Bab 7 REVISI

100K 1.2K 5
                                        

Seketika Chris berlari kecil ke arah Lily dan menahan tangan Lily. Kekuatan Chris, membuat Lily terdorong hingga berbaring di tempat tidur.

"Kau lagi rupanya? Memang penjahat kelamin," cibir Lily dengan nada menusuk.

Chris masih diam dengan mengeraskan rahangnya yang kokoh.

Lily memandangi Chris dengan jarak dekat pada arah dadanya. Rambut Chris yang basah mengeluarkan air dan menetes ke arah dada Lily. Dinginnya air membuat Lily merasakan air yang membasahi baju dan masuk ke dalam kulit dadanya.

Chris tidak bersuara dan masih memandangi Lily di depannya. Wanita yang membuat dirinya dipermalukan oleh dokter semalaman, menjadi bahan tertawaan para perawat seisi rumah sakit.

"Lepaskan, Kau menyakitiku!" oceh Lily menoba melepaskan cekalan tangan Chris.

Lily menggerakan tangan yang diinfus dan tertahan oleh Chris. Tanpa kata-kata, Chris melepaskan tekanan pada tangan Lily. Lily mengelus-ngelus tangan kanan yang terasa sakit dengan sekali-kali melihat Chris yang duduk di atas ranjangnya. Ingin bertanya tapi takut karena wajah Chris sudah tak enak dipandang. Seakan ingin membunuh dirinya yang masih polos ini, ditambah lagi dengan tampang yang kurang tidur.

"Itu ... rambutmu sebaiknya dikeringkan dulu!" kata Lily yang risih dengan rambut basah Chris.

Lily mencari topik pembicaraan lain untuk menghindari emosi Chris yang bisa meledak kapan saja. Perkataan Lily membuat Chris bereaksi dengan cepat.

Secepatnya berdiri dari pinggiran ranjang berjalan ke arah sofa mengambil handuk putih. lalu kembali lagi ke arah ranjang dan memberikan handuk putih ke Lily. Melihat handuk yang dibawa Chris, Lily menghela nafas panjang. Lelaki ini sunguh merepotkan, sampai harus mengikuti keinginannya.

"Sini lebih mendekat!" perintah Lily akhirnya.

Chris menurut seperti anak kecil Dia duduk di kursi dekat tempat tidur dan membiarkan Lily mengeringkan rambut saat ini.

"Hei, apa yang kau lakukan?" kata Lily kaget.

Lily seketika menahan tangan Chris yang menyentuh perut dan pinggangnya di balik baju. Chris memandangi tubuh Lily di hadapannya. Baju yang dikenakan oleh Lily telalu besar berapa angka, sehingga terlihat melorot banyak.

"Untung saja dokter yang menangani semalam dan hari ini adalah dokter wanita," ucapChris yang tidak suka dengan dokter pria yang memeriksa Lily.

Lily bertanda tanya di atas kepalanya hanya mendegar perkataannya. Chris tidak berkata lagi dan tangan yang menyentuh perut Lily. juga tidak bergerak sama sekali.

"Sudah kering nih! Cepat pergi ke kantor. Jangan di sini!" ucap Lily mengusir.

Lily mendorong Chris untuk menjauh, tapi Chris bukannya menjauh karena justru langsung memeluk tubuh Lily dan menyandarkan kepala di dada Lily yang besar, empuk dan berisi.

Chris mendegarkan detak jantung dan keempukkan dada Lily. Chris semakin tidak ingin melepaskan pelukkannya. Aroma wanita ini selalu membuat dirinya tenang.

Kryuuuukkkk kryuuuukkkkk Kryuuuukkk

Chris ingin menyentuhnya berkali-kali, tapi cacing di perut Lily sudah berkaroake dengan super keras seperti konsel band metal.

"Hehehe ...," Lily tertawa malu.

Sedangkan Chris sangat kesal dengan cacing di perut Lily yang menganggu di saat tidak tepat. Dia berjalan menjauh dari ranjang dan mengetik sesuatu di layar hp.

