21. Cold And Heartless

6.8K 669 18
                                        

Double up, nih. Lagi good mood karena Make It Right ranked 1 di salah satu hashtag🥰😏 Terima kasih yang selalu apresiasi cerita aku dengan vote dan komen. Terima kasih juga yang sudah menyempatkan membaca, semoga gak keberatan kasih vote juga, ya!💜

Semangat yuk votenya, aku jadi semangat juga nulisnya!

Oh ya, barangkali ada yang bingung sama ceritanya yang terlalu cepat, aku sudah pernah bilang di cerita ini memang banyak time skip karena awalnya aku mau buat short story. Jadi, ikuti saja alurnya. Semoga kalian mengerti.

Kembali ke Valley Hills dengan tubuh lelah karena perjalanan, Da In menyeret kopernya malas. Sedikitnya Da In merasa bersyukur Taehyung memberikan privilege untuk Da In beristirahat dirumah hari ini. Sementara Da In menggunakan alasan pertemuan dengan dosen di kampus pada Jaehyung dan rekannya yang lain, sehingga dia tidak masuk kerja. Kaki Da In terasa berat berjalan menyusuri gedung apartemen. Tidak sabar sekali bertemu dengan ranjang dan merebahkan tubuh. Sebelumnya tentu merendam diri pada air hangat terlebih dahulu. Oh, libur yang sempurna.

Mungkin tidak sesempurna yang Da In pikirkan. Nyatanya, langkah Da In terhenti di ujung lorong sebelum melangkah. Mendapati presensi seorang pria yang tidak diinginkan tengah berdiri di depan pintu unitnya. Memajukan bibir dan membuat suara siulan dengan kedua tangan tersimpan rapi di saku celana. Belum menyadari kehadiran Da In. Mau tidak mau, Da In tetap harus pulang dan beristirahat.

Tidak perlu menunggu hingga Da In sampai di depan unit, pria itu menoleh dan melambaikan tangan bersemangat. Tersenyum selebar mungkin seraya langkah Da In semakin mendekat. Dulu, hal seperti ini adalah yang paling Da In harapkan. Tiap kali merasa lelah, bertemu Jungkook dan meminta cuddle merupakan remedi paling ampuh. Tidak perlu obat atau yang lain. Cukup dengan kehadiran Jungkook. Sayangnya, sekarang sungguh jauh berbeda. Bahkan melihat Jungkook kembali membuat luka dihatinya menganga.

"Apa yang kau lakukan disini?" ketus Da In langsung setelah sampai di depan Jungkook.

Jungkook masih tersenyum. Mengusak puncak kepala Da In dan merendahkan sedikit wajahnya, "tentu saja menunggumu. Kau pasti lelah kan setelah perjalanan bisnis pertamamu? Aku membawakan sundubu jjigae kesukaanmu." Dengan itu Da In mengalihkan pandangan pada kantong di sebelah Jungkook.

Menghela napas berat, Da In merasa sedikit jengah. Sebenarnya tidak ingin bertemu Jungkook. Namun tidak tega jika harus mengusirnya darisana. Sudah berbaik hati menunggu dan membawa makanan untuk Da In. Maka Da In mengalah dari egonya. Membuka pintu dan mengajak Jungkook masuk.

Tanpa menunggu Da In mempersilahkan, Jungkook begitu saja berlalu menuju dapur. Mengambil panci yang dia sudah tahu betul dimana letaknya. Menumpahkan jjigae yang sudah sedikit mendingin dan mengahangatkan sebelum disajikan untuk Da In. Sementara gadis itu masih termangu di tempat. Memperhatikan Jungkook bertingkah seolah-olah mereka masih bersama. Namun dia tidak ingin protes sama sekali. Jika boleh jujur, Da In merindukan saat-saat seperti ini. Jungkook yang selalu peduli padanya. Memperhatikan hal-hal kecil. Tidak menunjukkan secara langsung, namun jelas memperlihatkan afeksi melalui tindakan spontan.

Setelah berganti pakaian, Da In menempatkan diri di meja makan. Sudah ada Jungkook duduk manis disana. Menyodorkan semangkuk jjigae pada Da In. Gadis itu lantas tersenyum getir.

"Bagaimana kerjamu? Pasti melelahkan, ya? Makanlah yang banyak. Aku akan membuatkan lagi jika masih kurang. Wajahmu terlihat lebih kurus," cerocos Jungkook membuat Da In tertegun.

Itu juga gara-gara kau Jeon Jungkook! Jika tidak karena masalah sebelumnya, Da In tidak mungkin melewatkan jam makan dan berpikir terlalu banyak hingga kalut. Menyebabkan berat badannya turun drastis dalam satu minggu. Stress. Tapi Jungkook manis sekali. Perhatian. Masih sama seperti Jungkook yang dulu.

"Jungkook, sebenarnya apa yang kau lakukan?"

Jungkook meletakkan sendoknya. Menatap Da In lamat dan hati-hati. Dia tahu Da In mulai merasa tidak nyaman dengan sikapnya. Tersenyum, Jungkook lantas berucap, "aku sudah bilang sebelumnya, aku akan melakukan apapun untuk membuat kita kembali bersama. Aku tidak ingin kehilanganmu, Song Da In. Kurasa aku tidak sanggup."

Tangan Da In sontak meremas kuat sendok yang digenggam. Giginya mengertak. Hatinya terasa pilu.

"Oh, apa perjalananmu menyenangkan?" Jungkook buru-buru mengalihkan topik pembicaraan, "Ryujin mengatakan kau pergi bersama Taehyung. Kau dan Taehyung, tidak ada sesuatu yang terjadi diantara kalian? Maksudku, kalian pergi berdua, aku hanya ingin memastikan—"

"Kook.." potong Da In dengan segera. Jungkook tersenyum mendengar panggilan yang sudah lama tidak ia dengar. Sepertinya, ada secercah harapan untuk dirinya.

"Aku dan Taehyung tidur bersama," lugas Da In menanggalkan senyuman dari wajah Jungkook, "aku dan Taehyung.. bercinta."

Jungkook sukses patah hati. Entah apa yang membuat Da In meruntuhkan segala komitmen. Selama hampir dua tahun Jungkook mempertahankan ego dan menghargai keputusan Da In, namun ada pria lain yang belum terlalu lama dikenal dan sudah melewati batas begitu saja. Pun Jungkook tahu Da In bukan tipikal orang yang mudah jatuh cinta. Butuh berbulan-bulan Jungkook mendapatkan hati Da In. Jadi, tentu cinta bukan alasan Da In melakukannya. Atau kemungkinan terburuk, Taehyung melakukan diluar consent. Memaksa Da In dan menyakitinya. Akan tetapi, dilihat dari ekspresi Da In yang begitu tenang dan tidak menunjukkan penyesalan, jelas bukan itu pula alasannya.

Yang semula Jungkook terlihat sumringah sejak kedatangan Da In, kini pria itu benar-benar kehilangan untaian garis lengkung dari wajahnya. Mungkin dia memang sudah tidak memiliki kesempatan. Mungkin Da In memang sudah melupakannya. Mungkin Da In dan Taehyung sudah menjalin hubungan, itu sebabnya Da In terus menolaknya. Terlalu banyak kemungkinan dikepalanya saat ini. Ingin segera pergi namun masih ragu. Meski sudah terlihat jelas dari sorot Da In, gadis itu sepenuhnya berubah. Tatapannya begitu dingin. Tidak ada kehangatan ataupun rasa yang tersirat. Jauh berbeda dengan pertama kali Da In menatapnya. Da In-nya tidak lagi mencintainya.

Berakhir dengan Da In duduk sendiri di meja makan dengan jjigae yang mendingin dan mata basah. Tidak, Jungkook tidak serta merta meninggalkan Da In setelah mengetahui kenyataan wanita yang paling dicintai sudah menyakitinya. Bahkan Jungkook masih bersikeras mempertahankan Da In dan memohon untuk kembali. Akan tetapi gadis Song terlalu keras kepala. Tidak ingin jatuh pada lubang yang sama. Meminta Jungkook untuk pergi membawa seluruh rasa yang akan diberikan lagi. Da In tahu jelas dia teramat mencintai Jungkook. Itu sebabnya dia merasa takut akan teramat membenci Jungkook jika dia kembali memberikan kesempatan. Takut berakhir Jungkook kembali menyakitinya.

Sedih tapi cinta

Sedih tapi cinta

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Make It RightTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang