung bersikeras memberi bantuan pada Da In untuk memperbaiki lampu dapur. Tentu tidak serta merta diterima. Gadis itu tetap waspada meski Taehyung bersikap ramah. Menghindari perdebatan singkat, Da In mengiyakan pada akhirnya. Lagipula, dia tidak bisa melakukan hal-hal seperti ini. Sedikitnya, dia beruntung memiliki tetangga yang bisa membantunya.
"Selesai," seru Taehyung kemudian turun dengan hati-hati.
"Terima kasih. Bagaimana aku bisa membalasmu?" Da In berusaha basa-basi. Entah ini hal benar atau tidak untuk dilakukan. Mengingat perangai Kim Taehyung begitu meragukan. Bisa jadi dia akan meminta balasan diluar ekspektasi Da In.
"Sebenarnya aku hanya ingin membantu tanpa meminta balasan, tapi karena kau menawari.." kalimat Taehyung sempat terhenti. Melihat sekeliling rumah Da In dengan seksama. Sementara gadis itu tiba-tiba beringsut mundur antisipasi. Menatap penuh curiga. Da In berusaha meraih cuttlery pada counter di belakang tubuh dengan susah payah. Bisa dijadikan senjata jika pria tinggi didepannya bertindak macam-macam. "kau akan memasak makan malam, bukan? Bisa membuat dua porsi?" lanjut Taehyung setelah melihat beberapa bahan makanan di counter dapur.
"H-hah?" sahut Da In tidak mengerti. Yang semula pisau digenggam erat, diletakkan begitu saja. Alisnya menaut dalam. Permintaan Taehyung memang diluar ekspektasinya, tapi maksud Da In bukan yang seperti ini.
Bukankah harusnya Da In bersyukur?
"Kau bilang akan membalasku. Buatkan aku makan malam." Ujar Taehyung lagi. Suaranya lebih rendah. Tidak ada nada menyenangkan—datar. Da In jadi bertanya-tanya, apa mungkin pria ini mengidap alexithymia atau semacamnya? Tapi melihat terkadang pria ini sering melempar godaan pada Da In, maka jawabannya pasti adalah tidak.
Sungguh, pria abu-abu yang rumit.
Di meja makan, tidak banyak percakapan yang terjadi. Keduanya menikmati makan malam dalam hening. Da In tidak tahu apa yang harus dikatakan pada orang asing yang sedang menikmati makan pada satu meja yang sama. Pun Taehyung sepertinya tidak berniat membuka konversasi. Menikmati makan malam dengan khidmat. Padahal Da In yakin masakannya tidak seenak itu.
"Kau tidak memberi komentar apapun dengan masakanku?" Da In membuka suara. Ragu-ragu bertanya pendapat Taehyung tentang hidangan yang dia buat.
"Jika aku mengkritik akan terlihat seperti aku tidak memiliki rasa terima kasih," jawab Taehyung terdengar santai sekali. Cukup bagi Da In berasumsi makanannya tidak terlalu enak, namun Taehyung tetap memakannya karena menghargai Da In. Setidaknya, Taehyung masih memiliki sopan santun dan tidak menyinggung Da In. Maka gadis itu bersikap acuh dengan asumsinya terhadap jawaban Taehyung dan kembali menyuap Japchae ke dalam mulut. Meski dalam hati merutuk, tidak akan membuat makanan lagi untuk Taehyung.
"T-taehyung," panggil Da In lagi membuat Taehyung menghentikan seluruh pergerakan. Merubah pandang menjadi fokus pada netra Da In. Berhasil membuat gadis itu tercekat sebelum berucap. Mata dingin Taehyung sangat tajam dan menusuk. "Uhm, maaf aku mengataimu kemarin. Aku pikir aku sedang berada dikamarku sendiri dan kau.."
"Apa yang membuatmu berpikir aku akan melakukan hal seperti itu?"
Da In berhasil dibuat bungkam. Enggan menjawab pertanyaan Taehyung. Tidak mungkin Da In mengatakan dia menaruh curiga pada orang yang sudah menolongnya, mengijinkan tidur dirumah saat keadaan mabuk, hingga membantu memperbaiki lampu dapur. Ya, mungkin Taehyung tidak seperti yang Da In pikirkan selama ini. Mereka hanya belum saling mengenal satu sama lain. Terlebih mengingat jawaban Hoseok atas pertanyaannya saat itu. Taehyung bisa jadi tidak seburuk yang dia pikirkan.
"Dimana kau bekerja? Aku jarang melihatmu berangkat bekerja di pagi hari. Oh, apa kau masih mencari pekerjaan?"