Melihat Chris sudah pergi, Lily memutuskan untuk turun dari ranjang dan belum sempat menginjakkan kaki ke lantai. suara pintu terdegar kembali. Chris langsung membuka dan membawa banyak makanan dan menaruh di hadapan Lily. Chris melihat sebelah kaki Lily yang keluar dari selimut dan dengan cepat langsung memasukkan kembali kaki Lily ke dalam selimut.

"Jangan coba-coba untuk turun!" perintah Chris dingin.

Lily menatap Chris dengan kesal dan membuang muka serta melipatkan kedua tangan di dada yang besar.

"Ayo makan!" perintah Chris.

Mencium aroma makanan, cacing di Perut Lily semakin menaikan volume suaranya dan tak sabar untuk menikmati beraneka ragam makanan yang sudah tersaji di depan mata

"Mau makan sendiri atau kusuapi dari mulut ke mulut?" tanya Chris dengan usilnya.

Mendegar disuapin dari mulut ke mulut, wajah Lily langsung merah seperti kepiting rebus.

"Makan sendiri karena aku masih punya tangan," sahut Lily cepat dengan suara ketusnya.

Lily asal mengambil satu kotak dan memakannya dengan lahap. Melihat nafsu makan Lily, Chris tersenyum geli. Lily tidak memperdulikan Chris karena sudah tahu arti senyuman Chris yang menghina dirinya sebagai wanita kelaparan yang keluar dari penjara.

'Tut tut tut tut'

Bunyi ringtone yang berasal dari ponsel Chris yang berbunyi seperti kecekek hantu. Chris melihat panggilan masuk dari Nelson Jong, wakil CEO SAG.

"Ceo Chris, hari ini ada rapat penting. Anda di mana?" suara Nelson Jong di seberang ponsel. Chris menoleh sebentar ke arah Lily yang justru memberikan isyarat mengusir dirinya keluar dari ruangan pasien.

"15 menit lagi aku akan sampai ke perusahan," jawab Chris singkat.

Chris menyimpan ponselnya ke saku celana dan berjalan ka arah Lily.

"Kenapa? Mau memakan tubuhku. Sayangnya hari ini tak akan bisa," gerutu Lily memasang wajah galaknya.

Lily menatap Chris tanpa rasa takut setelah isi tenaga. Chris mendekat dan menekan tengkuk leher Lily. lalu mencium bibirnya dengan kasar sampai beberapa menit. kemudian melepaskan ciumannya. Lily langsung menghapus jejak basah pada bibirnya dengan wajah merah karena malu.

"Aku akan menunggu," ucap Chris pelan.

Chris berjalan menjauh dan Lily langsung melempar bantal ke arah Chris. Bantal terpantul saat pintu ditutup oleh Chris.

Di kantor, Nelson Jong sudah gelisah dan berdiri tak tenang. Bahkan, duduk juga tak tenang sama sekali. Dia berjalan mondar mandir di ruangan Chris. Pintu terbuka, Nelson mengira itu adalah Chris. tapi sekali dilihat, ternyata seketaris Nana yang masuk dengan pakaian kekurangan bahan yang tentu saja sengaja untuk menunjukkan ke molekkan tubuhnya di hadapannya.

"Wakil CEO, saya buatkan minuman. Silahkan diminum!" ujar Nana dengan suara penuh manja dan menggoda.

Nana sengaja meletakkan gelas di dekat Nelson Jong untuk memperlihatkan bagian atas yang setengah terbuka di depannya. Nelson Jong melihat bagian atas tubuh Nana dan melihat ke wajahnya yang memperlihatkan senyuman merangsang. Sayangnya, Nelson tidak tertarik dan malah merasa sangat jijik. Mendadak perutnya terasa sangat mual dengan aroma parfum yang dipakai oleh Nana yang menusuk hidung.

"Lain kali, pakai pakaian yang sopan. Ini kantor dan bukan bar!" oceh Nelson dengan nada suara kasar dan tak bersahabat.

Nana merasa terhina dengan perkataan Nelson yang sungguh menusuk hati, dengan hati mengumpat. Nana memilih kembali ke tempat duduk dengan wajah kesalnya. Kirana yang duduk bersebelahan dengan Nana, tertawa melihat kegagalan Nana dalam hal untuk mengoda Nelson Jong yang terkenal sebagai pangeran es di kalangan staff.

WANITA SIMPANAN (NOVELME)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang