5 April, 2020
Berbulan-bulan berhasil terlewat, Langit menjalani setiap menit harinya sembari mendapat kabar silih berganti dari Bima dan Bunga dikaruniai anak laki-laki, lalu Davina dan Awan sedang menanti anak kedua, kemudian Cakrawala yang akan menuju bahterah rumah tangga. Ia menjadi bagian menyaksikan bahagianya mereka.
Langit mengambil minuman sambil memperhatikan beberapa anak-anak berlari-lari di tengah area restaurant family dan kids-friendly milik ibunya Bunga. Acara tiup lilin ulang tahun anak Bima dan Bunga mengusung tema Superhero telah berlalu dua puluh menit lalu.
Langit memilih meja di sudut karena ia sendiri bujangan di antara para orang tua. Sahabatnya Bima memang mengundang kenalan yang sudah mempunyai anak. Ada juga sih kawan mereka seperti Sanjaya dan Rendy yang dapat hadir, tetapi dua teman Langit itu pada membawa pasangannya.
Mata Langit memandangi pemilik acara yaitu sobatnya sedang diekori seorang perempuan menghampirinya sambil membawa sepiring makan siang, salah satu menu dari tempat makan punya mertua Bima.
"Lang, kenalin sepupunya Bunga. Namanya Mawar."
Langit memperhatikan gadis manis dengan lesung pipi yang sama dengannya, rambut hitam legam tergerai, kulitnya kuning langsat. Langit sedikit melotot pada Bima yang memilih santai duduk di meja lain dan malah menyuruh sepupu Bunga duduk semeja bersamanya.
Bima tersenyum tipis. "Ini sahabatnya mas, kamu di sini aja dulu." Bima kemudian berganti kepada Langit. "Mawar kuliah di kampus kita dulu loh, calon lulus 3,5 tahun nih. Gacor, kan? Kalian saling kenalan aja sama-sama dateng sendiri kan."
Bicara apa tadi Bima? Langit tak mengerti mengapa memberi keterangan yang tidak begitu penting dalam memperkenalkan seseorang.
"Mawar."
Langit berlalu pada gadis di depannya. "Langit."
Sedikit canggung. Langit melirik sinis Bima yang langsung makan menikmati olahan daging. Apa-apaan manusia satu itu membiarkannya bersama mahasiswi, sepupunya Bunga lagi.
"Ngga makan mas? Itu mas Bima aja makan."
"Saya mah gampang, nanti aja." Langit menatap minuman yang Mawar bawa. "Ngomong-ngomong ambil jurusan apa?"
"Ekonomi."
"Ambil konsetransi apa?"
"Ekonomi industri."
Langit mengangguk singkat sebagai respon. "Lagi sibuk apa kok bisa sempetin main ke Jakarta?"
"Iya, lagi skripsian. Tapi karena dua bulan ini jadwal bimbingannya secara online jadi bisa ke Jakarta sebentar, biar ngga stress sama skripsi."
"Semoga lancar skripsiannya, calon lulusan 3,5 kan kata Bima."
"Terima kasih, mas."
Langit melipat tangan di atas meja memulai bahasan yang tiba-tiba ingin ia ketahui. "Gimana hadapin struggle buat lulus lebih cepat? Saya penasaran, soalnya saya termasuk mahasiswa yang agak ngaret lulus karena lebih banyak urus organisasi ini itu, bikin capek tapi udah terlanjur nyelem jadi anak Senat, jadi anak Himpunan."
"Kebayang sering rapat terus ya, mas?"
"Betul, pulang ke kost-an malam terus." Langit terkekeh mengingat masa-masa sibuknya. "Kalau kamu?"
"Kalau saya, capeknya juga ada banget sih. Karena setelah KKN langsung cari tempat magang, saya sebar puluhan lamaran syukurnya nyangkut di perusahaan distribusi. Kebetulan cocok sama konsentrasi yang saya ambil, jadi teh selama magang saya gunain kesempatan buat matrik penelitian biar bisa nyusun proposal skripsi, dan selesai magang saya bisa langsung seminar proposal. Terus sekarang saya lagi lanjutin penelitian saya."

KAMU SEDANG MEMBACA
Cerita Satu Minggu Jakarta
Teen FictionRomansa metropolitan// Langit tidak selalu menampakan cerahnya, terkadang langit memunculkan awan mendung menemani manusia penuh harap. Seperti Langit Sangkala, ia menunjukan kalau laki-laki tidak selalu kuat, sebagai laki-laki juga bisa rapuh, juga...