Taehyung megulas seringai. Tentu membuat Da In kebingungan menerka makna dari untaian senyum kecil yang sering kali muncul pada wajah pria itu. Apa mungkin pertanyaannya menyinggung Taehyung? Bukankah tidak ada yang salah menanyakan pekerjaan seseorang? Lagipula Da In harus memastikan Taehyung memiliki pekerjaan yang tidak 'berbahaya'. Bagaimanapun mereka bertetangga. Jika suatu saat ada detektif tiba-tiba datang menginterogasi Da In tentang Taehyung, setidaknya Da In bisa mengelak—membuat susunan jawaban yang tidak mencurigakan terlebih dahulu dan tidak melibatkannya dalam masalah apapun.
"Kau belum menjawab pertanyaanku," sanggah Taehyung memahami Da In yang mencoba mengalihkan pembicaraan. Da In tersentak, tidak lagi menatap obsidian Taehyung. Dia memang mengalihkan topik pembicaraan dari yang sebelumnya. Ternyata sulit berbicara dengan tetangganya ini. Taehyung selalu gamblang dalam berbicara sementara Da In sedikit tertutup. Tidak akan mudah membuat konversasi yang sinkron diantara mereka.
"Tentu aku memiliki pekerjaan. Aku bekerja di galeri Future, jika kau pernah mendengarnya—"
Da In mendongak mendengar jawaban Taehyung—tertegun. Kedua mata membulat besar. Segera menelan makanan yang masih dikunyah. Mengabaikan kemungkinan dia akan tersedak. Sedangkan Taehyung terkejut atas sikap spontan Da In.
"Kau—apa? Galeri Future? Benarkah?" tanya Da In bersemangat. Detik berikutnya Da In beranjak. Melempar sumpit dan menopang kedua tangan pada pinggiran meja. "Kim Taehyung, apa kau seorang dewa? Atau semacam guardian angel yang dikirimkan Tuhan padaku begitu?"
Taehyung yang masih terkejut menanggalkan perlatan makan. Memundurkan tubuh hingga punggung bersandar pada kursi. Sekarang Da In terlihat lebih menyeramkan darinya—mencurigakan. Menatap penuh antisipasi pada gadis yang terlihat bisa menyerang dan melumpuhkannya dalam satu waktu. Seingatnya terakhir kali melihat Da In tersedu-sedu menangisi hubungannya dengan Jungkook, seperti kehilangan asa. Sekarang didepannya Da In terlihat bersemangat sekali, seperti menemukan gundukan emas yang mampu merubah seluruh hidupnya.
Benar-benar gadis yang sulit diprediksi.
"S-song Da In? Kau baik-baik saja?" tanya Taehyung sedikit ragu.
"Tentu saja!" Seru Da In menggebu-gebu, sementara Taehyung dikursinya menatap kebingungan. "Kim Taehyung, bisa membantuku untuk bergabung dengan galeri itu? Aku perlu bekerja magang untuk tugas akhir. Hanya satu bulan. Bisakah? Kau tahu, akan lebih mudah jika aku bisa masuk dengan privilege. Kau bisa membantuku dengan memberitahu manajer atau semacamnya. Ku mohon. Hm?"
Da In serius memohon. Tidak peduli meruntuhkan harga diri dihadapan Taehyung. Jelas terlihat putus asa. Lelah mencari-cari pekerjaan yang sesuai dengan jurusannya—seni. Bahkan perusahaan cabang tempat magang sebelumnya tidak bisa menerima Da In karena sudah ada beberapa pekerja magang lain. Satu-satunya harapan hanya galeri Future yang belum pernah Da In coba. Galeri seni yang terkenal di Valley Hills. Namun tidak sembarang orang bisa diterima untuk bekerja dengan mudah. Maka Da In meminta dengan sangat pada Taehyung untuk membantunya sekali lagi. Berharap dengan bantuan Taehyung bisa membuatnya bekerja disana dan segera menyelesaikan tugas akhir.
Kali ini Taehyung mengulas senyum. Tergelak melihat tingkah Da In di seberang meja. Lalu anggukan singkat dari Taehyung membuat Da In melongo. Pria itu benar-benar mau membantunya. Jangan tanya betapa bahagia dan bersyukur Da In saat ini.
Kim Taehyung, benar-benar seorang penyelamat!
—
KAMU SEDANG MEMBACA
Make It Right
FanfictionMature Contents🔞 Mana yang lebih kau pilih? Tetangga tampan yang gila, atau kekasih seksi yang brengsek? -Make It Right- ©Casadelcisne, 2020 Story written in Bahasa Indonesia
