Bab 14

1.3K 116 27
                                    

"Yoongi tau" ujar Seokjin lirih. 

...

Taehyung bangun pada saat matahari sudah tinggi, hari ini ia absen mengumpulkan data dan terbangun tanpa siapa-siapa tak lama kemudian Seokjin pulang. Ia terlihat tak bersemangat wajahnya terlihat gelisah semburat merah karena kedinginan yang biasanya hadir di pipi Seokjin menghilang. Hanya ada muka pucat di sana. 

"Seokjin kenapa?" 

"lelah, aku habis mengambil data tadi pulangnya diantar Pak Jung  Jaehyun" 

"lalu kenapa mukamu terlihat sedih Seokjin? Pak Jung menyakitimu ya?" 

"tidak, untuk apa ia menyakitiku?" 

"lalu kenapa kau seperti itu?" 

"Yoongi tau" 

"tau apa?" 

"aku dan kau, kemarin kau mabuk dan mengeluarkan di dalam parahnya lagi kau tak menutup pintu dengan benar. Kau keterlaluan Taehyung aku malu" ujar Seokjin dengan muka kusut. 

"maafkan aku, lalu bagaimana lagi? aku harus minta maaf dengan Yoongi-ssi juga kah?" 

"bukan itu masalahnya hiks" Seokjin mulai menangis

"lalu apa?" 

"aku takut hamil Taehyung, aku takut dengan masa depan. Ini Yoongi aku yakin ia akan diam, namun apa jadinya apabila semua orang tau kau dan aku melakukan dosa ini?  Memang tak seharusnya kau hadir di hidupku, mengobrak abrik seluruh perasaan bahkan tubuhku" ujar Seokjin tanpa sadar dirinya mulai menangis. 

"kenapa kau menyalahkanku?" ujar Taehyung tak terima ia masih setengah sadar dan tak terima Seokjin menyalahkannya. 

"hiks kau memang dalang dari semuanya. Bajingan" 

"Seokjin si jalang, siapa yang menawariku menidurimu saat di ruangan dosen hah?" 

Jantung Seokjin seolah berhenti berdetak mendengar kata sekasar itu muncul dari bibir Taehyung, seseorang dimana ia menggantungkan hati dan perasaannya. Orang baik yang selalu mewarnai hari-harinya hilang digantikan sosok buas yang Seokjin tak tau ia siapa.  

plak 

Seokjin menampar Taehyung dengan keras. Ia tak terima harga dirinya direndahkan. Taehyung yang ada di depannya hanya tersenyum picik tangan terkepal yang sedari tadi ia masukan dalam kantung celananya ia bawa keluar. Meraih Seokjin yang kini sedang menangis. 

"Taehyung hiks... LEPAS" ujar Seokjin sambil memberontak. 

"tidak, kau nakal.  aku ingin sekali memukulmu sekarang, namun aku tau hukuman yang lebih baik daripada itu" ujar Taehyung penuh penekanan. 

Ia menggeret Seokjin masuk ke kamarnya dan kali ini ia tak lupa mengunci pintu. Seokjin terbanting ke lantai,ia bangkit dan  berusaha kabur Taehyung merengkuhya. 

Ia menahan semua pergerakan tubuh Seokjin dalam dekapannya. 

"Lepas Tae hiks,, lepas"

"Diam Seokjin DIAM. TENANG" cengkraman Taehyung semakin kuat mengunci tubuh Seokjin. Merasa mulai kehabisan nafas Seokjin mulai tidak banyak bergerak, dirinya masih berusaha memberontak namun hal itu sama sekali tidak berarti bagi Taehyung. 

nafasnya terdengar pendek-pendek sesak, Taehyung merasakan detak jantung Seokjin yang menempel di dadanya yang tadi berdegup kencang mulai terasa normal. 

Taehyung memajukan kepalanya. Seokjin sudah pasrah ketika ia harus dijamah secara paksa kembali, tubuhnya sudah mati rasa ia tak memiliki tenaga. 

Morning Dew (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang