Four

468 69 18
                                        

"pulang sama gue kan?" tanya Jason sebelum mereka memasuki lift.
"emang ga ngerpotin? rumah kita berlawanan arah loh" ujar Veena.
"ya gapapa, kan gue yang nawarin berarti gue fine fine aja." santai Jason "jangankan cuma berlawanan arah, lo suruh gue bolak balik Seoul pun gue mau Veen, asalkan kamu orangnya." yang hanya bisa diucapkan Jason dalam hatinya.
"oke deh kalo gitu, lumayan hemat ongkos" kekeh Veena yang membuat Jason juga ikut tersenyum. Pintu lift terbuka merekapun keluar dari lift bersamaan dengan keluarnya Bian dari lift sebelah.

"pagi Bi.." Sapa Veena.
"eh, pagi juga Veena, Jason." balas Bian.
"pagi bro.. gue keruangan HRD dulu ya, mau lapor sekalian ngambil name tag. ucap Jason lalu pergi meninggalkan Veena dan Fabian yang hendak menuju ruang meeting.
"oke, lo taukan ruangannya." sahut Bian.
"Aman.." Jason mengacungkan Jempolnya kepada Bian lalu mempercepat langkahnya. Bian dan Veena pun memasuki ruangan yang bertuliskan meeting room.

"selamat pagiiii" ucap Vera, Zidan, Elsa dan juga Tasya serempak.

"pagi.. Calista mana?" tanya Bian, karna memang Calista masih ada dimejanya mencari sesuatu.

"Calista.. Itu dia." ucap Zidan ketika melihat Calista memasuki ruang meeting.

"kenapa lo Cal? sakit?" tanya Veena ketika melihat muka Calista yang nampak pucat.
"iya Cal, lo sakit? pucat banget tu muka." timpal Zidan.
"eng.. gak kok, gue gapapa." ucap Calista terdengar gugup.
"serius lo gapapa?" tanya Bian memastikan.
"ga kok Bi, gue gapapa." Calista meyakinkan teman temannya. Walaupun kenyataan nya jantung gadis itu berdegup kencang, takut sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi.

"oke kalo gitu meeting gue mulai ya.." ujar Bian, Dan mendapat anggukan kepala dari rekan rekannya.

"gue mulai dari novel 'Hai Orang Asing' milik Ruhi ya, minggu depan kita akan memasuki proses cetak, jadi gue harap dari editing, sampul dan strategi pemasaran udah rampung." ucap Bian. "untuk cover nya gimana Sa? udah selesaikan?" tanya Bian kepada Elsa bagian desain sampul.

"udah sih, tapi menurut gue kayak ada yang kurang deh, tapi bingung kurangnya dimana. Gue merasa kayak kurang pas aja gitu." Elsa membagikan kertas gambar untuk sampul novel 'Hai Orang Asing' kepada rekan rekannya. Sampul yang bertemakan Rainy Romance. Dimana gambar dua orang berada dibawah hujan, masing masing membawa payung dan saling menoleh. Dengan nuansa abu abu, biru dan sedikit cahaya kuning. Memberikan kesan pertemuan yang tidak disengaja.
"gimana? kurang pas kan?" lanjut Elsa kepada rekan rekan nya.
"cocok cocok aja sih, tapi entah apa yang kurang." ujar Vera, disertai anggukan oleh Zidan dan Tasya.
"kalo yang lain ada punya ide boleh kok, siapa tau ide kalian lebih bagus dari gue. Iya kan Bi? ujar Elsa lagi, entah kenapa kali ini dia merasa kurang puas dengan hasil desain nya.
"iya, boleh." Bian ikut menimpali. "Calista, Veena.. Kalian ada ide lain ga? lanjut Bian dan hanya di jawab Calista dengan gelengan. membuat Bian sedikit bingung melihat tingkah Calista hari ini gadis itu terlihat pendiam.

"Gue ada sih, tapi ga tau bagus apa engga nya" Veena memperlihatkan desain sampul miliknya. Sampul yang bertema 'Cinematic Encounter'. Gambar seorang perempuan berdiri membelakangi kamera disebuah stasiun, sementara seorang pria berdiri beberapa meter didepannya. Warna dominan biru keabu abuan dengan cahaya lampu yang hangat. Judul 'Hai Orang Asing' memakai font serif putih elegan.
"Gimana menurut kalian?" Veena menatap rekan kerjanya bergantian. Takut kalau desain miliknya juga tidak cocok. Pasalnya ia membuat gambar itu secara asal setelah selesai membaca naskah yang dikirimkan Calista beberapa hari yang lalu.

"Wahhh keren banget gila.." ucap Elsa matanya tak berkedip menatap sampul milik Veena. "Pakai punya lo aja Veen.. Sumpah gue suka banget. Kok bisa sih lo punya ide sekeren ini.." Veena tersnyum menanggapi pujian Elsa.

"Kita hanya orang asing, sampai semesta mempertemukan kita" Zidan membaca quotes yang ada dibawah Judul novel itu.
"keren.. keren.." lanjut Zidan sambil bertepuk tangan.
"Kadang takdir mempermainkan cara yang tidak pernah kita duga." Tasya juga ikut membaca quotes yang ada dibagian atas dari novel itu.
"menurut lo gimana Bi?" tanya Elsa.
"gue sih setuju setuju aja, lo sebagai desainer gimana? Bian bertanya balik.
"kalo menurut gue sih, mending pakai punya Veena. Serius.. Gue suka banget." ujar Elsa.
"oke.. kalo gitu untuk urusan sampul sudah deal ya.. Kita pakai yang punya Veena. Terus untuk selanjutnya masalah editing gimana Cal?" Calista yang mendengar namanya disebut oleh Bian nampak gugup. Pipinya sudah basah oleh air mata yang turun entah sejak kapan.

Fate Rewrote Our Love (Edisi Revisi)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang