First of all, terima kasih banyak buat yang sudah apresiasi cerita ini. Maaf kalau cerita ini ga sesuai ekspektasi kalian. Mungkin ga sebagus dan seprofesional cerita lain, karena aku juga masih baru banget bergelut di dunia ini. Nulis itu sulit banget buat aku. Awalnya aku iseng corat-coret yang ada dipikiran, lama-lama jadi suka. Ditambah lagi sama respon positif dari kalian. Ga nyangka responnya akan seperti ini😭 Kalian baik banget yang mau stay sama aku sampai akhir. So, thank you so damn much. I love y'all💜
Please, buat penikmat cerita ini, vote sebelum baca dong. Kayak yang aku bilang sebelumnya, nulis itu sulit. Jadi kalau kalian menikmati suatu karya, tolong diapresiasi. Berlaku buat cerita dari penulis lain juga. Kalian ga tau seberapa berharganya sebuah vote untuk si penulis. And yes, buat aku seberharga itu. Aku merasa cerita aku worth dan buat semangat untuk eksplor diri aku biar makin banyak belajar buat perbaiki lagi dan makin suka nulis cerita.
Okay, ga usah banyak-banyak. Silahkan membaca akhir cerita ini. Ada rekomendasi lagu yang bisa di play juga di mulmed🥰 Happy reading, x.
—•—
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Orang bilang, takdir terbaik tidak selalu yang kita harapkan. Hingga hari itu, dipenghujung musim gugur ketika Taehyung melihat gadis yang tengah berdiri didepan pagar rumah, sukses membuat Taehyung mempercayai kata takdir. Paras gadis itu berhasil merebut seluruh atensi Taehyung yang tengah membawa dua kantong sampah di masing-masing tangan. Lembutnya angin menerpa kulit wajah sekaligus menyibak beberapa helai rambut, membuat wajahnya semakin jelas terlihat. Entitas nyata dari kata sempurna. Indah. Hari itu, kali pertama pula jantung Taehyung berdegup kencang setelah bertahun-tahun tidak pernah merasakan hal yang sama. Pertama kalinya juga dunia menjadi bergerak lambat.
Seokjin kembali menghela napas. Tidak tahu harus memberikan jawaban apalagi atas pertanyaan konyol adiknya sejak lima menit lalu. Kacamata yang semula bertengger apik dipangkal hidungnya sudah berpindah ke atas nakas disebelah sofa. Laptop yang berada dipangkuan juga digeser sejenak. Tangannya terlipat didepan dada dengan kaki bertopang pada kaki lain.
"Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku hyung? Jadi, benar? Kau bermain dengan mahasiswimu?" lagi, pertanyaan itu mengudara. Sudah dua kali Taehyung menanyakan hal yang sama. Seokjin hanya menggelengkan kepala mendengar hal itu. "Kau sudah mulai gila karena mengurus kepindahanmu ke galeri baru, ya?"
Taehyung mendengus. Seokjin tidak menjawab lagi pertanyaannya. Dia pikir adiknya mulai frustasi karena harus pindah karena pekerjaan barunya cukup memakan waktu perjalanan dari rumah. Oleh sebab itu Taehyung memilih untuk mencari tempat tinggal yang lebih dekat dengan galerinya. Mengharuskannya terpisah lagi dengan kakak kesayangan.